Membaca Diri Sendiri Melalui Empat Film Makassar In Cinema
Pertanyaan yang paling mendasar ketika berusaha membaca arus perfileman di Makassar, apakah yang dimaksud dengan Film Makassar?
Apa yang disebut sebagai Film Makassar sebetulnya belum memiliki bentuk, struktur, watak dan kelamin. Bahkan ketakutan-ketakutan yang timbul bahwa Film Makassar masih berupa janin dan belum ingin dilahirkan serta ditumbuh-kembangkan. Maka yang kemudian terjadi adalah kelahiran prematur, parahnya lagi bila belum bisa disebut sebagai film. Tetapi yang paling penting saat ini adalah nafas dari pegiat film yang ada di Makassar. Nafas-nafas itu bisa jadi berupa komunitas-komunitas film, kritikus, pencipta, pencinta, dan penggerak film di Makassar.
***
Saya selalu percaya bahwa segala sesuatu: gambar, suara, tingkah laku dan sebagainya merupakan sebuah teks. Bagaimanapun dan dengan cara apapun Anda membaca. Tentu penerimaan dan pembacaan teks, dalam hal ini film, berbeda setiap individu menurut latar belakang, budaya dan pemahamannya sendiri. Teori dari David Morley, T. O’Sullivan, Stephen Schawabn dan Sermin Ildar telah menceritakan hal ini di dalam tulisan-tulisannya.
Melalui empat film yang ditayangkan di Katakerja pada acara mengamati 28 Februari lalu, saya berusaha membaca apa yang gambar tersebut katakan kepada saya. Atau bisa jadi saya hanya membaca diri saya sendiri di dalam film ini. Keempat film tersebut lahir dari workshop Makassar In Cinema yang digelar oleh Meditatif Film setiap tahunnya.
Semua orang memiliki caranya sendiri menikmati film, maka ulasan yang singkat ini adalah cara saya, tidak hanya menikmati film tetapi juga bagaimana merayakannya:
- Empat Alfabet Di Depan Namaku |Ayu Kartika
Keputusan terbesar yang diambil oleh sutradara dalam film ini mungkin adalah penggunaan one shot, long take. Dan saya kira yang paling rumit pengerjaannya adalah film ini juga. Koordinasi antar kru dan timing yang tepat. Meskipun di beberapa bagian masih ada sedikit kesalahan teknis, terutama di divisi suara. Pegawai kantor sebagai ekstras, yang berada di belakang si tokoh perempuan, juga dibiarkan begitu saja. Saya kira film ini dibiarkan mengalir. Jujur. Realis dan apa adanya. Salah satu fungsi digunakannya long take, saya kira agar emosi yang dibangun bisa intens dan konsisten diterima oleh penonton. Saya menikmatinya.
Film ini bercerita tentang seorang perempuan yang mengoceh sepanjang kurang lebih 15 menit perihal namanya. Tidak hanya itu tentunya, ada begitu banyak isu yang kemudian ia bicarakan. Tentang pamali, kelas sosial dan budaya dalam konteks bugis Makassar. Film ini sederhana sekali. Si perempuan hendak menghilangkan nama ‘Andi’nya, di kantor catatan sipil.
Saya malah melihat si tokoh perempuan menggunakan gelarnya agar apa yang ia inginkan cepat dan bisa diproses oleh pegawai. Kecurigaan saya, ia berusaha bercerita tentang ‘Andi’ atau ‘Puang’ untuk memudahkan urusannya. Padahal menggunakan masa lalu sebagai senjata hanya dilakukan oleh orang-orang yang belum move on. Terlepas dari itu semua, film ini sebetulnya tentang kemarahan dan ketidakpuasan atas dirinya sendiri. Warna merah dari baju yang ia kenakan adalah dendam yang berusaha ia sembunyikan. Ada dinding yang berusaha ia rubuhkan. Film ini tidak hanya menertawai dan mengata-ngatai orang lain, tetapi juga mengolok-olok dirinya sendiri.
2. Burassingang | Muhammad Imran
Jangan bersin di depan mayat, nanti cepat mati. Kira-kira begitu pesan singkat dari si nenek tua yang ada di dalam film ini. Entah si nenek adalah simbol dari iblis, setan atau malaikat. Tetapi yang jelas, tidak ada kematian yang terjadi selain orang yang diumumkan oleh pengumuman di masjid. Seakan film ini menyatakan dua hal:
- Jangan langsung percaya pada apa yang Anda dengarkan.
- Satu-satunya hal yang patut dibunuh, dijadikan mayat atau dimakamkan hanyalah ketakutan-ketakutan.
Cara bertutur dari sutradara di film ini juga sangat sederhana. Tetapi ada begitu banyak shot, sehingga di beberapa bagian, emosi yang dibangun, kadang terpotong. Tetapi keputusan tentu berada di tangan sutradara, dan setiap sutradara memiliki rasa dan cara bertutur yang berbeda.
Tidak ada informasi siapakah gerangan nama si tokoh dalam film ini. Ia memerankan siapa dan sebagai apa. Sama halnya melihat beberapa lakon Putu Wijaya yang tak memerlukan identitas. Tak memerlukan nama. Tiba-tiba saja ia bangun dari tidurnya dan penonton dipaksa untuk mengikuti kegiatannya yang 90 persen settingnya berada di dalam rumah.
Menarik melihat beberapa benda bekerja sebagai simbol kematian, bisa jadi juga duka dan kesedihan. Ada tiktok jam, lampu padam atau bahkan lebamnya kopi. Juga ada kursi di sana, simbol dari kekuasaan dan pejabat yang tak kunjung memberi kebaikan.
Salah satu scene kesukaan saya, ketika si tokoh A berusaha menyalakan bohlamnya dengan menaiki sebuah kursi, tetapi tak menyala. Saya kira ini adalah kritik buat pemerintah yang sudah naik tahta tetapi belum membuat perubahan yang signifikan. Maka umur jabatan mereka sepatutnya dinisankan belaka. Seperti bersin dan bakteri-bakteri yang muncrat ke tanah.
3. Takut Denda | Arif Rakhman Muallim
Memutuskan sekelompok anak-anak sebagai pemain bukanlah pekerjaan yang mudah. Emosi yang labil adalah salah satu pertimbangannya. Maka kiranya ada teknik persuasif tertentu yang harus dilakukan untuk mengarahkan anak-anak tersebut sehingga mau dan rela melakukan instruksi dari sutradara. Arif berhasil dalam hal ini.
Segala yang ditakutkan hanya berada di dalam pikiran belaka. Pernyataan itu saya dapatkan ketika si anak (tokoh utama) sadar dalam lamunannya. Ia lalu keluar dari garis antrian. Di atas meja, ia meletakkan buku paket yang hendak ia pinjam sebelumnya. Ia lalu bercermin memastikan semuanya baik-baik saja, setelah itu ia keluar dari perpustakaan dan menikmati kebebasannya. Seakan mendapat bisikan dari Sartre bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Anak ini melakukannya dengan damai, gagah dan berani.
Doktrin, dogma, kepercayaan, ketakutan, agama, neraka dan hal-hal semacamnya dimasukkan ke dalam kepala manusia ketika usianya masih dini: kanak-kanak. Film ini tidak hanya bercerita tentang buku paket sebagai pengetahuan yang harus dipertanggungjawabkan. Tetapi juga menjadi orang yang cepat sadar dan keluar dari barisan seperti si anak tadi. Meskipun kita harus “jatuh ke sungai” lebih dulu untuk berteriak dan bersuara, paling tidak kita bisa keluar dari arus utama, keluar dari ruangan yang sumpek lalu menjadi bebas di hamparan pasir yang berbisik.
Apatah lagi jika pengetahuan yang sudah didapati tak bisa dipertanggungjawabkan dengan betul, dendanya mau dibayar pakai apa?
4. The Last Thread | Mariesa Giswandhani
Awalnya saya mengira bahwa tokoh waria (si Anak) yang dimunculkan oleh sutradara masih terjebak pada stereotyping. Lelaki yang berambut panjang, mengenakan stocking, make up dan berusaha menjadi perempuan. Menurut saya, penggambaran seseorang yang memiliki orientasi seksual ‘gay’, tidak melulu harus seperti itu. Tetapi memang film ini secara gamblang menunjukkan transformasi: seorang lelaki menjadi perempuan. Manusiawi dan jujur merekam hal ini di Makassar dan Indonesia secara umumnya.
Mariesa selaku sutradara, niat betul menampakkkan seluruh adegan di rumah itu terasa dingin, kaku dan sunyi. Seakan tak ada lagi kata yang pas untuk dimuntahkan. Satu-satunya kebisingan hanyalah pilu seorang Ibu yang menginginkan anaknya seperti apa yang ia cita-citakan: menjadi lelaki normal.
Bagaimanapun, narasi film ini dilihat dari perspektif seorang Ibu. Padahal Khalil Gibran berkata bahwa anakmu bukanlah anakmu. Hal ini yang tidak disetujui oleh si Ibu. Maka ia merebut dan merampas anaknya dari kebebasannya sendiri melalui kematian. Pembunuhan yang tragis, lembut serta penuh kasih sayang.
Scene favorit saya selain adegan terakhir adalah ketika si Anak sedang makan siang. Ia lalu menggenggam botol dan berusaha mengeluarkan sambal dan kecap lalu tersenyum. Tetapi ketika kecap dan sambalnya sudah menghiasi piringnya, ia lalu meninggalkannya seperti sampah. Saya melihat botol-botol adalah simbol dari alat kelamin lelaki. Sementara yang keluar dari dalamnya adalah lendir-lendir sperma. Ada hal-hal intim yang secara sadar atau tidak telah dilakukan oleh si Anak.
* * *
Saya kira menjadi seniman di kota-kota seperti Jogja, Solo, Bali adalah sebuah kewajaran. Menjadi seniman di Jakarta atau di Makassar adalah sesuatu yang mahal. Kadang, masyarakatnya sendiri yang belum bisa melihat, membandingkan dan menghargai seniman-seniman lokal yang berjuang untuk hidup di dalamnya.
Menghidupkan diskusi dan ruang-ruang kreatif adalah rumah bagi siapa saja yang merasa merindukan masa kecilnya. Katakerja dan Makassar In Cinema adalah ruang sederhana yang hangat. Di antara masyarakat perkotaan, selalu ada yang lupa, bagaimana membaca dirinya sendiri. Membaca atau menontolah, di sana ada cermin besar. Anda bisa tertawa dan menangis atau berpura-pura di dalamnya.