Tak perlu mengharapkan balasan apapun. Cukup jatuh cinta saja, lalu memanjatkan doa dan memandanginya diam-diam saja
Aku pernah. Jatuh cintaku pertama kali pada dia. Ah, bukan wanita. Aku jatuh cinta pada satu benda. Sebuah gitar tua yang suaranya cempreng, mirip pita suaraku. Yang jika dibunyikan musisi paling tersohor sekalipun, tak akan menolong apapun.
Gitar tua itu mengajarkanku jatuh cinta untuk pertama kalinya,
Aku pikir dulu aku hanya terobsesi saja. Ah, tapi masa bodohlah obsesi atau jatuh cinta. Karena sampai sekarangpun aku tak bisa membedakan keduanya.
Semula berawal dari ujian seni musik, yang mengharuskanku bisa memainkan minimal satu alat musik. Seumur-umur aku tak pernah memainkan alat musik apapun, menyanyi saja aku fals, apalagi bermain alat musik. Jauh dari impianku yang selama ini ingin menjadi dosen saja.
Maka gitar itupun menjadi jalan keluar satu-satunya, atas ketidakpiwaianku mengolah nada.
“ah biar saja, aku cuma perlu angka 6 untuk lulus” pikirku waktu itu.
Aku berlatih tiap hari sampai ujian itupun tiba. Dan aku perlahan lahan aku mulai mencintainya, sampai hari ini
Aku percaya, bahwa pemimpin tak pernah menjadi suatu bakat. Pemimpin itu dilatih, bukan barang bawaan DNA atau prototype mikroskopis kromosom yang diwariskan pahlawan pahlawan Sparta.
Pemimpin juga bukan posisi yang bila diganti kharismanya berkurang. Pemimpin juga bukan pemberani, yang nekat melakukan segala upaya untuk menang. Terkdang mungkin pemimpin bukan seorang pemenang.
Lalu siapakah pemimpin? aku juga tak tahu.
Yang aku tahu, pemimpin adalah jiwa dari sebuah visi yang dipercaya untuk diikuti.
Dari awalnya coba coba dan berakhir jatuh cinta, lalu berlanjut dengan cinta buta. Aku mulai mendalami gitar. setiap hari aku memainkannya seperti orang kesetanan. menjadi ahli? oh sangkaanmu terlalu hebat sobat. Aku hanya bisa memainkan melodi patah hati atau lagu kasmaran pop yang terkenal pada jamannya. Itu saja aku sudah merasa kerennya minta ampun.
sampai suatu ketika aku berdoa dan menulis bucketlist pada kertas tak bernama.
Aku ingin rekaman laguku sendiri
“jadi bagaimana?” kataku membuyarkan lamunanku sendiri.
Beberapa orang yang mengelilingku mengatakan oke. Menyisihkan tabungan mereka untuk mengikuti ide gilaku, rekaman musik.
Tak mudah menemukan kru band yang bisa aku sisipi ide gila, “ayo kita rekaman sekali saja seumur hidup”.
Ketika semua sepakat, aku sadar mau tidak mau aku akan menjadi pemimpin kelompok ini. Menciptakan lagu, berlatih lalu memulai rekaman. Rekaman sekali saja seumur hidup.
Menjadi pemimpin untuk dirimu sendiri, itu bisa saja. Tapi menjadi pemimpin untuk orang lain yang percaya visimu, itu pekerjaan berat.
Sedari dulu aku sangat percaya hal ini,
mengendalikan orang hanya bisa dilakukan dengan 3 cara saja, yaitu dengan uang, kekuasaan dan visi yang sama. Dua yang pertama bisa kau lakukan dengan mudah, tapi tidak untuk cara yang ketiga.
membangun visi? Memangnya aku bisa? aku bahkan tak mampu menjawab pertanyaanku sendiri. Tapi jika mereka sudah percaya, apa boleh buat.
Toh hanya rekaman kali ini saja, sekali saja dan daftarku tercoret sudah.
Membangun visi, mengorganisasi, mensugesti, mendelegasi
ah, kata kata motivator itu terlalu muluk buatku. Aku tak pernah tahu bagaimana caranya memimpin , yang pasti impianku harus terwujud dan ini juga bagian dari impian mereka juga.
mungkin benar kata orang, impian dan cinta bisa membuat logikamu buta. mengabaikan rasa takutmu dan terus berjalan
Ketika semua berakhir, aku bisa melihat senyuaman mereka satu per satu. Kita berhasil. hasilnya memuaskan. Kita melakukan pekerjaan sekali seumur hidup.
Pada akhirnya aku bisa mencoret bucketlist ku.
ah,terlalu jauh untuk menyimpulkan. yang pasti visi yang sama tak mudah diwujudkan. Tapi semua akan lebih mudah ketika kita jatuh cinta pada impian kita.
Email me when Chara Perdana publishes or recommends stories