Jangan Pilih Kami, Tapi Pilih Kita (?)

Menarik menelisik sebuah banner di Fakultas saya (baca: Fakultas Hukum Fakultas Pilihanku) yang sedang merayakan perayaan tahunan, Pemilihan Mahasiswa atau yang biasa disingkat Pemilwa. Melalui ajang ini kumpulan “orang-orang berpikir maka aku ada” ini menjaga hawa demokrasi tetap mengalir dengan pergantian kepemimpinan lembaga.

Yep! Banner dengan gambar beberapa orang berpakaian rapi dan seragam ini menuliskan sebuah kalimat “Jangan pilih kami, tapi pilih kita”. Pertanyaannya, apa maksud pembuat banner ini? Entahlah apa maksud tersembunyi; yang walaupun saya tau apa makna plesetannya, saya lebih tertarik menelisiknya dari sisi cara berbahasa yang baik dan benar.

Kami sesuai tafsiran KBBI adalah yang berbicara bersama dengan orang lain (tidak termasuk yang diajak berbicara); yang menulis atas nama kelompok, tidak termasuk pembaca. Sedangkan kita masih menurut KBBI adalah pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara. Jika kalimat “Jangan pilih kami, tapi pilih kita” saya penggal menjadi dua bagian, yaitu “Jangan pilih kami,” kemudian yang kedua “tapi pilih kita”, kemudian kita cocokkan dengan pengertian diatas, penggalan kalimat pertama adalah benar, sedangkan yang kedua maknanya menjadi kurang pas. Penasaran?

“Jangan pilih kami”, artinya mereka mengajak untuk “tidak memilih kami”. Siapa kami? Kami adalah mereka calon pemimpin mahasiswa dalam pemilwa. Ini menjadi penggalan yang benar karena mereka tidak memasukkan pembicara yang mereka ajak yaitu MAHAsiswa sebagai pihak dalam berbicara (karena MAHAsiswa adalah yang memilih, bukan yang dipilih).

Sedangkan penggalan kedua dalam kalimat ini yaitu “tapi pilih kita”. Pilih kita? Jika memakai makna kita dari KBBI diatas, mereka mengajak pihak yang diajak berbicara sebagai tujuan mereka dalam membuat banner yaitu MAHAsiswa sebagai pihak mereka juga. Dalam artian sederhana, kita mahasiswa yang akan memilih mereka nantinya turut diajak untuk tidak memilih diri kita sendiri (karena makna kita mengajak yang diajak berbicara).

And then what? Dilihat dari sisi kaidah berbahasa yang baik dan benar, kalimat ini harusnya lebih bisa memperhatikan penggunaan kata ganti kami dan kita yang benar sesuai KBBI. Karena pada akhirnya tujuan kalimat ini kemudian menjadi berbeda dengan makna yang dimaksud. Jangan pilih kami adalah penggunaan yang benar, sedangkan pilihlah kita adalah penggunaan yang salah. Yuk sebagai mahasiswa Indonesia yang mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia, akan lebih memperhatikan kaidah berbahasa di lain waktu.

Atas nama rakyat. Demi keadilan. Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hidup mahasiswa!

#nostalgila #gagalmoveon