The First Grader: Dari Inspirasi, Pendidikan dan Ingatan

Inspirasi. Mungkin latar belakang kebanyakan orang dalam membuat film hanya karena ia ingin ‘balas dendam’ kepada beberapa orang yang telah membuatnya terinsipirasi. Saya berasumsi demikian karena saya baru saja menyaksikan film The First Grader (2010) arahan sutradara Justin Chadwick yang dibintangi oleh Naomie Harris, Oliver Litundo dan Tony Kgoroge. Film ini menceritakan tentang pendidikan dan ingatan. Berangkat dari kisah nyata, seorang bekas veteran tua berumur 84 tahun yang berkeinginan keras untuk bisa membaca sebuah surat yang telah lama ia simpan. Sementara ingatan tentang penjajahan yang dilakukan oleh British terhadap keluarga dan sukunya, Mau Mau, tak akan pernah lenyap di dalam kepalanya. Masa lalu memang tak akan ada manfaatnya kecuali dijadikan pelajaran saja di hari kemudian.

Membuat film sejarah, apalagi di dalamnya terdapat duka yang mendalam akibat kolonialisme hanya akan mengungkit luka lama yang telah terpendam. Tapi demikianlah memang niat Justin Chadwick, mungkin ini adalah reaksi dari apa yang telah Gandhi lakukan dahulu, menunjukkan penderitaan di depan mata penjajah sehingga mereka bisa melihat jelas ketidakadilan sedang berlaku dengan mata kepalanya sendiri. Saya kira hal itu lebih menyiksa ketimbang melakukan pembalasan dengan menggunakan kekerasan. Tentu Kenya berhak mendapatkan balas budi, sebagai ucapan terimakasih, dari British atas apa yang telah mereka lakukan di masa lampau. Sama halnya dengan Belanda atau Jepang terhadap Indonesia. Saya bahkan memiliki teman yang mendapatkan beasiswa tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikannya ke Jepang hanya karena neneknya masih trauma atas apa yang terjadi di masa lalu.

Nicholas Proferes dalam bukunya Film Directing Fundamentals menyebutkan bahwa film adalah bahasa yang digunakan untuk menceritakan kisah dan naratornya adalah kamera itu sendiri. Film ini meskipun tidak begitu banyak dialog, tetapi narasi kameranya sangat jelas mengucapkan ‘kata per kata yang kemudian menjadi kalimat’ yang hendak ia sampaikan kepada penonton. Tentunya film genre seperti ‘ini’ tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya menyukai hal-hal yang berbau verbal. Kebanyakan film Indonesia juga terlalu ‘sibuk’ dengan detail-detail adegan dan sinematografi sampai menepikan substansi dari film itu sendiri. Dan dalam hal ini, saya sependapat dengan Joko Anwar dalam salah satu diskusi bahwa karakter pemain yang menghidupkan cerita into life, bukan sinematografi, bukan berarti saya mengatakan sinematografi tidak penting. Hal itu penting, tetapi harus disesuaikan dengan porsi dramaturgi cerita. Film-film klasik seperti Andrei Tarkovsky atau Ozu Yasujiro , atau film-film keluaran (beberapa) tahun lalu seperti “Tomboy (2011)”, “Blue Is The Warmest Color (2013), “The Way He Looks (2014)”, “Lilting (2014” bisa menjadi referensi penting untuk hal ini.

Berbicara tentang keaktoran, saya pernah membaca Diktat Estetika, buku kuning yang saya dapatkan dari salah satu mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Buku tersebut selaras dengan apa yang Elly A. Konijn pikirkan ketika menulis Acting Emotions, bahwa aktor yang baik adalah aktor yang tidak merasakan apa-apa, feels nothing. Ketika seorang aktor berlakon, yang mengontrol dirinya adalah jiwanya, sementara yang mengawal jiwa seseorang adalah Tuhan itu sendiri. Maka secara tidak langsung, apa yang kita lihat adalah apa yang Tuhan ingin kita saksikan di layar kaca, tentunya melalui representasi dari aktor. Maka ketika Oliver Litondo memerankan tokoh Maruge dalam film tersebut, yang tampak di matanya adalah ketulusan dan kejujuran, meskipun secara sadar kita tahu bahwa yang dihadapan kita hanyalah sebuah film, hasil penceritaan ulang dari sebuah kisah nyata. Sebab semakin banyak seorang aktor tutupi dalam berlakon, semakin kelihatan ketidaknyataannya, seperti kata Donna Sotto-Morettini dalam Philosophical Actor.

Dari film ini, meskipun keluaran lima tahun yang lalu, seharusnya bisa menjadi tolok ukur kembali negara-negara berkembang, terutama dalam membuat sebuah film sejarah. Telah ada “Sang Pencerah (2010)”, “Sang Kiai (2013)”, “Soekarno (2013)”, “Host Tjokroaminoto (2015)” dan yang akan dirilis dalam waktu dekat ini yaitu Wiji Thukul dan Kartini. Saya kira wacana perfileman di Indonesia akan lebih meriah bila ada diskursus jauh sebelum film tersebut dibuat. Semakin banyak wacana yang ditanam, semakin banyak buah yang akan dituai. Kritik-kritik di Twitter, Facebook atau media sosial lainnya adalah fakta, meskipun tidak serius, bahwa masyarakat Indonesia aktual dalam menanggapi sebuah isu masa kini. Hal ini sangat koheren dengan buku Understanding Film — Marxist Perspective karangan Mike Wayne, Indonesia — meskipun kemerdekaannya prematur — telah mampu memanfaatkan media secara signifikan sebagai komponen krusial dalam mengontrol sensitivitas masyakarat Indonesia pada umumnya.

Terakhir, saya ingin mengingatkanmu percakapan Maruge bersama gurunya ketika telah mengetahui isi surat yang telah lama ia simpan itu.

Maruge : “This is not the end, you know. I will continue learning. I want to become a vet.”

His Teacher : “A vet?” But you will be a 100 years old.”

Maruge : “No, (I will learn) until I have soil in my ear.”

Kemudian Maruge tertawa.

� ��

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rachmat’s story.