Tentang Pilihan Hidup

Pun Nanti Bukan Kita, Mungkin Pilihan-Pilihan Hidup Kita Yang Akan Menyerah Pada Pilihan-Pilihan Yang Hidup Tawarkan Dalam Perjalanannya.

Ya, inilah pembuka untuk tulisan saya kali ini. Sederhananya masih tentang pergulatan kita dengan hidup ini. Tentang pergulatan memilih ini itu, yang terjadi dimana-mana. Bisa kapan saja.
Pernah kan, kita berkoar akan terus bertarung bahkan berani mati untuk prinsip dalam hidup? Kemudian kita berani potong sana-sini. Berantem sana-sini. Hingga kemudian kita ada musuh sana; musuh sini. Mungkin ini kemudian selesai sampai sini. Beberapa kali bertemu dengan orang pemegang bara prinsip, tak bisa bayangkan betapa panasnya dan perih pedih yang mereka tanggung untuk teguhnya sebuah prinsip.
Tapi perdebatan ini memasuki babak baru; ketika dihadapkan dengan pilihan-pilihan hidup. Pilihan-pilihan yang kita pilah-pilih. Pilihan tempat kita menjatuhkan pilihan. Maybe you know what i mean?

Got it?

Entahlah. Belum pernah menanyakan tentang hal ini kepada pemegang bara prinsip diatas. Mungkin gampang bagi kita untuk bicara prinsip karena ini berhubungan dengan diri sendiri; tunggal berdiri tanpa ada yang menggelayut manja.
Bagaimana kemudian ketika kita dihadapkan dengan topik ini? Zaman bergerak cepat kemudian memaksa kita kembali berpikir keras. Banyak kemudian pilihan-pilihan dihadapkan dengan keadaan. Keadaan supercepat. Yang bahkan tak izinkanmu untuk sekedar menoleh memeriksa. Apa kabar prinsip saya? Apakah ini begini, apakah itu begitu? Sayang ketika kau terlalu lama pikirkan begini ini begitu itu, pun tak sadar; pilihanmu pun terbang. Tinggalkanmu untuk pilihannya yang berhasil dengan pilihan dalam hidupnya. Bahkan tanpa sama sekali tinggalkan atau korban matikan prinsip yang bahkan sekali lagi; (bisa saja) lebih baik dari prinsip yang selalu kau banggakan.

Apa kabar? Apakah kita akan menyerah pada pilihan-pilihan hidup yang diambil oleh pilihan-pilihanmu dalam hidup?
Pastikan langkah supercepat sudah kau rancang. Tanpa menyembelih prinsip kecemu. Yakinlah; banyak yg sudah lebih sukses dengan prinsip yang lebih apik.

Salam kabarsuper dari yang hampir menyerah,
Rachmad Hadjarati.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.