Aku geram bukan kepalang. berkali kali dua dadu yang terserak di papan permainan menunjukkan angka yang tidak bersahabat.

“semesta pasti sedang berkonspirasi“ batinku
Berkali-kali aku mengadu dadu, berkali-kali pula aku tidak lolos dari jebakan maut petak kecil bertuliskan lamat lamat “start”. Maka 2000 dolar pun tidak aku dapatkan. Temanku yang lain cekikikan atas cashflowku yang mogok dan laporan keuanganku yang mulai memerah.
Bermain monopoli, adalah bagian masa kecil yang ditengarai sebagai pembentuk mental ekonomi kapitalis paling dini. Tapi siapa peduli? uang-uang kertas palsu itu toh tidak membuat kita kaya secara riil, bagi kami, hal itu lebih tepatnya sebagai alat pengolok-olok teman lain yang lebih “miskin” daripada yang lain.
Lihat kan? Sungguh strata materialistis itu sudah mengakar dalam keseharian kanak-kanak kita.
Tapi bukan itu yang mau aku bahas. Ini lebih menyangkut hal lain. Aku sudah memiliki 3 kartu petak bidang berwarna putih, sebagai tempat persinggahan alat transportasi. Stasiun london, Terminal Lebak Bulus, dan Port Rotterdam. tinggal satu yang belum aku beli, Bandara Changi Singapura. Aku hanya bisa “mengakuisisi” bandara Changi jika aku bisa melewati “start” dan bidakku tepat berada di petak Bandara Changi.
apa boleh buat, daduku pemalas.
“udah beli yang lain saja” kata Mega, teman masa kecilku.
“kepalang tanggung” kataku bersungut-sungut. Lagi pula uang di tanganku sudah menipis untuk bayar sewa sana sini, “masuk penjara” atau di denda karena salah ambil kartu “kesempatan”.
beli yang lain? uang dari mana? Ngutang bank lagi? ah konsumtif sekali kehidupanku, terjerat kredit bank yang bunganya nambah setiap sekali putaran.
Hari itu aku berhasil bankrut dengan sempurna,sambil mengutuk Bandara Changi yang tak berhasil aku beli. Apakah sangat susah untuk mendapatkan angka dadu yang pas, sehingga aku tepat singgah di Bandara Changi lalu membelinya? sehingga mutlak aku bisa mengkoleksi 4 kartu berwarna sama.
Tuhan sungguh tak adil, bidak monopoli saja tak diizinkanNya singgah di Changi
Ah aku tak tahu, kalau hari itu, titik perjalananku baru saja dimulai.
Apa menariknya Mozaik? potongan potongan chaos itu memang tak pernah menarik jika kita melihatnya sebagai makhluk mikroskopis saja. Tapi jika kita melihatnya secara makro, Seni itu demikian indahnya, diletakkan satu per satu, di rekatkan tak beraturan lalu terbentuk gambar makro menakjubkan.
Guadi, Maestro berbakat itu mungkin tak pernah tahu bahwa filosofi hidup diatur demikian,
Kita hanya meletakkan serpihan tak beraturan, dan semoga kita dapat melihat gambar utuh dari perjalanan
Beberapa tahun yang lalu, seorang DO universitas di persilakan untuk memberi pidato kelulusan di Universitas Stanford, namanya Steve Jobs. Ironis sekali, dia memberikan sambutan wisuda yang bahkan dia sendiri tak lulus kuliah.
Paradoks memang bisa berlaku di semesta kita
Dia berpidato mengenai Connecting The Dots, sebuah filosofi hidup tentang menghubungkan titik titik yang nampaknya tidak masuk akal. Jobs, yang saat itu tertarik pada seni Kaligrafi, tidak pernah sekalipun memikirkan bahwa seni tersebut memberinya kesuksesan pada Tipografi Macintosh. ilmu yang dia pelajari itu memberikan dampak yang signifikan bagi keindahan bentuk huruf & tentu saja pendapatan perusahaan Apple.
Hal yang nampaknya sepele, bisa saja berdampak besar pada kehidupan kita selanjutnya
Sore itu awan gelap, aku berharap cuaca tidak bertambah buruk. Di tepi jendela aku masih tercenung, mengingat permainan monopoliku berpuluh puluh tahun yang lalu. lampu penerangan mulai padam, di sisiku yang lain seorang bapak tua, duduk asyik membaca majalahnya.
aku menghela napas panjang, pengeras suara mengumumkan pendaratan. Sabuk pengaman mulai dikencangkan kembali, goncangan halus mulai terjadi.
maka inilah batas kesimpulanku,
Mungkin kita lupa, Tuhan terlalu sayang dengan kita.
“Kamu nggak punya barang di bagasi kan, Char?” tanya seniorku.
“nggak pak” jawabku singkat sambil memandang berkeliling.
Aku dan seniorku, hari itu sedang bussiness trip. Training beberapa hari saja.Dari beberapa kandidat, entah mengapa si boss memilih aku.
Aku sudah landing, tepat satu jam dari Bandara Soekarno Hatta. Aku menikmati dengan takjub, kepingan mozaik yang aku lihat mikroskopis, titik takdir yang tak pernah aku pikirkan sama sekali, dadu kini bergulir, penjebak keberuntungan dulu menunjukkan angkanya, dan aku mulai menghitung.
Kini semua terhampar di hadapanku.
Bandara yang dulu susah payah aku taklukkan. Petak terakhir permainan monopoli yang tak bisa aku tuntaskan. Bidakku yang kurang ajar,yang tak pernah sekalipun singgah di kotak itu.
Hari ini, Tuhan merencanakan lain.
Aku dengan takjubnya, menginjakkan kakiku sendiri di bandara Changi. Doaku terjawab sudah. Bukan bidakku yang harus berada tepat di petak Changi, melainkan diriku sendiri.
Titik-titik itu terhubungkan sudah, mozaik itu mulai terlihat nyata berbentuk. Kepingan-kepingan itu bukan lagi seonggok sampah tak berguna.
Ah, Cara kerja Tuhan, siapa yang tahu?
“Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards” Steve Jobs
Email me when Chara Perdana publishes or recommends stories