Auman Perasaan yang Tercurah dari “Lion”

Saroo daily-journal.com

Apa yang akan Anda lakukan ketika tersesat di sebuah lingkungan yang sama sekali asing untuk Anda? Mungkin kini mudah untuk mencari tahu di mana Anda berada. Tinggal pakai gawai dan tentukan letak lokasi Anda pada peta virtual. Namun, bagaimana jika itu terjadi sekitar 30 tahun sebelum hari ini? Oh, agar lebih dramatis, bagaimana jika Anda tersesat saat usia Anda 5 tahun?

Beberapa waktu terakhir saya tidak begitu peduli dengan film. Bahkan saya tidak peduli dengan pagelaran akbar film tahunan Oscars yang notabene menjadi standar dari perkembangan film dunia. Saya yang biasa datang ke bioskop beberapa kali sebulan, bulan lalu hampir tidak sama sekali. Entahlah. Sampai pada dua hari lalu seorang rekan kerja mengajak saya tanpa rencana untuk menonton film selepas jam kantor. Saya mengiyakan dan pasrah dengan pilihan film yang dipilihnya. Saat itulah saya mendengar kata “Lion”.

Pertama yang terlintas dalam pikiran adalah film animasi anak-anak seperti “The Jungle Book” atau “The Lion King”. Setelah menelusurinya, ternyata saya salah kaprah. Apalagi setelah menontonnya. Saya sampai menangis beberapa kali. Bahkan akhirnya saya mengeluarkan tisu dari ransel (ya, saya selalu membawa tisu di ransel) dan mengusapkan mata yang basah. Rekan saya pun mengejek akan hal itu. Tapi, siapa peduli? Saya melihat lagi daftar nominasi Oscars tahun ini dan menemukan “Lion” berjejer di kategori Best Pictures dan beberapa kategori bergengsi lain. Sayangnya, film itu tidak menang.

Masa bodohlah. Siapa peduli penghargaan kalau Anda bisa menghargainya secara personal. Saya kemudian membayangkan diri saya menjadi Saroo (tokoh utama pada film ini). Bertanya-tanya bagaimana kalau saya mendapatkan nasib yang sama dengannya. Di awal, saya bertanya-tanya, apakah saya akan tetap berada di tempat penampungan anak-anak? Di akhir, saya bertanya-tanya, apakah saya bakal mencari lagi sosok yang hilang selama saya hidup? Potongan-potongan kehidupan yang sedang saya pertanyakan menuju Quarter Life Crisis.

Saya ingin mengatakan bahwa melalui film ini saya bisa kembali merasa. Merasa bahwa saya (mungkin) dicintai. Merasa bahwa saya (mungkin) ditunggu-tunggu untuk hadir di kehidupan orang-orang yang mencintaiku. Saya masih ingat keluar studio dengan masih sesenggukkan. Tangis tertahan yang sangat ingin dikeluarkan namun sebenarnya tidak perlu karena, yah, itu hanya untuk di dalam saja. Saya bahkan menuliskan ini sembari menitikkan air mata.

Anda akan heran kenapa saya begitu banyak menangis. Yah, kenapa? Apakah laki-laki tak boleh menangis?

Sangkalan: Tulisan ini pertama kali dipos di akun Facebook saya dan ditulis di sini dengan beberapa perubahan.

(Ditulis pertama kali pada 2 Maret 2017)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Abduraafi Andrian’s story.