Belajar Menemukan Diri Melalui Sinema Iran “Where is The Friend’s Home”

Still Foto Film Where is The Friend’s Home

Ketika libur sekolah, salah satu televisi swasta Indonesia kerapkali menayangkan film Children of Heaven berulang-ulang. Film yang disutradarai oleh Majid Majidi itu selalu berhasil membuat pipi Ibu saya basah oleh air mata. Keluarga saya akan tetap menontonnya meski telah tahu betul bagaimana kisahnya.

Saya mulai menyukai film-film Iran setelah menyaksikan The White Baloon (Jafar Panahi, 1995). Sejak saat itu, saya berusaha mendapatkan film-film Iran yang lain. Saya kemudian bertemu dengan film-film lain Jafar Panahi serta Majid Majidi. Ada juga film-film dari Mohsen Makhmalbaf. Belakangan saya mengikuti film-film Asghar Farhadi dan tentu saja seorang sutradara yang tak dapat kita lupakan: Abbas Kiarostami.

Film pertama Kiarostami yang saya saksikan adalah Taste of Cherry (Abbas Kiarostami, 1997). Sebelumnya, saya menyaksikan film itu di pertengahan tahun 2013 setelah direkomendasikan seorang kawan. Saya kemudian menyaksikan ulang film itu kembali setelah tahun 2016 lalu, Abbas Kiarostami dikabarkan meninggal dunia.

Saya percaya bahwa setiap karya seni adalah cerminan jiwa pembuatnya. Maka saya menonton ulang filmnya dengan niat bertemu Kiarostami untuk mengucapkan selamat tinggal. Meski Kiarostami tidak akan pernah kemana-mana, ia selalu hadir di dalam setiap filmnya. Saya membayangkan Kiarostami hadir di depan saya sedang duduk dan bercerita.

Sebuah buku series auto-ethnographic yang ditulis Bill Nichols, Discovering Form, Inferring Meaning: New Cinema and the Film Festival Circuit yang terbit tahun 1994, menyatakan bahwa sinema Iran menghadirkan kerangka naratif dan estetika yang berbeda dengan paradigma Hollywood. Nichols juga menyoroti pilihan sinema Iran karena justru menggunakan karakter dengan sisi personal yang kuat, salah satunya adalah Where is The Friends Home(Abbas Kiarostami, 1987).

Film Where is The Friend’s Home dibuka dengan suara riuh kanak-kanak, sementara bidikan kamera mengarah padat ke sebuah pintu, seakan Kiarostami mempersilakan kita memasuki semesta yang telah ia bangun.

Seperti kebanyakan film-film Iran, cerita dalam film ini sungguh sangat sederhana. Hanya persoalan A ingin mengembalikan sebuah buku ke rumah B dengan sebuah alasan yang sangat sederhana pula, tapi kenapa malah bisa serumit itu ya?

Abbas Kiarostami melalui film ini secara sadar membawa kita pada nuansa ketakutan atas suatu hal yang lebih besar. Rasa takut tentu saja dapat dikaitkan dengan begitu banyak hal, termasuk yang dialami “Ahmadpoor” dan “Mohammad Reza Nematzadeh” dengan ketakutan yang berbeda.

Apalagi kita menggunakan kata ‘disiplin’ sebagai kata kuncinya. Saya kira memang institusi, instansi, lembaga, pemerintah atau segala bentuk ‘bangunan’ telah menjadikan kata ‘disiplin’ sebagai sebagai sebuah kata yang horor.

Seperti tokoh dalam film ini, saya seringkali menghadapi rasa takut semasa di sekolah. Saya pindah dari Sidrap ke Parepare, Sulawesi Selatan, ketika kelas tiga Sekolah Dasar. Setahun setelahnya, Kepala Sekolah SD tersebut diganti. Miftah, anak kepala sekolah yang baru itu, juga ikut pindah dan akhirnya sekelas dengan saya. Belakangan Miftah menjadi sahabat saya sampai sekarang.

Nah, jika tidak ada guru yang masuk di kelas karena berhalangan hadir, maka Pak Nas, nama Kepala Sekolah itu, akan masuk ke kelas kami dan mengajar. Tiba-tiba mata pelajaran bisa jadi apa saja: Matematika, PPKN, IPA, tapi yang paling ia senangi adalah IPS.

Ketika ia masuk, suasana akan tiba-tiba hening, suram dan mencekam. Segala yang bisa bergerak seolah melambat seperti adegan-adegan slowmotion dalam film-film. Pak Nas akan secara acak bertanya kepada para siswa dan kalau tidak bisa dijawab dengan benar, akan dipukul. Sesederhana itu. Saya rasa setiap dari kita memiliki guru seperti ini di sekolah.

Namun satu hal yang tidak akan pernah saya lupakan adalah ketika hari itu hari senin dan saya bertugas mengibarkan bendera. Ketika upacara baru saja selesai, siswa-siswa berhamburan di lapangan menuju kelasnya masing-masing, saya kemudian dipanggil oleh Pak Nas dan ia tiba-tiba menampar saya.

Tentu saja saya kaget. Banyak dari siswa-siswa tersebut menyaksikan peristiwa itu. Saya tidak tahu apa kesalahan saya sehingga dapat tamparan keras. Tapi katanya, ketika ia memberi sambutan sebagai pembina upacara, saya mengajak teman di samping saya berbicara.

Maka saya dapat tamparan itu sebelum saya masuk ke kelas. Tentu saja tamparan itu masih terekam dan menghuni secara jelas di kepala saya sampai sekarang. Sejak saat itu, saya selalu minder dan merasa takut melakukan kesalahan. (Jika Anda telah menonton film ini, Anda akan tahu alasan kenapa saya menceritakan kisah Pak Nas kepada Anda).

Film Where is The Friend’s Home sebetulnya mengajak kita menjadi seorang manusia. Melalui mata seorang anak kecil, film ini menawarkan kita ketulusan dan kebaikan budi pekerti. Di mata kanak-kanak, tidak akan ada penghakiman di sana.

Itulah mengapa secara jelas di banyak adegan, kamera secara intens ‘mendekatkan’ wajah kanak-kanak dengan mata penonton. Sehingga ekspresi kanak-kanak tersebut bisa lekat dan tersimpan jelas di kepala penonton. Ada perasaan tertentu yang ingin dibagi oleh Kiarostami kepada setiap orang yang menonton filmnya.

Dengan perspektif kanak-kanak itulah, barangkali penulis Aan Mansyur kerapkali memasukkan dan menghadirkan ‘anak kecil’ ke dalam puisi-puisinya, seperti salah satu puisi yang ada dalam buku Cinta yang Marah ini,

mungkin aku dan kau sepasang tubuh dewasa yang tak lagi memiliki jiwa kanak-kanak. siapa tahu layang-layang menerbangkan aku dan kau kembali ke masa kanak-kanak, saat senja masih bening, saat pohon-pohon masih hijau, saat cinta belum terlalu rumit buat dipahami

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya beritahu kepada Anda, bahwa saya menyelesaikan tulisan ini di beranda kost setelah empat orang anak-anak tetangga memelas meminta kata sandi wifi kost kepada saya.

Kata mereka, “Please. Kasi tau dong, Kak. Saya cuma mau buka Facebook sama Instagram doang. Setelah itu sudah. Kuota saya habis.” Saya tiba-tiba membayangkan wajah “Ahmadpoor” dalam film Where is The Friend’s Home ini.

(Sebelumnya, catatan ini dipublish di Locita.co (17/10/2017) dengan judul yang sama)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.