Jam Berapa Ipar Saya Pulang?

Kalau Anda memiliki masalah di luar rumah, mungkin keluarga adalah mereka yang paling tidak mengerti. Tetapi mereka pula yang paling maklum.

Pagi ini saya terbangun dan mendapati rumah saya hening seperti biasa. Tidak ada makanan di meja makan. Kedua orang tua saya tengah berada di Jayapura. Ira dan Ryan, adik-adik saya, masing-masing berangkat ke kampus dan sekolahnya. Kak Iin di Parepare untuk mengajar di salah satu perguruan tinggi, sementara Kak Fadly ke kantornya tentu untuk kebutuhan isteri dan anak yang sedang dikandungnya.

Sebelum bulan Ramadhan tahun lalu, Kak Fadly menikah. Saya hadir. Ia menikahi seorang gadis setelah diperkenalkan oleh Ustadznya. Ia melewati cara ta’aruf, dan Ibu saya tentu mendukungnya. Sejujurnya, Ibu saya menolak. Ibu saya tidak begitu setuju kalau Kak Fadly menikah dengan perempuan bercadar. Tetapi Kak Fadly adalah anak sulung dan ia selalu yakin dengan apa yang ia pilih. Dan begitulah sikap orang tua yang mau menikahkan anaknya pertama kali. Ibu saya menurut.

Ketika Kak Fadly mengutarakan niat pada Ustadznya untuk menikah, ia lalu ditanya kriteria dan sebagainya. Kak Fadly lalu diberi nama si perempuan oleh Utadznya berikut di mana ia tinggal dan di mana ia bekerja. Saya tidak begitu tahu bagaimana prosedur dan teknisnya. Tetapi Ibu saya karena penasaran, pada suatu siang ia berangkat ke tempat di mana calon menantunya itu bekerja. Sampailah ia di sebuah sekolah dan bertanya pada seseorang. Nur Cahaya, ia mau bicara dengannya.

Maka begitulah, Ibu saya berpura-pura menanyakan tentang proses pendaftaran sekolah. Seolah-olah dia memiliki anak dan hendak mendaftarkannya di sekolah itu. Percakapan itu kemudian begitu panjang, sampai Ibu saya bertanya tentang keluarga dan beberapa hal pribadi. Ya, semata-mata untuk mengetahui sikap dan sifat calon menantunya itu.

Sepulangnya di rumah, Ibu saya memberitahu Kak Fadly kalau ia setuju. “Lanjutkan,” Katanya. Ibu saya kemudian mendeskripsikan bagaimana Nur Cahaya itu, dengan jilbab panjangnya. Dan yang paling penting karena si gadis tak bercadar. Makanya ia begitu yakin dengan perempuan itu. Ibu saya berkata bahwa perempuan itu cantik. Dan itu sudah membuat Kak Fadly yakin. Itu saja.

Beberapa hari setelah itu, kedua belah pihak keluarga dipertemukan. Ibu saya, Kak Fadly dan Kak Iin, Ira dan Ryan yang berangkat ke rumah mereka. Ayah saya tidak ikut. Ia masih di Jayapura. Sampailah mereka di rumah tersebut.

Ibu saya kaget. Rupanya Nur Cahaya itu, aslinya memakai cadar. Tentu pada mulanya ia kecewa belaka. Tak pernah ia bermimpi dan berniat sekalipun memiliki menantu yang bercadar. Ibu saya adalah seorang yang senang bercerita. Maka ketakutannya kelak bila ia bercerita dengan menantunya itu, yang hadir hanyalah kecanggungan dan kekikkukan belaka. Tetapi hal ini tak bisa dihentikan di tengah jalan.

Tibalah waktunya si perempuan membuka cadarnya. Saya membayangkan seperti adegan di novel atau film Ayat-Ayat Cinta. Saya tidak hadir. Tetapi walaupun saat itu saya hadir, tentu saya juga tak bisa melihat adegan itu seperti apa. Kak Iin berkata padaku bahwa ketika cadar si perempuan dibuka, Kak Fadly pun tak menoleh ke arahnya. Sialan!

Oleh si gadis, Kak Fadly hanya diberi satu pertanyaan sebelum si gadis mengiyakan maksud keluarga saya. “Apakah sudah memiliki pekerjaan?”

“Iya. Sudah.” Dijawab oleh Kak Fadly datar. Menunduk pula.

Tiga pekan setelah itu, seminggu sebelum puasa, mereka dinikahkan di Gedung 45, Makassar. Sederhana saja. Teman-teman Kak Fadly yang menjadi panitia acaranya. Seluruhnya tampak biasa. Dan satu-satunya hal yang tidak biasa menurut saya bahwa gedungnya dipisahkan oleh sebuah tirai panjang. Di pintu masuk, dua orang akan mengarahkan kemana tamu lelaki harus pergi dan begitu juga dengan tamu perempuan.

Ya, kalau Anda hadir, maka Anda tidak melihat kedua mempelai duduk bersanding bersama dalam satu panggung. Tetapi ini tidak mudah, setelah salah satu paman saya juga datang dari Kendari. Ia heran. Baru pertama kali ia menghadiri pernikahan seperti ini. Sampai pada suatu saat paman saya ngotot menerobos tirai karena ingin melihat isteri Kak Fadly. Tidak begitu kacau memang, tetapi paman saya begitulah dia. Jarang sekali ia pulang ke Makassar setelah beberapa tahun. Maka melihat wajah isteri Kak Fadly adalah sebuah harga yang pantas ia dapatkan.

“Saya datang jauh-jauh dari Kendari. Kalau saya tidak lihat isterimu, untuk apa saya datang ke sini.” Begitu pernyataannya kepada Kak Fadly sepulang acara itu. Kak Fadly hanya menahan marahnya. Matanya merah, tetapi tetap mencoba untuk terus tersenyum.

***

Telah lima bulan isteri Kak Fadly mengandung. Dan saya pun belum pernah melihat wajah ipar saya itu. Sekalipun. Ya, sekalipun.

Kak Fadly dan Isterinya juga tinggal di rumah dimana saya, dan saudara-saudra yang lain menetap. Bila jam makan malam, saya akan makan sendirian terlebih dahulu di lantai bawah. Baru setelah itu, Kak Fadly dan isterinya akan turun lalu makan. Atau kadangkala saya akan makan belakangan setelah mereka makan. Kita tak pernah makan semeja bersama, karena saya tak boleh melihat wajah ipar saya itu. Begitulah seterusnya.

Kadangkala saya berpikir kalau pada suatu ketika kami berpapasan di tengah jalan, ia menyapaku, saya tidak akan menggubrisnya. Saya akan mengabaikannya seolah-olah tidak mengenalnya sama sekali. Jahat memang. Tapi Adik mana yang tidak mengetahui wajah Isteri Kakaknya sendiri?

***

  1. Saya lari dari pekerjaanku di Jakarta. Sudah hampir sebulan saya di rumah, baru semalam ia bertanya, “Sudah makan?”. Kami jarang berbicara. Ipar saya itu tak begitu suka menonton. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamarnya sendiri. Mungkin mengaji atau menghafal Al-Qur’an.

2. Kalau hari biasa, seharusnya Ipar saya itu sudah pulang mengajar pada jam-jam siang seperti ini. Hanya karena beberapa hari ini Kak Iin tidak ada di rumah, maka ia melambatkan dirinya pulang. Alasannya agar saya dan dia tidak berdua-duaan di dalam rumah. Juga pernah pada suatu kali saya pulang dari main basket, yang ada di dalam rumah hanya dia seorang. Ia bergegas pergi dan pulang setelah Ira dan Kak Iin juga pulang.

Sebetulnya sederhana, tetapi rumit di waktu yang bersamaan.

3. Dua hari yang lalu pada suatu pagi, Ipar saya itu menggiring motornya ke salah satu tempat tambal ban. Entahlah. Ban motornya kempes atau bocor saya tak tahu, mungkin juga saya tak peduli waktu itu. Saya habis mengantar Ryan ke sekolah dan singgah membeli beberapa kue di depan Indomaret, tepat disebelah bengkel itu berada. Saya keluar dari mobil dan melihatnya duduk di samping motornya. Saya yakin dia melihat saya, tetapi saya tidak yakin ia tersenyum atau tidak. Ya, karena saya hanya bisa melihat dua buah matanya saja.

Kami tidak menyapa. Dan saya pun tidak bertanya masalahnya apa.

Di rumah, saya memperlakukan dia persis seperti hantu. Saya tahu dia ada, dan dia bebas melakukan apa saja. Kita serumah dan tidak saling mengganggu. Padahal, ketika saya tahu bahwa Kak Fadly akan menikahi gadis lulusan sastra Inggris Unhas, saya hanya bisa membayangkan kita akan cepat akrab dan bercerita tentang pengarang yang ia sukai atau sebaliknya, atau bahkan saya bisa membaca buku-buku yang ia koleksi sejak kuliah. Tapi begitulah. Menertawai diri sendiri kadang lebih lucu dan juga menyedihkan di waktu yang bersamaan.

**

Maksud tulisan ini ditulis karena saya hanya ingin menyatakan satu hal dan bertanya dua hal:

(Meskipun begitu, saya tidak membenci ipar saya. Bagaimanapun, ia juga telah menjadi Kakak sekaligus keluarga saya).

  1. Kira-kira jam berapa Ipar saya pulang?

2. Kau punya sedikit uang untuk saya pinjam? Saya ingin sekali makan Indomie soto.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rachmat’s story.