Krisis Penduduk di Jepang
Jepang merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-10 sedunia. Namun, bila dibandingkan dengan negara lain di bawah Jepang seperti Meksiko, Filipina, dan Mesir, pertumbuhan penduduk Jepang justru yang paling rendah. Pertumbuhan penduduk di negara ini menjadi masalah yang tak kunjung selesai bahkan cenderung memburuk. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya 372.000 penduduk Jepang pada tahun 2017 sehingga populasi Jepang menjadi 126,71 juta jiwa. Penurunan populasi terjadi di 40 prefektur dari 47 prefektur yang ada di Jepang. Penurunan populasi ini sebanding dengan penurunan angka kelahiran yang hanya menembus 941.000 bayi. Angka ini turun 4% dari tahun 2016 dan bahkan menjadi yang terendah dalam satu abad terakhir, semenjak Kementerian Kesehatan Jepang pertama kali melakukan pendataan kelahiran di tahun 1899. Buruknya lagi, angka kematian pun diperkirakan akan terus bertambah mengingat persentase penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun yang sebesar 27,2% dari total populasi. Ditambah lagi, persentase generasi penerus atau penduduk berusia di bawah 15 tahun hanya sebesar 12,3% dari total penduduk Jepang. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan bagi masyarakat Jepang itu sendiri dan pertanyaan besar di benak warga negara lain. Bagaimana bisa negara dengan teknologi di bidang kesehatan yang maju mengalami hal tersebut?
Ternyata ancaman krisis penduduk ini disebabkan oleh beberapa hal di antaranya:
1. Rendahnya minat untuk menikah
Di Jepang, wanita muda berusia 20-an tahun enggan untuk menikah karena beratnya beban yang harus ditanggung bila mereka menjadi seorang ibu rumah tangga nantinya. Mereka tidak bisa bekerja dan harus tinggal di rumah untuk mengurus keuangan rumah tangga dan mendidik anak (kyoiku mama). Sedangkan suami akan bekerja sepanjang hari (hatarakibachi). Tuntutan untuk menyekolahkan anak di tempat bergengsi dan mencapai nilai akademik tinggi juga harus mereka penuhi karena bila tidak suami cenderung menyalahkan istri atas kegagalannya mendidik anak. Tekanan dan rasa terkekang inilah yang membuat banyak ibu rumah tangga di Jepang bunuh diri.
Tak hanya kyoiku mama yang sering berujung pada kasus bunuh diri, mahalnya biaya hidup di Jepang juga mempengaruhi minat generasi produktif di Jepang untuk menunda pernikahan. Biaya sewa apartemen, biaya hidup, biaya kesehatan, dan biaya pendidikan anak yang sangat tinggi membuat mereka enggan untuk menikah karena hanya membuat pengeluaran semakin membengkak. Oleh sebab itulah pria maupun wanita Jepang usia produktif lebih memilih fokus ke pekerjaan dan karier mereka.
2. Tingginya angka harapan hidup
Banyaknya populasi penduduk Jepang berusia lanjut ternyata disebabkan oleh tingginya tingkat harapan hidup. Di tahun 2016, tercatat perempuan Jepang memiliki angka harapan hidup mencapai 88,5 tahun sedangkan pria 81,7 tahun. Selain itu, banyak juga penduduk Jepang yang berusia lebih dari 100 tahun.
3. Adanya robot ‘pengganti istri’
Kemajuan teknologi terutama di bidang robotika telah merambah ke seluruh aspek kehidupan masyarakat Jepang. Bahkan kini telah diciptakan robot yang mirip manusia/humanoid yang bertugas sebagai penghibur para pria Jepang. Robot-robot itulah yang dibeli mereka, para pria Jepang yang enggan berkomitmen untuk menikah, untuk menemani mereka agar tidak kesepian. Namun, sampai saat ini keberadaan robot tersebut masih menjadi pro-kontra di masyarakat Jepang.
Peliknya permasalahan penduduk ini membuat Pemerintah Jepang berusaha untuk menanggulangi permasalahan tersebut di antaranya adalah dengan memberi tunjangan khusus bagi keluarga yang mau memiliki lebih dari tiga anak dan pemberian cuti melahirkan yang cukup lama (6 minggu sebelum kelahiran dan 8 minggu setelah kelahiran) kepada ibu yang bekerja. Namun, melihat data-data kependudukan di tahun 2017 yang telah dipaparkan di atas, agaknya solusi itu masih belum berdampak masif dan berpengaruh besar terhadap peningkatan angka kelahiran di Jepang.
Solusi lain yang mungkin bisa dicoba untuk digalakkan adalah dengan melakukan sosialisasi mengenai pentingnya menikah di perkantoran. Sosialisasi tersebut sebaiknya dilakukan secara intens dan berkala agar setidaknya bisa mengubah persepsi masyarakat Jepang akan pernikahan. Selain itu, pemerintah sebaiknya memberikan wadah untuk berkenalan dan mencari jodoh agar masyarakat Jepang yang berminat untuk menikah terfasilitasi menuju jenjang itu dengan baik.
Referensi:
Atriana, Rina. 2017. Angka Kelahiran Jepang Capai Rekor Terendah di 2017. Detik.com. https://news.detik.com/internasional/d-3783589/angka-kelahiran-jepang-capai-rekor-terendah-di-2017
Suhartono, Anton. 2018. Jumlah Warga Jepang Turun 372.000 Jiwa pada 2017, Ini Datanya. INews.id. https://www.inews.id/news/read/93993/jumlah-warga-jepang-turun-372-000-jiwa-pada-2017-ini-datanya?sub_slug=internasional
