
Kopi di depanku kian dingin,penuh tak tersentuh. Namun hangatnya terasa di sorot mata kami berdua
Kami bercerita seakan waktu memang fana adanya dan kami kekal didalamnya. Aku mengutuk rindu yang diam diam merayapi tubuhku. hangat, lekat
“….cinta itu mainan setan” kataku
“ah siapa bilang?” katanya sambil menyeruput kopi.
topik kedua setelah perdebatan rasi bintang ke 13 mengemuka. dia percaya zodiak. aku percaya MBTI. kami berdua sama sama dibodohi. yang satu di bodohi filsuf yunani yang satu dibodohi riset psudopsikologi. cocok bukan?
“ ..bukan mainan setan. Mainan kapitalis”
alisku terangkat
“Cinta komoditi terbesar dunia. lagu sedih, roman picisan, film hollywood. Semua mengagungkan cinta yang berlarat larat itu. Industri hidup kuat dari sana dan berakar didalamnya. Kita makan dari sana.”
“…lalu kenyataan berbeda ya?”
“sayangnya,iya” lanjutnya
“ yang perempuan jual mahal, yang laki laki tak tahu diri”
“masuk akal” kataku
“kapan aku nggak pernah masuk akal?”
“waktu kamu ngomong, scorpio biasanya pendendam”
kami tertawa bersama,
saat itu juga waktu mulai meragu melaju. sorot mata kita bertemu dan hati kita membuncah satu per satu.
Ah, disana harusnya kita berada, di kedai kopi, sore hari, ketika senja temaram menyinari.
Di semesta yang lainnya, aku mengutuk sepi dan menulis rindu dari sini
_pena_
ketika puisi tak lagi berfungsi
