Why I am a Christian (1)

Beberapa waktu ini, banyak orang mulai mempertanyakan kepada Saya “Why are you Christian?”. Bagi saya pertanyaan itu sangat bisa dijawab secara rasional dan secara pengalaman. Justru ketika kita menjawab, jawaban kita akan menjadi sebuah keuntungan agar kita semakin belajar untuk tidak menyimpan Tuhan untuk diri sendiri. Matius 5 : 16 versi the message menyatakan “God is not a secret to be kept”, Tuhan bukanlah suatu rahasia untuk disimpan. Karya salib Yesus bukanlah suatu rahasia untuk disimpan. Pengampunan bukanlah suatu rahasia untuk disimpan. Berita Anugerah bukanlah suatu rahasia untuk . Kasih sejati bukanlah suatu rahasia untuk disimpan.

Ketika pertanyaan “Why are you a Christian?” muncul, saya pribadi akan menjawab “Karena saya memilih untuk menjadi kristen, dan Saya sangat serius dengan apa yang dilakukan Yesus di kayu salib?”. Saya memilih jadi kristen bukan karena saya dilahirkan dalam keluarga kristen (bukan auto kristen) dan apalagi Ayah saya seorang pendeta (nb: percayalah menjadi anak pendeta pilihannya hanya ada dua yaitu kristen taat dan bajingan). 31 Agustus 2012 itulah titik dimana saya memilih menjadi kristen. Momen tersebut tidak bisa saya lupakan sampai hari ini, momen dimana Kasih Anugerah itu menyelamatkan saya.

“Amazing Grace, How sweet the sound
That saved a wretch like me
I once was lost, but now am found
T’was blind but now I see”

Kehidupan saya sebelum mengerti apa yang Yesus lakukan di kayu salib, sangat begitu berantakan. Jadi ceritanya seperti ini, saya dilahirkan dari keluarga Pendeta dan Saya mempunyai 4 saudara laki laki. Papa saya seorang pendeta, tapi Beliau tidak pernah mengurusi saya dan selalu pelayanan, Mama saya seorang yang dilahirkan dari keturunan keraton sehingga dia mempunyai kehormatan yang sangat tinggi, dan Mama tidak segan segan kalau memarahi saya dengan kalimat/ kata yang sangat tajam seperti “Bajingan, Asu, Goblok”. Kakak kakak saya mereka tidak menginginkan kehadiran Saya dirumah. Ketiga hal tersebut membuat luka yang cukup dalam di dalam hati saya. Singkat cerita ketika SMP, saya mulai kenal dengan bokep, rokok, narkoba (ganja), minuman keras. Saya mencoba hal itu semua agar saya ingin diterima dilingkungan sekitar, karena luka yang dalam itu dan saya merasa tidak diterima di keluarga saya. Masuk SMA, saya menjadi semakin parah akan penerimaan walaupun posisi saya sudah lepas dari rokok, ganja, dan minuman keras, tetapi saya tetap ingin diterima oleh lingkungan sekitar alhasil saya menjadi seorang yang “caper” (cari perhatian). Hal itu saya lakukan agar luka batin yang saya alami sembuh.