Saya menulis puisi ini sekitar tiga tahun lalu ketika saya masih belajar menulis puisi. Sebetulnya hanya sebagai permainan belaka. Tentu saya terinspirasi oleh dua orang penyair. Pertama dari puisi Aan Mansyur dengan “Sajak Huruf Tak Cukup”, selanjutnya adalah Sutardji Calzoum Bahri dengan “Tragedi Sihka dan Winka” dan “Luka”.

Saya membayangkan huruf-huruf itu adalah manusia belaka, atau memang merupakan zat yang hidup. Saya kira huruf akan sulit jika berdiri sendiri. Huruf selalu ingin ditemani agar menjadi sebuah kata, kemudian menjadi kalimat. Jika langgeng, maka akan tercipta tulisan yang panjang.

Huruf-huruf memiliki ruhnya sendiri.

(Sejak saya berpikiran seperti ini, saya berusaha untuk tidak menyingkat kata, dalam pesan atau chat yang saya kirimkan ke orang-orang)

Manusia adalah binatang sosial. Maka orang akan begitu sulit untuk menjalani hidupnya jika sendiri dan kesepian. Hurufpun butuh pasangan. Jika menjadi sederet puisi, itu berarti sama saja kita telah merentangkan beberapa hadiah pelukan, menurut Aan dalam kata pengantar buku “Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini”.

Saya juga mengira bahwa pada mulanya huruf itu tak saling kenal mengenal antara satu dengan yang lainnya. Mereka asing seperti bayi yang baru lahir. Saya membiarkan mereka berserakan dan berceceran seperti di dalam sebuah kota yang sesak. Saya merelakan huruf-huruf itu tumbuh dan menjadi dewasa. Lebih dari itu, saya memberikan kebebasan kepada huruf-huruf tersebut untuk bertindak dan melakukan apa yang mereka inginkan.

Setiap saya melihat penampakan puisi ini, saya menikmatinya sebagai sebuah lukisan. Bisa jadi juga, begitulah saya merayakannya.

Saya mengira manusia hanya hendak menjadi puisi, atau paling tidak, sebuah kata saja. Satu kata saja. Tapi selalu saja saya merasa bahwa orang-orang tak pernah benar-benar utuh. Entah karena apa.

Maka kesimpulan awal saya, bahwa ketidakutuhan manusia, bisa diutuhkan oleh ketidakutuhan manusia yang lain. Dengan kata lain, saya percaya jika orang menganggap bahwa manusia jatuh cinta, untuk saling melengkapi. Setiap huruf adalah pelengkap bagi huruf yang lain. Setiap hati adalah pelengkap bagi hati yang lain. Mungkin saja.