Senja yang semu

Baru saja akan kucuri senja itu…
Aku pamit.
Kamu yang selama ini selalu terukir dalam bait.
Tiba-tiba menjelma menjadi pahit.
Tak ada kata yang ingin kuucap lagi.
Bahkan kalau ku ingin, berbisik pun hanya akan menjadi sunyi.
Aku ingin memaki!
Agar sunyinya tak lagi hadir kembali.
Nyatanya...
Aku hanya menjadi sebuah bayang di kedua matamu.
Aku benci menjadi gelap dan sepi kembali.
Dan terang ternyata telah menyerah untuk menjadikanku ada di sisimu.
Aku ingin memaki!
Sekali lagi...
Tetapi, seseorang berkata, hidup selalu punya tetapi.
Aku benci pada sebuah keraguan.
Seperti rindu yang takkan pernah bisa tersampaikan.
Padahal baru saja kutitipkan ia pada semilir hujan sore hari yang selalu kudambakan.
Dan kau tahu? Aku baru saja belajar menjadi sedikit egois.
Baru saja akan kucuri senja itu...
Lalu kau bilang, “senjamu hanya akan menjadi senja yang semu”.
Aku pamit sekali lagi...
Biarlah cerita ini selesai sampai di sini.
Meski penaku masih ingin memberi arti.
Sambil menari-nari dengan jemari ini.