
kamu ingin merelakan? menulis saja lagi
Saranmu yang terakhir itu sulit kupenuhi. Menulis bagian dari hidupku, namun menulis tentang kamu persoalan lain. Aku bagai menulis bayang bayang memakai tinta hitam. semakin lama semakin pekat. Apa itu yang disebut merelakan?
Bukannya kita sudah sepakat? bahwa kita memilih jalan?
Secara matematis iya, kita adalah kurva logaritma, yang enggan menuju ke titik temu yang sempurna. sejalan tapi terpisahkan. Ah, aku benci bahwa otak dan realitaku sedemikian solidnya hingga hatiku tak punya ruang untuk berdalih,apalagi mengambil alih
Ah, otakmu itu isinya rumus matematika semua
dulu iya, sekarang ada hanya ada kamu dan logika di dalamnya
Lalu dulu aku dimana?
di hati, ruang sepi yang beresonansi. Ruang yang terbungkam, yang tertarik oleh gravitasi hingga tenggelam. Lalu kamu pindah bagian, ke otak. Si sombong yang penuh perhitungan itu menyanderamu, menyegel penjaramu dengan kunci baku. hingga aku tak tahu, siapa lagi yang mampu menyelamatkanmu.
Kalau begitu menulis saja, berkali kali, hingga lega perlahan menghampiri
_Pena_
Ketika malam, namun mata enggan terpejam
