Kamar

Bulan ini seharusnya saya sudah membayar kamar kosan. Tahun lalu ketika saya pertama kali masuk ke sini, sebetulnya diantar oleh salah seorang kenalan baru. Ia merupakan salah satu staf pengajar di tempat saya diterima kuliah, Institut Seni Indonesia. Namanya Mas Akhyar.

Ia mengajar teater dan memiliki isteri yang kebetulan dari kota tempat saya berasal, Makassar. Ia kemudian menemani saya setelah kami bertemu secara acak di suatu kosan. Waktu itu dia juga mencari tempat tinggal. Lalu ia merekomendasikan tempat ini, kos yang telah setahun saya tempati.

Kamar bagi saya tidak hanya ruang biasa. Ia sebuah ruang yang merahasiakan semua kegelisahan, pikiran, kesedihan bahkan kepedihan saya. Kamar ini bekerja sebagai kepala dan dada saya. Jika saya sedang kesal oleh pekerjaan atau hal-hal yang menyakiti diri sendiri, saya akan pulang ke kamar untuk tidur, lalu bangun dan mendapati semua kemarahan saya seolah-olah sirna.

Saya akan menulis untuk berpikir atau sebaliknya. Saya akan membaca agar tidak ada yang bisa mengajak saya bicara selain diri sendiri.

Kamar adalah ruang privat bagi saya. Kamu bisa melihat suasana hati saya dari apakah pintu kamar saya terbuka atau tertutup. Jika pintu terbuka, saya membiarkan teman atau siapapun untuk masuk, membagikan cerita atau mengambil makanan saya di kamar.

Tapi jika pintu saya tertutup, mengetuklah. Hanya ada dua pilihan, saya akan mengabaikanmu dan memilih menghabiskan waktu untuk diri sendiri, atau saya akan membuka pintu, bertanya pada diri sendiri, apakah kau bisa dibiarkan masuk atau tidak.

Di rumah orang tua saya di Makassar, sebetulnya saya tidak punya kamar. Jika saya mudik ketika kuliah sedang libur, saya hanya akan tidur di depan televisi. Di sana memang sudah ada dua kasur. Masing-masing untuk saya dan untuk Ari jika ia tidak tidur di asramanya.

Sebetulnya di sudut rumah ada ruang kerja, tidak begitu besar, berisi komputer, meja kecil dan beberapa tumpukan buku. Tapi saya tidak bisa tenang di sana, apalagi di siang hari. Ibu akan berteriak, meminta saya untuk melakukan banyak hal. Sebagai anak yang baik, tentu saja saya tidak boleh mengabaikan perintah Ibu.

Sehingga satu-satunya tempat untuk bertemu dengan diri sendiri adalah ketika malam hari tiba, ketika semua orang lelap dan saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan.

Pernah suatu kali Ibu bertanya kenapa saya lebih sering begadang, saya hanya akan menjawabnya singkat. “Tidak bisaka tidur.”

Tapi sesungguhnya tidak sesederhana itu. Saya pikir setiap orang butuh menyisihkan sebagian waktunya untuk bertemu dan berdialog dengan diri sendiri. Malam hari adalah waktu yang tepat untuk bicara dengan tubuh dan pikiran yang tidak bisa dikawal.

Ketika kuliah di Malaysia, saya tidak ngekos. Saya tinggal di Asrama kampus. Sekamar berisi dua orang. Kamar single tersedia sebetulnya, tapi akan ada penambahan biaya. Sementara duit saya tidak banyak-banyak amat.

Tahun pertama, saya sekamar dengan orang Malaysia. Saya kesal sebab ia selalu memasukkan teman-temannya ke kamar dan tentu saja berisik sekali. Tahun kedua, masih dengan orang Malaysia, tapi bedanya saya sekamar dengan teman kelas saya, namanya Azhar. Darinya, saya belajar banyak hal terutama seni mengabaikan. Kapan-kapan saya akan cerita hal ini jika ada waktu.

Di kamar, Azhar dan saya bisa leluasa berbagi ruang privat. Di malam-malam ketika kantuk dan mimpi belum datang, kami akan saling bertanya satu sama lain,

“Bagaimana harimu hari ini?”

Lalu masing-masing dari kami akan cerita tentang apa saja: cinta, ingatan, atau kenangan yang selalu ingin dilupakan.

Namun tentu saja ada beberapa hal yang tetap kami biarkan jadi rahasia dan misteri. Tidak semua dinding pribadi dirubuhkan di dalam kamar kami. Tapi saya bahagia bisa sekamar dengannya waktu itu. Terakhir saya menghubunginya, Ia kini melanjutkan sekolah masternya di Malaysia di bidang pengkajian film.

Akhir-akhir ini saya lihat media sosial seperti himpunan kamar, terlepas kita ingin menjadikannya apapun, beranda, ruang tamu, dapur atau bahkan toilet.

Kita bisa memotret profil seseorang dari status seperti apa yang mereka tulis. Kita bisa mengamati kesedihan seseorang dari seberapa banyak foto bahagia yang ia unggah. Kita bisa mengetahui apa yang disembunyikan seseorang dari apa yang mereka tunjukkan.

Kini, ruang privat bertindak sebagai cermin dan menjadi sangat mahal harganya. Semua orang ingin mengakses, melacak atau bahkan membagikan apapun yang mereka kerjakan.

Dua pekan lalu saya berpapasan dengan Ibu Kos. Saya bertanya kapan kiranya saya harus membayar untuk melanjutkan biaya kos. Katanya bulan September. Untuk memberikan ruang pribadi kepada diri sendiri memang tidak mudah dan tidak murah. Bulan ini saya harus menyisipkan sebagian dana untuk memberi sedikit ruang untuk diri sendiri.

Privasi mahal sekali ya?

Like what you read? Give Rachmat Hidayat Mustamin a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.