Suatu Sore di Kedai Kopi

[Pena & Daun Senja]

Chara Perdana
Aug 29, 2017 · 1 min read

Kopi di depanku kian dingin,penuh tak tersentuh. Namun hangatnya terasa di sorot mata kami berdua

Kami bercerita seakan waktu memang fana adanya dan kami kekal didalamnya. Aku mengutuk rindu yang diam diam merayapi tubuhku. hangat, lekat

“….cinta itu mainan setan” kataku

“ah siapa bilang?” katanya sambil menyeruput kopi.

topik kedua setelah perdebatan rasi bintang ke 13 mengemuka. dia percaya zodiak. aku percaya MBTI. kami berdua sama sama dibodohi. yang satu di bodohi filsuf yunani yang satu dibodohi riset psudopsikologi. cocok bukan?

“ ..bukan mainan setan. Mainan kapitalis”

alisku terangkat

“Cinta komoditi terbesar dunia. lagu sedih, roman picisan, film hollywood. Semua mengagungkan cinta yang berlarat larat itu. Industri hidup kuat dari sana dan berakar didalamnya. Kita makan dari sana.”

“…lalu kenyataan berbeda ya?”

“sayangnya,iya” lanjutnya

“ yang perempuan jual mahal, yang laki laki tak tahu diri”

“masuk akal” kataku

“kapan aku nggak pernah masuk akal?”

“waktu kamu ngomong, scorpio biasanya pendendam”

kami tertawa bersama,

saat itu juga waktu mulai meragu melaju. sorot mata kita bertemu dan hati kita membuncah satu per satu.

Ah, disana harusnya kita berada, di kedai kopi, sore hari, ketika senja temaram menyinari.

Di semesta yang lainnya, aku mengutuk sepi dan menulis rindu dari sini

_pena_

ketika puisi tak lagi berfungsi

)
    Chara Perdana
    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade