5 Fakta yang Berlawanan dengan Opini Orang #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge

Semua yang saya tulis di sini adalah murni tentang diri saya sendiri, bukan karya fiksi apalagi hoax yang banyak bertebaran di media sosial saat ini.

  1. Galak dan Jutek
    Percaya saya galak? Pasti nggak percaya, kan? Hehehe.... Tapi nyatanya, ada beberapa orang yang menganggap saya galak. Salah satunya, Pakdhe Dewo yang sering protes, “Ora galak-galak to.” Dalam kondisi tertentu, saya bisa (pura-pura) galak dan jutek. Dalam konteks komentar Pakdhe Dewo, karena dia sering banget jahilin saya, maka saya juga sering pasang muka galak dan jutek untuk “melindungi diri”. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa Timur, saya memang tidak akrab dengan unggah-ungguh ala putri keraton yang kalem dan bersuara lembut. Saya diajari sopan santun, meski tidak harus selembut putri keraton. 
     
    2. Fisik Lemah
    Just because I am skinny, doesn’t mean I am weak. Sejak kecil hingga sekarang, saya memang tidak pernah gemuk. Ikut gen Bapak sepertinya, karena Ibu saya gemuk. Krempeng, cungkring, keceng, sudah dilekatkan pada diri saya sejak kecil. Parahnya, saya juga sering dianggap lemah karena kurus. Padahal, saya terbiasa mengangkat galon sendiri dari warung depan ke kamar saya di belakang yang jaraknya lumayan.
    Dulu, waktu ibu kos pertama kali melihat saya mau mengangkat galon, dia menegur, “Mbak, nunggu Bapak atau Mas Ferdi atau Mas Budi aja, biar diangkatin.”
    “Nggak usah, Bu. Saya kuat, kok.”
    Lama-lama, ibu kos percaya dan tidak pernah menegur lagi kalau saya mengangkat galon sendiri. Tapi, justru tukang bangunan yang beberapa waktu lalu bekerja di sini, menegur atau tepatnya heran melihat saya.
    “Mbak, kuat po? Ndak patah tulang lo ngangkat galon dewe.”
    Saya nggak jawab apa-apa, cuma senyum, langsung mengangkat galon dari warung ibu. 
    “Wah... roso tenan mbak e iki,” kata pak tukang lagi.
    Makanya jangan remehin orang kurus, saya ngomel dalam hati.
     Masih tentang kekuatan fisik, waktu mendaki Merbabu tahun 2015 lalu, saya menggendong keril 60 liter berisi logistik dan perlengkapan lain. Tentu saja saya bawa sendiri, tanpa porter apalagi merepotkan teman seperjalanan. Pegal memang iya, tapi saya baik-baik saja. Pulang dari Merbabu, jam 9 malam saya sampai kos, mandi, shalat, langsung tidur. Besoknya langsung berangkat kerja. Capek? Sudah hilang terbawa mimpi semalam.
     
    3. Herbalis
    “Mbak, aku kalo mens sering sakit, minum apa, ya?” *air kelapa diperam 7 hari 7 malam 
    “Aku batuk terus dari kemarin, apa obatnya?” *biji kedondong 
    “Mbak, cokelat itu bisa ngobatin stres, ya? *makan cokelat sekarung pun, kalau masalahmu dibiarin aja ya tetep bikin stres
    Dulu sering banget ada yang nanya semacam itu. Sekarang juga, sih, tapi nggak sebanyak dulu. Saya memang suka meng-upload aneka jus, salad, wedang rempah, dan suket-suketan lainnya, but just because I am a herbivore doesn’t mean I am a herbalist. Dulu lagi, ada yang nanya obat apa gitu, saya lupa. Waktu saya bilang nggak tahu, si penanya malah protes, “Kok nggak tahu, sih, kan kamu sarjana.” Woii... ini lo, ijazahku sarjana theologi Islam, apa mau saya jawab begini, “Sakitmu mungkin bukan karena kurang vitamin dan mineral, tapi karena kurang mengingat Tuhan.” *dikeplak

4. Pilih-Pilih
Sebagai single di usia yang menurut pandangan masyarakat sudah pas untuk menikah, saya sering dinilai “pilih-pilih”. Mau nyari yang kayak gimana? Jangan terlalu pilih-pilih. Turunkan standarmu. Dulu, saya akan menjawab begini, “Kalau aku sudah pernah memilih, dan ternyata Tuhan menunjukkan kalau pilihanku nggak baik, apa aku harus protes kepada Tuhan?” Atau jawaban lain, “Jangan bilang aku pilih-pilih kalau kamu nggak ada saat aku menangis.” Tapi sekarang, saya akan “membenarkan” judgement mereka dengan perkataan, “Iya, dong, pilih-pilih, masa dibuat seumur hidup nggak milih. Lha kamu, beli sandal jepit yang kamu pakai nginjek tai kucing aja masih milih, apalagi buat teman hidup.” Jawaban lain,”Ya iya, lah harus pilih-pilih karena nggak semua yang datang itu pasti baik.”
Contoh: nunggu pagi di stasiun, ngobrol sama cowok cakep, kenalan, tukeran kontak, BBM-an, 2 minggu kemudian ngajakin selingkuh. “Yang penting kita sama-sama suka. Pacarku nggak bakalan tahu.” What? Kita? 
Contoh lain: cowok pdkt, ngirim chat jam 11 malam.
“Hai, lagi ngapain?”
“Mau tidur.”
“Oh... aku temenin, ya.”
Nemenin tidur? Fix! Cowok mesum.
Contoh lagi:
“Are you still virgin? Have you watched porn movie? Do you like sexting?”
Fix! Cowok lebih mesum.

5. Selalu Percaya Diri
Jujur sih, saya memang pernah memenangkan beberapa lomba dan meraih penghargaan. Itulah mungkin yang membuat orang beranggapan bahwa saya selalu percaya diri. Tapi, bukankah di atas langit selalu ada langit? Andai kalian tahu, sehabis blogwalking ke blog para blogger keren itu atau orang-orang hebat lainnya, saya semakin merasa recehan 500-an di antara lembar 100 ribuan. Bahkan kadang untuk berkomentar saja saya harus berpikir berulang kali, takut dikira SKSD, soalnya saya masih anak kemarin sore. Gaptek pula! Seriously! Kalau sudah begitu, rasanya saya pengen sembunyi di dalam goa bareng mamaknya Tiwi. Tapi di goa kan nggak ada selada dan buah naga. Akhirnya saya urung bertapa. Saya cukup tahu diri, tapi tidak akan berhenti. Semangattt!!!

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Qurotul Ayun’s story.