Fakir Aksara

Terkadang aku ragu dan takut untuk menulis.

Aku takut rantai kata yang melayang abstrak dalam khayalku, tereduksi menjadi goresan murah yang merangkak tak berarti pada secarik kertas.

Dari konstelasi pegasus menjadi anak kodok, dari kobaran api menjadi abu, dari paus terbang menjadi rumput laut.

Akan lebih indah jika butiran pasir aksara ini kubiarkan menumpuk menjadi gurun yang kering tanpa apresiasi. Maha luas, tak pernah mewujud, tak terusik, selamanya murni dan sunyi.

Tapi aku rasa itu bukan perlakuan yang tepat. Aksara, secara etimologis, memiliki arti “kekal” atau “tak termusnahkan”. Mungkin biarlah mereka mewujud dalam goresan tinta, karena kalaupun buruk rupa, kelak mereka akan bertahan.

Aksara tidak harus cantik, aksara akan bertahan. Mewujud lalu mengendap dalam benak.

Tapi aku ingin tulisanku indah. Sedapat mungkin aku ingin manifestasi bisikan angin ini tak berkurang kharismanya.

Untuk itu, aku tidak mau berhenti membaca. Aku akan selalu haus akan makna dalam kata, tenggelam dalam adiksi pemburuan keindahan dalam setiap goresan pena. Hingga kelak suatu hari aku mampu mencurahkan ilusi verbal ini dalam bentuk yang seharusnya.

Semoga sekarang, nanti, dan selamanya, aku tetap seorang fakir aksara.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.