Hujan, Ryan dan Percakapan-Percakapan

Ketika shalat isya di Masjid, hujan tiba-tiba deras jatuh dari pipi langit. Saya tidak tahu siapa yang langit rindukan. Atau barangkali ia hanya sedang bersedih dan saya tidak tahu karena apa. Saya sebetulnya peduli. Jika langit seorang anak-anak, seperti Ryan, akhir pekan ini mungkin akan saya ajak ke Katakerja.

**

Telah tiga hari ini Ryan bertanya, “Pernahki pergi perpustakaan?” Sepertinya memang ia lebih baik melihat hal-hal baru ketimbang hanya duduk di depan televisi sampai kantuk menyerangnya. Katakerja adalah perpustakaan yang didirikan oleh anak-anak muda keren di daerah Wesabbe, Makassar. Saya akan mengajaknya ke sana. Bukan supaya ia menjadi rajin membaca, tetapi supaya ia melihat banyak gambar dan warna. Katakerja saya kira baik untuknya.

Pernah pada suatu pagi, dalam perjalanan dari rumah menuju sekolahnya ia bertanya belaka, “Kenapa baju seragam sekolahku tidak sama sama dia?”. ‘Dia’ yang ia maksud adalah seorang anak berseragam putih merah yang sedang dibonceng sepertinya oleh Ayahnya. Seragam sekolah dasar negeri seperi kebanyakan.

Ryan memang disekolahkan di sebuah sekolah yang juga mengharuskannya menghafal Al-Qur’an di sela-sela belajarnya. Ia juga belajar Aqidah Akhlaq, Fiqh, Al-Qur’an dan Hadits dan pelajaran pelajaran yang saya dapatkan ketika di pesantren dahulu. Wajar saja bila ia pulang pukul empat sore. Wajar juga kalau pada jam-jam sembilan malam, ia sudah lelap. Kecapean.

Pelajaran yang banyak itu kadang membuat saya khawatir. Saya hanya mencemaskan bila ia tidak menikmati masa-masanya di waktu seperti ini. Bermain dengan temannya di selokan mencari ikan, main layangan, main kelereng atau apa saja. Ryan hanya lebih banyak di dalam rumah. Seringkali kutanyai perihal teman-temannya namun ia selalu menjawab datar-datar saja. Ryan tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tentunya pemalu. Namun tentu tidak untuk pertanyaan-pertanyaan.

Pernah pula ia bertanya, “Kenapa Muhammad harus jadi Nabi?”, “Kira-kira kalau cita-citaku mau jadi Rasul, bisaji?” atau “Adakah itu keluarganya Allah?”. Bagaimana pula saya menjelaskan pada seorang bocah umur sepuluh tahun ini.

Sehingga saya harus memiliki cara tertentu untuk menjawab atau paling tidak, lari dari pertanyaannya. Bukan karena apa, semakin ia bertanya, semakin banyak pula pertanyaannya. Kadangkala ketika saya lihat ia ingin mulai bertanya, saya menanyainya lebih dulu, “Sudah mki hafal surah Al Buruj?” atau “Ada PRta?” atau “Kenapa selalu diam?” kadang-kadang saya tanya, “Kenapa begitu jalanta?”. Saya berusaha menanyai apa saja. Namun pernah suatu kali di meja makan ketika saya bertanya, ia malah menjawab dengan pertanyaan, “Kenapaki selalu banyak tanya?” dan “Kenapaki mau taukah?”

**

Hujan masih mengguyur di luar masjid. Sehabis sholat, saya langsung memakai sendal lalu pulang ke rumah. Kuyup sekali. Tak lama berselang, Ryan juga tiba. Dan, lagi-lagi ia bertanya,

“Kenapaki nda pakai payung?” Tanyanya menyelidik. Sebab saya seharusnya sepayung bersamanya ketika pulang.

“Kenapakah?” Saya berusaha bertanya ketimbang menjawab.

“Basah.” Jawabnya. Datar.

“Kan bisa dikeringkan. Memangnya kalau basah kenapa? Air cuma air ji”. Tanyaku lagi, menantangnya.

“Kalau basah kepalata, nanti sakit, nabilang Mama.” Ia sengaja mengikut sertakan Ibu kami di percakapan itu, berharap ia menang.

“Nanti dikeringkan kalau basah. Itumi gunanya ada handuk.” Jawabku lagi. Ia masuk ke dalam rumah. Mengganti bajunya dan mulai ke meja makan.

Saya menang.

42 menit setelahnya, di sinilah saya berada. Terbaring di kasur, sambil menghirup aroma minyak kayu putih.

Ryan mendekat, tersenyum dan lari ke atas, mengambil bukunya dan pura-pura membaca.

Senyumnya itu. Saya tahu betul senyum itu. Senyum mengejek. Sialaan. Ia menang. Telak.

Pagi ini, Ryan bersama teman sekolahnya akan pergi ke Leang-leang, sebuah taman wisata di Maros, Sulawesi Selatan. Ia tidur lebih awal semalam setelah membeli snack di warung pojok dan memasukkan perlengkapannya di tasnya.

Saya harus mengantar Ryan ke sekolah sekarang. Sepagi ini. Sebetulnya saya masih mengantuk. Saya berharap bahwa menulis bisa membuat kantuk saya hilang segera. Bukan. Saya nyatanya membutuhkan ucapan selamat pagimu. Ya, kamu.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rachmat’s story.