Angkot dan Kompetisi Interspesifik

Angkot merupakan sebuah fenomena sosial yang cukup unik. Pada dasarnya, angkot muncul karena alpanya sistem transportasi yang mumpuni, terutama transportasi ke pemukiman-pemukiman yang tidak terjangkau oleh layanan transportasi seperti bus dan kereta. Taksi? Taksi terlalu mahal untuk mereka dengan status ekonomi menengah kebawah.

Dalam pertanian, ular digunakan oleh petani sebagai alat kontrol populasi tikus. Jika ular dibinasakan, maka populasi tikus akan meledak; meledaknya populasi tikus akan membuat tikus-tikus ini berbuat sesuka hati mereka, yang mana kemudian akan menyebabkan berkurangnya secara drastis hasil panen pertanian.

Hal yang sama terjadi dengan angkot. Ada kealpaan kompetisi dari moda transportasi lain yang menyediakan jasa serupa, sehingga satu-satunya kompetisi yang terjadi adalah kompetisi intraspesifik— kompetisi antara spesies yang sama untuk mendapatkan sumber daya tertentu.

Lewat wawancara yang dilakukan oleh detik.com pada tanggal 21 Desember 2016, gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjanjikan bahwa pengemudi Transjakarta akan diberikan gaji paling sedikit 2x upah minimum provinsi (UMP) hingga paling besar 4 hingga 4,5 UMP. Hal ini, menurut beliau dikarenakan seorang pengemudi Transjakarta berkewajiban untuk membawa ratusan penumpang.

Hal tersebut berbeda dengan sistem penggajian dari mereka yang menjadi pengemudi angkot. Hampir kebanyakan pengemudi angkot, bekerja sebagai freelancer dengan pengecualian mereka yang memiliki angkot tapi tetap membawanya sendiri. Biasanya, calon pengemudi akan datang ke tempat pemilik angkot dan “meminjam” angkot mereka selama sehari penuh dengan biaya tertentu yang harus mereka setorkan.

Sistem setoran menimbulkan kompetisi intraspesifik dalam dunia angkot karena mereka harus mengumpulkan uang untuk membayar setoran dan bensin dan untuk upah mereka sendiri — yang kemudia menyebabkan banyak hal: penelantaran penumpang selama lebih dari 45 menit demi jumlah penumpang maksimal dan gaya menyetir yang ugal-ugalan, yang biasanya muncul karena rasa superioritas pengemudi terhadap nyawa para penumpang yang ada di tangan mereka. Ditambah lagi, terkadang para pengemudi angkot tidak memiliki surat ijin mengemudi, dan punya stabilitas emosi yang cukup — cukup rendah, maksudnya.

Semuanya berjalan cukup lancar bagi para pemilik dan pengemudi angkot. Sampai tahun 2015, nampaknya. Lewat sebuah rangkuman yang ditulis oleh Kumparan, tahun 2015 disinyalir sebagai bangkitnya musuh baru yang harus dihadapi oleh para angkot. Kompetisi yang selama ini intraspesifik menjadi interspesifik. Moda transportasi dimana penumpang mampu memanggil pengemudi yang ada dekat mereka, dan mampu mengantar penumpang menuju tempat tujuan. Transportasi daring.

Transportasi-transportasi daring ini tidak memiliki hal-hal negatif yang sebelumnya ada pada angkot. Menelantarkan penumpang lain untuk menunggu calon penumpang lebih dari 30 menit? Buat apa? Toh pengemudi yang akan mendatangimu. Menyetir dengan ugal-ugalan? Laporkan kepada pihak manajemen dan masalahmu selesai. Tidak ada lagi pula rasa superioritas yang muncul dari para pengemudi.


Di daerah tempat saya tinggal, hingga beberapa hari lalu — tulisan ini dibuat tanggal 16 Maret 2017 — sempat terjadi keributan antara angkot dan transportasi daring. Seluruh pengemudi angkot melakukan demo dengan cara tidak mengangkut penumpang sama sekali, yang diikuti dengan protes terhadap transportasi daring yang dinilai telah melukai penghasilan mereka.

Selama beberapa hari, pengemudi transportasi daring harus bekerja dengan teror. Bagaimana tidak? Tersebar rumor bahwa pengemudi-pengemudi angkot melakukan sweeping terhadap kendaraan-kendaraan yang mereka curigai sebagai kendaraan yang bekerja pada perusahaan transportasi daring. Sampai-sampai, ada kejadian dimana salah satu karyawan transportasi daring dengan sengaja ditabrak oleh angkot.

Oknum pengemudi dalam video di atas akhirnya berhasil diamankan. Tapi, setelah diamankan oleh petugas, apa yang akan terjadi? Kemungkinan besar, tuntutan yang akan diberikan kepada pelaku adalah percobaan pembunuhan berencana dengan hukuman kurungan maksimal 15 tahun.

Sebelum muncul di Youtube, video penabrakan karwayan transportasi daring di atas telah sebelumnya menjadi bahan perbincangan di Facebook. Dengan beredarnya video semacam itu, bukankah penumpang yang berniat menggunakan jasa mereka akan semakin berpikir beberapa kali sebelum memutuskan untuk menggunakan angkot, alih-alih moda transportasi lainnya?


Kini, ekosistem transportasi umum berubah. Tidak ada lagi kompetisi intraspesifik antar angkot untuk calon penumpang; kini muncul entitas baru yang secara tiba-tiba dan dalam jumlah masif ke dalam lahan buruan angkot. Kompetisi intraspesifik mereka punah, dan masuk ke dalam kompetisi interspesifik.

Seperti yang telah dituliskan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, seorang konsumen memiliki beberapa hak atas barang dan/atau jasa. Salah satu poinnya adalah dimana konsumen memiliki hak untuk memilih barang dan/atau jasa. Lewat ini, seharusnya tinggal bagaimana cara mereka yang berkompetisi agar penumpang memilih mereka alih-alih moda transportasi lainnya.

Interior Angkot Kebanyakan

Dengan biaya transportasi yang murah dengan biasanya paling mahal Rp 10.000 untuk jarak terjauh, tentu saja tidak bisa terlalu diharapkan angkot memiliki interior yang baik, jadi yang tersisa hanyalah bagaimana pengemudinya bersikap.

Tapi dengan angkot, hal ini adalah sebuah judi yang cukup berbahaya. Iya, Rp 10.000 adalah harga yang murah jika kebetulan anda mendapatkan pengemudi yang baik, taat lalu lintas, dan tidak terlalu lama menunggu penumpang. Tapi jika tidak?

Jika ingin memenangkan kompetisi interspesifik ini, angkot harus berubah. Penumpang pada akhirnya akan menjadi muak jika mereka harus selalu dibiarkan terlantar menunggu satu atau bahkan tidak ada calon penumpang selama 30 menit lebih. Penumpang akan merasa tidak aman, jika pengemudi terus menyetir secara ugal-ugalan. Pada akhirnya, semua tergantung kepada penumpang.

Apakah penumpang merasa, bahwa nyawa mereka pantas dihargai Rp 10.000?