Sebuah Permulaan Cermin Peradaban, Mengarifi Kota sebagai Organisme yang Berevolusi.
Pernahkah kita sedang berkaca sebagai manusia memirip-miripkan dan mengandaikan menjadi sesuatu atau sesorang? selain ada kompleksitas akal dan rasa yang meletup-letup di jiwa, juga terdapat inti organisme di badan kita, manusia. Organisme tersusun dari patikel terkecil sampai terbesar yang dikenal sebagai anatomi. Ia memiliki fungsi tertentu yang dikenal dengan istilah fisiologis. kemudian masih ada kejutan mengenai kehidupan kecil tersembunyi bernama mikrobilogi yang saling hidup menghidupkan dengan alatnya mikroseluler seiring dengan keberlanjutan kehidupannya dalam lingkup biologimolekuler. hal ini menimbulkan warna identitas yang akrab disapa dengan genetika. Keseluruhan ini bekerja dalam suatu ekosistem tubuh kita.
Keindahan terletak pada detailnya, pada kasus ini melihat manusia sebagai organisme adalah keindahan. melihat keindahan memang selalu membuat haus, maka bentuk syukur yang mencerahkan ketika dapat menganologikan organisme pada suatu perkotaan dan mengarifinya.
Sama halnya dengan manusia, kota mempunyai kompleksitas organisme didalamnya dengan Bahasa anatomi, fisiologis, mikrobiologis, mikroselular, biologi molekuler dan genetika tersendiri. Melihat kejadian yang terus berlalu lalang pagi dan malam hari dikota, pastinya ia mempunyai elemen terpenting atau anaotomi untuk membentuknya. menurut hamid shirvani elemen pembentuk kota yakni tata guna lahan (land use), bentuk dan massa bangunan (building form and massing), sirkulasi dan parkir, ruang terbuka, area pedestarian, signage, pendukung kegiatan dan konservasi. Masing-masing anatomi kota tersebut mempunyai fungsi fisiologis dalam pembentukan kota.
1. Tataguna lahan berfungsi sebagai implementasi dan terapan dari fungsi dari karakter pengelompokan zona yang menjamin kenyamanan dan keamanan.
2. Bentuk dan massa bangunan sangat memengaruhi tatanan pembentuk citra visual kota
3. Sirkulasi dan parkir berfungsi sebagai salah satu alat yang paling kuat untuk menstrukturkan pola tatanan kota sehingga dapat membentuk serta mengontrol kegiatan yang ada didalam kota
4. Ruang terbuka mempunyai kedudukan inti dalam perkembangan perkotaan. Berfungsi dalam aspek ekologi dimana mengatur udara dan cahaya terhadap keseimbangan biologis di kota kemudian aspek sosial dimana ia mampu memberikan kesan perspektif pada “pemandangan kota”. hal tersebut menyebabkan keberlanjutan di kota dalam pembentukan cadangan area pengembangan kota nantinya.
5. Area pedestarian punya nilai tersendiri dalam kenyamanan kota. bagaimana tidak, ia menjangkau sudut pandang kita tentang kehidupan yang berbeda. Keseimbangan interaksi, mengurangi kepadatan kota hingga mempunyai pola efektifitas untuk aksesibilitas. Selain itu ia menjadi ruang-ruang pendukung aktivitas seperti komersial toko bunga, pkl, cafe hingga menjadi tempat “perhiasan kota”.
6. Signage berfungsi secara fisik dapat menginformasikan sesuatu pesan tertentu kepada masyarakat kota yang terang, lugas dan sangat mudah dibaca.
7. Pendukung kegiatan berfungsi sebagai perantara menggerakkan kegiatan masyarakat untuk pengembangan atau penonjolan karakter dan ciri khusus di suatu kota dengan intensitas keragaman kegiatan masyarakat didalamnya, seperti misal yang beken dikenal dengan carfreeday.
8. Konservasi mempunyai fungsi sebagai perlindungan suatu tempat tinggal yang ada di kota sehingga menimbulkan peningkatan nilai lahan, lingkungan sampai menjaga identitas kawasan yang dapat meningkatkan pendapatan pajak dan retribusi.
Makhluk yang ada didalam perkotaan saling berinteraksi dan menimbulkan dampak akibat keterkaitan hal-hal yang disebutkan diatas saling mengekspresikan fungsinya dan berproses. Sehingga terdapat bilik kehidupan di kota yang terus berdampingan, bernafas, bergerak, tumbuh, beradaptasi, berkembangbiak dan berlanjut. proses ini mengartikan betapa esensialnya lingkungan yang bergantung pada sumber daya, asupan energi dan rekayasa manusianya untuk saling bertahan dan terus berevolusi. hal ini menjadi bukti bahwa kota tidak pernah lepas dengan arsitektur lingkungan binaan yang memiliki sisi keberlanjutan dan jalan hidup evolutif.
saya mencoba menggunakan analogi organisme manusia yang berevolusi dengan proses transformasi kota dan bagaimana manusia dan kota menjadi sangat intim hubungannya. sekiranya begini..
Organisme dalam manusia terus menggeliat melakuakan suatu pencarian menyelami dirinya. Tidak bermaksud terlalu jauh untuk mengulas titik temu antar narasi darwinisme dan penciptaan adam. Evolusi erat dengan kemanusiaan, berevolusi adalah ketika “manusia mencapai kemanusiaannya dengan bahasa”. penguasaan bahasa ini membantu manusia berfikir secara komprehensif karena menjembatani untuk menerjemahkan apa yang difikirkan, menganalisa, memformulasikan ide dalam benak kemudian menjadi pemahaman kompleksitas pola fikir manusia dengan stimulus ide dan pengalaman yang faktual. kemudian ia menjadi pembentukan identitas manusia dan mempertegas karakter kemanusiaan kita. Sederhananya, manusia adalah binatang. Ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang terus digeluti dalam diri manusia dan ketika manusia memenangkan ilmu pengetahuannya maka akalnya mampu menanggalkan kebinatangannya. Inilah yang dimaksud dengan konsep berevolusi.
Dari sini kita sama-sama tecerahkan tentang bukankah ‘proses’ adalah motor penggerak evolusi. Begitupun pada kota yang ekosistemnya berevolusi ketika tercapainya kondisi transformasi pengetahuan atau kesiapan tools terhadap kemenangan interaksi antar pemerintah sebagai kolaborator dan masyarakat sebagai co-creator dalam mengindentifikasi permasalahan secara rigid untuk pengembangan karakter kota yang solutif. waktu tidak pernah berhianat pada kemajuan manusia dan wilayahnya secara umum namun permasalalahan tidak bisa diselesaikan sendirian. kemajuan kini bukan hanya ditandai dengan teknologi namun serentaknya para manusia yang mempunyai antusisme tinggi memacu masing-masing sikap berdaya-unggulnya.
sama halnya dengan perubahan yang dialami kota adalah suatu keniscayaan. ‘bahasa’ atau tools dalam perkembangan perkotaan di era 4.0 dan pergerakan yang berdampingan dengan timbulnya masalah terus berlanjut, evolusi kota kini bukan lagi sekedar tatanan fisik monumen ataupun simbol melainkan pentingnya memainkan peran interaksi antar manusia yang heterogenetic dikota. sehingga melahirkan inovasi yang tepat guna untuk suatu fenomena permasalahan dan kondisi rasionalnya di kota. Teori perencanaan ini lahir secara intrinsik dan medalam untuk sebuah evolusi karena mencegah tradisi pengadaan kesementaraan atau labilnya ruang pada perkembangan urban yang cenderung praktis pertumbuhannya namum cacat secara partisipatorik, kolaborasi dan perkembangan karakter kota seiring pergerakan infrastruktur dan teknologi yang begitu cepat dan adaptif.
Apa yang akan ditanam dalam ruang gerak organisme akan menumbuhkan citra manusia. begitu pula dengan kota, apapun yang berkelindan di dalam perkembangannya maka akan membentuk wajah kota dan entitas spasialnya. Maka akan sangat diperlukan faktor untuk mewujudkan keberlanjutan lingkungan binaan kota dengan mengatur kepadatan populasi manusia dan penyesuaian moralitas dalam mobilitasnya. Dengan demikian saya berusaha memaparkan keyakinan tentang kota yang arif, menggema akan keterbukaannya terhadap kebebasan individu manusia, keadilan ekosistem serta diantara bait-bait kehidupan kecil lain yang membersamainya secara berkelanjutan. (11/6/2019)
sumber bacaan : sapiens by yuval noah harari, alif.id, transformasi kota IPLBI, perancangan kota hamid shirvani.
