Film Review: A Copy of My Mind (2016)

Ruh sebuah film terletak pada ceritanya. Saya kira (hampir) semua pembuat film akan sependapat dengan hal itu. Kita akan menilai dan mempertimbangkan sinematografi, setting dan yang lainnya setelah menilai ceritanya bagus atau tidak.

Saya baru saja menonton film A Copy of My Mind dari sutradara Joko Anwar. Ceritanya sebetulnya sederhana. Situasi dalam film ini berlangsung ketika kampanye pemilihan presiden tahun 2014 lalu. Beberapa footage memang diambil ketika sebuah partai melakukan orasi, termasuk di jalan dan di dalam stadion Gelora Bung Karno.

Ketika sepuluh menit pertama film ini dimulai, kita pasti langsung menebak bahwa film ini tentang politik. Benar saja. Tetapi apa sih yang bukan politik di sekitar kita.

Saya kira Joko Anwar bercerita dengan sangat sederhana pula. Jakarta yang ia tunjukkan adalah Jakarta yang penuh luka, kotor, koyak, tak mempesona, bising, liar, tetapi juga kita bisa melihat romansa kecil ketika sepasang suami isteri cina yang renta tengah berdansa dengan penuh kasih. Namun lebih dari itu, Jakarta adalah duka, lebih tepatnya sebagai isyarat untuk tetap berkabung.

Film ini semi dokumenter. Realis. Kalau Anda mau menikmati keindahan dan kemewahan, saya kira film ini jauh dari itu. Film ini jujur. Joko Anwar mengajak kita pada sebuah realitas. Gairah, kemesraan, bokep, orang miskin dan melarat, dan jika seandainya film bisa mengeluarkan bau, saya kira kita akan mencium bau amis, sampah, selokan dan debu-debu Jakarta.

Film ini tidak hanya menyindir pemerintah dan orang-orang kaya. Tetapi mengata-ngatai. Tentang panjangnya umur korupsi, tentang penjara yang lebih mirip apartemen ketimbang sel atau tentang liarnya pembajakan DVD. Karya dibuat memang harus dekat dengan rakyat. Joko jelas bukan seniman salon seperti yang dikatakan Rendra. Adalah memang tugas seniman berbicara mengenai kota dan rakyatnya.

Menonton film ini seakan menyatakan bahwa satu-satunya hiburan orang kelas menengah ke bawah adalah melakukan hubungan seksual. Mereka acuh, apatis pada pemilihan presiden. Presiden memang selalu berganti tetapi nasib mereka tak pernah meningkat. Maka wajar saja bila mereka lebih memilih berdiam diri di kos-kosan sempitnya sambil menikmati FTV dengan semangkuk mie goreng.

Chicco Jerikho dan Tara Basro sebagai tokoh Alek dan Sari sekaligus yang mengarahkan kita kemana film ini akan berlabuh. Mereka aktor yang mengagumkan, berani keluar dari “dirinya sendiri” dan “mengalami” orang lain. Jauh dari kebanyakan aktor Indonesia yang berdiam di titik nyamannya saja. Lebih dari itu semua, saya tidak akan lupa bagaimana tajam matanya Tara Basro. Ia menggemaskan dan saya jatuh cinta.

Di akhir tulisan ini, saya hanya mau mengatakan sesuatu, bahwa Jakarta selalu memaksa rakyatnya untuk merasakan kekalahan. Film ini dibuat hanya sebagai bentuk perlawanan kecil. Kalau Anda juga mau melawan, ajaklah saya menonton untuk kedua kalinya!

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rachmat’s story.