Film Review: Uang Panai (2016)

Masyarakat Makassar adalah terjemahan dari kesepian dan ketidakpastian. Di balik wajah Makassar yang penuh kelap-kelip dan lampu-lampu temaram, Makassar nyatanya penuh dengan gejolak dan amukan. Pada bulan-bulan terakhir di tahun ini, Makassar tak henti-hentinya diserang berita tentang adanya pembegalan di sudut-sudut kota. Dua pekan lalu, ada seorang guru dipukul oleh orang tua siswa dan tentu saja kasusnya berkepanjangan. Masalah memang ada dimana-mana, tetapi masyarakat Makassar yang kadangkala gamang namun getir, harus tetap melakukan perlawanan meski dari titik paling sunyi.

Film Uang Panai adalah sebuah taman hiburan. Masyarakat Makassar datang berbondong-bondong ke bioskop membawa teman, sahabat dan keluarga mereka untuk melepaskan dirinya dari pikiran-pikiran ancaman. Sederhana saja, Masyarakat Makassar hanya perlu dihibur. Masyarakat Makassar hanya ingin menyaksikan diri mereka sendiri di layar lebar. Mereka hanya ingin tertawa. Paling tidak, menertawakan diri mereka sendiri. Tentu saja, Asrul Sani dan Halim Gani Safia sebagai sutradara di film ini, jeli melihat peluang dan uang yang dapat mereka peroleh dari hasil penonton.

Uang Panai adalah film komersil. Perolehan penonton ketika tulisan ini dibuat adalah sebanyak 73.800. Jelas saja angka tersebut termasuk jumlah yang besar jika kita melihat film ini adalah film karya sineas lokal Makassar, ya katakanlah sebuah kesuksesan.

Persoalan dari film Uang Panai sungguh sederhana, diceritakan dengan cara yang sederhana pula. Aktor-aktor yang kelihatan berusaha keras untuk menerjemahkan karakter yang mereka perankan, sebetulnya juga sebuah usaha yang patut diapresiasi. Di beberapa adegan, tokoh Farhan yang diperankan Cahya Arynegara yang pulang dari Amerika itu, nampak jelas ketidakkonsistensiannya dalam berdialog. Kata-kata seperti penggunaan “aku, saya, engga, nda’” menjelaskan sutradaranya kurang detail dalam bertutur.

Selain itu, saya menganggap bahwa tokoh Anca yang diperankan Zoel Ikram Noer terlalu ‘besar’ dalam menafsirkan adegannya untuk ukuran layar lebar. Sederhananya, karena terlalu “ekspresif” ketimbang menggunakan perasaannya, maka perasaannya yang ingin disampaikan untuk menjelaskan sesuatu, tertutupi oleh mimik mukanya yang cendrung berlebihan. Namun sedikit saya ingin meluahkan perasaan saya soal wardrobe yang banyak dipakai oleh beberapa tokoh, terutama Tumming dan Abu. Celakanya, saya bahkan mengira film ini seutuhnya adalah iklan baju dengan jargon-jargon dan kata-kata. Terlalu banyak iklan kemungkinan besar dapat merusak mood penonton.

Film adalah persoalan selera. Bagi saya, film komedi yang baik adalah film yang tidak berusaha melucu lewat pemeran-pemerannya, tetapi yang membuatnya lucu adalah situasi yang ada di dalam film tersebut. Sehingga di beberapa adegan dan dialog yang membuat penonton lain tertawa, saya tidak merasa itu lucu. Komedi dekat dengan budaya. Saya sempat merasa apakah saya tidak cukup Makassar untuk merasakan kelucuan ini?

Namun tentu saja munculnya Tumming dan Abu adalah senjata yang tepat untuk menaklukkan penonton Makassar. Jika Tumming dan Abu adalah alat untuk menarik penonton, sungguh tidaklah masalah, sebab tentu saja hal tersebut termasuk strategi penjualan. Persoalannya adalah apakah jika Tumming dan Abu tidak ada, karakter-karakter dalam film ini masihkah diingat? Akankah selucu yang diharapkan?

Saya tidak akan membahas persoalan teknis seperti posisi kamera yang “jumping” dan tentu saja sangat mengganggu mata. Penggunaan tone color atau camera moving yang memiliki makna tertentu atau tidak. Sebab untuk hal-hal teknis bisa dipelajari untuk film selanjutnya. Namun yang mengecewakan saya secara pribadi adalah ada scene dalam film ini yang tampak menggurui. Penonton dianggap tidak cerdas, seakan penonton tidak dibiarkan berpikir lebih panjang dan menentukan mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Film bagus tentu saja relatif. Film laku itu soal angka. Kalau ditanya apakah saya suka film Uang Panai atau tidak, saya akan berkata tidak, sebab film juga soal selera. Namun bagi saya saat ini, melihat antusias dari masyarakat Makassar dalam mengapresiasi film lokal sungguh kebahagiaan yang mendalam. Paling tidak, masyarakat Makassar dapat melupakan masalahnya sejenak kemudian tertawa lepas. Lalu apa yang lebih membahagiakan selain melihat orang di sekeliling kita bahagia?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.