Tegar

“Mulai sekarang, anggap kita tidak pernah saling mengenal.”
Bagaimana aku harus membalasnya? Apa yang harus aku jawab?

Isi pesan pesan terakhirmu ini terlalu sulit untuk kuterima. Seketika mataku berkaca-kaca. Tulisan yang nampak dari layar ponselku sudah tidak dapat kulihat dengan jelas. Dadaku terasa sesak dan berat. Tangisku pecah malam itu juga.

Kau memang orang yang paling mudah mengambil keputusan. Apa yang keluar dari mulutmu selalu bisa membuatku sedih. Tidak mudah bagiku mengaggap kita tidak pernah saling mengenal. Karena untuk melupakanmu saja itu tidak akan mungkin.

Kau boleh saja benci padaku. Lakukan sesuka hatimu. Tapi jangan pernah minta aku untuk melupakanmu, apalagi menganggap kau tidak pernah ada di hidupku. Kau adalah ingatan yang terlalu penting untuk aku lupakan. Apalagi harus berpura-pura tidak pernah mengenalmu. itu hal terkonyol yang pernah kudengar.

Aku sudah menerima ganjaran atas semua kesalahanku. Tuhan sudah menghukumku. Aku telah kehilangan apa yang kuanggap berarti bagiku. Dirimu.

Kupahami, ternyata memang benar, cinta tak harus saling memiliki. Yang terpenting adalah kita tahu bahwa cinta itu masih ada di dalam hati kita masing-masing, meskipun kita tak lagi bersama. Jika suatu saat nanti pun hati kita sudah dimiliki oleh orang lain, setidaknya kita pernah saling memilikinya.

Hari demi hari kucoba jalani dengan sekuat hati, untuk menerima kenyataan jika kau bukan milikku lagi. Alasan mengapa kita harus berpisah yang akhirnya kau katakan padaku, telah kuterima dengan lapang dada. Meski awalanya sangat sulit kupercaya jika kita benar-benar akan berpisah.

Aku mengerti betapa berat beban yang harus kau lalui untuk berkata jujur padaku. Karena aku juga akan melalukan hal yang sama sepertimu jika aku berada pada posisimu waktu itu. Aku tahu kenapa kau menutupinya dariku. Bukan hanya karena kau tak kuasa mengatakannya padaku. Namun, aku tahu alasan yang lebih dari itu.

Sebelum kau jujur padaku kalau kita harus berakhir, aku paham, alasan mengapa kau menutupi semua itu dariku. Kau ingin membuatku tenang dan merasa bahwa semuanya baik-baik saja. Hubungan kita akan tetap berjalan seperti biasa. Tapi apa kau tau bagaimana perasaanku? Dan apa dampak yang ditumbulakan dari semua itu? Aku terpukul.

Beberapa hari kau coba tetap bersamaku. Mengabariku setiap hari, memberiku perhatian setiap saat, dan menjalani hubungan seperti biasanya. Tapi kenapa harus berpura-pura melakukan semua itu, kalau kau tahu akan pergi meninggalkanku.

Bukankah selama kita menjalin hubungan kembali, dan saat itu kita telah berjanji untuk tetap bersama? Bukankah kita sedang memperbaiki apa yang kita rasa tidak cocok selama ini? Lalu untuk apalagi kau melakukan itu padaku, jika pada akhirnya kau tahu akan tetap meninggalkanku.

Jika memang orang-orang terdekatmu tak menginginkan kita bersama, aku terima kau meninggalkanku. Kau benar, mereka lebih tahu mana yang terbaik buatmu. Tapi mereka tidak pernah tahu, betapa besar cinta dan pengerbonanku untukmu.

Baik-baik lah disana. Cepat atau lambat, luka kita masing-masing akan sembuh. Disini aku akan selalu berdoa untukmu. Karena hanya dengan mendoakanmu, itu adalah bukti cinta yang paling nyata.

Ingatlah selalu, aku mencintaimu sepenuh hatiku. Kau orang baik yang telah membuatku baik. Kau sosok lelaki yang membuatku belajar akan banyak hal. Dan kau cinta terhebat yang pernah kumiliki. Aku akan selalu tegar untukmu. Terima kasih, karena aku telah menjadi alasan mengapa kau berubah menjadi lelaki yang lebih baik.

Jangan pernah nakal lagi. Cinta yang baik sedang menanti untuk kau jemput. ☺