Surat Cinta untuk Teman Sewindu

Teman Sewindu,

Aku masih ingat ketika sewindu yang lalu, kita bertaruh dengan semesta, mengingat cinta kita yang terlalu mustahil untuk diperjuangkan. Sewindu yang lalu ketika hanya doa dan Tuhan yang kita punya. seakan langkah menjadi berat dan seakan takdir menyudahi untuk tersurat.

Namun genggaman tanganmu tetap lekat, napasmu masih panjang bertahan. dan menyerah bukanlah satu pilihan.

Ah, dimana lagi kutemukan lelaki seteguh dirimu. yang mencintaiku dengan tulus, tanpa pernah pupus. lelaki yang menggambar duniaku dengan penuh warna warni, melebihi pelangi yang paling abadi.

Terima kasih,

Kata apalagi yang tepat untuk menggambarkanmu, pria penyabar yang selalu mendampingiku di waktu yang hampir mustahil, di perkara perkara ganjil yang menuntut otakku berhenti berpikir.

Kebodohan yang menuntunku kepadamu, menuntunku pada lelaki yang memiliki keikhlasan, tanpa batas. kau adalah lelaki yang cukup aku kenal sekali, yang menyelamatkanku beribu kali.

Terima kasih, atas pertaruhanmu dengan Tuhan, yang membawa cinta kita tetap tegar melawan semesta. terima kasih telah menemaniku dengan doa doa yang panjang dan diskusi tengah malam.

Teman lelakiku, terima kasih telah menjadi teman berbagi, menopangku dalam gundah, melewati masa masa yang tak mudah. Cinta kita adalah pejuang militan, yang tetap berjuang walau luka menganga meradang. Cinta kita adalah embun nirwana, yang enggan disuap dengan dunia fana.

kata kedua yang bisa kuucapkan adalah maaf.

Maaf, untuk segala ketidaksempurnaan. sebagai ibu, sebagai istri dan sebagai teman.maafkan atas ketidaksabaranku, emosi yang tak tentu dan ego yang menggebu gebu.maafkan atas ketidaktahuanku, karena belajar adalah tempat bernaungku tiap lini waktu.

maka lelakiku yang penyabar, biarlah ku peluk dalam dirimu, atas keikhlasan penerimaanmu, tentang segala kesalahan. Biarlah semua kubayar tunai dengan doa dan ampunan.

maka, haraplah yang bisa aku pinta. tetaplah menjadi demikian adanya dan tetaplah tumbuh mengarungi masa. semoga waktu menjadi fana dan kita tetap kekal tanpanya.

kau lelakiku, suami dan ayah bagi anak anakku.teman bermainku.

teman minum kopi, teman bermain catur dini hari, teman bercerita sampai pagi, teman berdiskusi, teman beradu argumentasi

teman belajar, teman yang paling sabar, teman yang teramat tegar.

Ah temanku, andai aku bisa mengucapkan lebih dari syukur, tentu tak akan aku biarkan waktu terulur. kudiamkan sejenak, kusimpan rapat rapat dalam kotak. Lalu biarkan aku berdoa, semoga kita dapat melampaui masa dengan bahagia

sewindu untuk selamanya