Hatta

Apa yang paling menarik dari tokoh seperti Hatta? Apakah kesederhanaan beliau hingga tidak bisa membeli sepatu yang diinginkan? Apakah karena beliau merupakan bapak bangsa yang sangat religius? Ataukah kemauan beliau yang kuat untuk memperjuangkan kemeredekaan Indonesia sampai-sampai pantang menikah sebelum Indonesia merdeka? Atau sebenarnya semua itu hanyalah gejala-gejala dari sesuatu yang lebih mendasar, yang sering luput dari pemaknaan polos kita akan sejarah yang hanya sampai kulitnya? Apa pelajaran paling penting dari masa lalu untuk membentuk masa depan?

Ada dua pandangan yang saling berlawanan dalam metode pengkajian sejarah. Pandangan pertama adalah “The Great Man Theory” yang dipopulerkan oleh Thomas Carlyle, seorang penulis berkebangsaan Skotlandia pada tahun 1840an. Pemikiran abad ke-19 ini berpendapat bahwa sejarah dunia pada dasarnya adalah biografi orang-orang “hebat”. Orang-orang “hebat” yang dimaksud adalah orang-orang yang sangat berpengaruh entah karena kharismanya, kecerdasan, kebijaksanaan, atau keahlian berpolitik yang berhasil menggunakan kekuatannya dengan cara sedemikian rupa sehingga meninggalkan bekas pada sejarah. Contoh “great man” adalah Napoleon, Hitler, Mahatma Gandhi, dan sebagainya.

Pandangan kedua dibawakan oleh Herbert Spencer pada tahun 1860 dan berpengaruh hingga zaman sekarang yang mengkritik “The Great Man Theory”. Para orang-orang “hebat” ini hanyalah hasil dari masyarakat atau lingkungan tempat mereka berada, dan tindakan mereka untuk meninggalkan bekas pada sejarah itu sendiri tidak akan mungkin tanpa adanya kondisi-kondisi sosial tertentu yang telah terbentuk sebelum kehidupan mereka. Sehingga di masa kehidupan mereka, panggung perubahan telah siap dan mereka hanya tinggal menyelesaikan apa yang telah dibangun oleh generasi sebelum mereka. Mengacu pada contoh sebelumnya, seorang Napoleon tidak mungkin berkuasa jika bukan karena Revolusi Perancis, seorang Hitler tidak mungkin naik kalau bukan karena dendam kekalahan Jerman pada Perang Dunia I, dan Mahatma Gandhi tidak ada apabila India tidak dijajah Inggris.

Namun dari kedua pandangan ini, aku lebih setuju dengan William James pada kuliahnya yang berjudul “Great Men and Their Environment” bahwasanya individual dan lingkungan bersama-sama saling berinteraksi timbal balik dalam membentuk sejarah, salah satu tidak berperan lebih dibandingkan yang lain. Setiap zaman (lingkungan) akan melahirkan revolusionernya (individual) masing-masing, dan para revolusioner itu akan membuka gerbang menuju zaman baru, yang kemudian akan melahirkan revolusioner-revolusioner baru lagi, demikian seterusnya.

Lalu bagaimana dengan Hatta? Bagaimana Hatta dibentuk oleh zaman sebelumnya, dan bagaimana Hatta membentuk zaman setelahnya? Bagaimana kita sebagai pemuda zaman sekarang bisa meneladani, atau bahkan melampaui Hatta? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk dibahas.

Hatta lahir di Bukittinggi, di lingkungan dengan kekentalan suasana keagamaan. Hatta kecil tumbuh menjadi sosok yang religius. Kemudian ia meneruskan pendidikan di MULO Padang. Di sana ia mengenal Jong Sumatranen Bond dan menjadi pengurus dan bendaharanya. Masa-masa ini penting karena ini adalah saat-saat kesadaran politiknya sebagai anak bangsa tumbuh dan berkembang. Pada 1919 ia merantau ke Betawi dan tinggal bersama Mak Etek Ayub, pamannya. Ayub membiayai semua kebutuhan Hatta di Betawi. Ayub pula yang memperkenalkan Hatta pada buku. Ia membeli tiga buku tentang sosial ekonomi: Staathuishoudkunde karangan N.G. Pierson, De Socialisten karangan H.P. Quack, dan Het Jaar 2000 karangan Belamy. Pada titik ini kecintaannya akan buku dan ilmu pengetahuan tumbuh. Lalu Hatta berangkat ke Belanda pada 1921 untuk melanjutkan pendidikan di Rotterdamse Handelshogeschool, sebuah sekolah ekonomi bergengsi. Di Belanda ia bergaul dengan banyak orang dan belajar menjadi manusia. Di sana ia berdebat, bertemu dengan tokoh komunis seperti Semaun dan Tan Malaka, belajar berorganisasi, dan juga merasakan penjara kolonial untuk pertama kali. Serangkaian pengalaman hidup yang demikianlah yang membentuk Hatta menjadi seorang “Hatta”.

Informasi yang diterima oleh manusia membentuk manusia itu sendiri. Manusia tersebut kemudian akan membentuk dunia di sekitarnya dengan tindakannya. Hatta adalah sebuah pelajaran tentang seorang yang terpelajar akan menerima banyak sekali informasi, mulai dari didikan keagamaan, kesadaraan kebangsaan, hingga pergulatan pikiran dengan para intelektual kelas dunia di Belanda. Teori bounded rationality yang diajukan Herbert A. Simon berargumen bahwa dalam mengambil keputusan, rasionalitas seorang individu terbatas oleh informasi apa yang ia miliki saat itu. Hatta berbeda dari pemuda kebanyakan pada zamannya karena beliau mengalami begitu banyak hal yang memperluas batas bounded rationality beliau yang kemudian membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab untuk berjuang demi bangsa ini.

Keteladanan Hatta memang sangat menginspirasi di tengah-tengah krisis keteladanan yang sedang melanda anak muda zaman sekarang. Namun Hatta dan kita hidup di zaman yang berbeda. Hatta hidup di zaman yang telah dibuat oleh para pendahulunya seperti raja-raja di kerajaan dari seantero nusantara dan organisasi-organisasi semacam Budi Oetomo dan Sarekat Islam. Kita hidup di zaman yang terbentuk oleh hasil perjuangan Hatta dan para penerus beliau sebelum kita.

Menurut Ibnu Khaldun, intelektual Islam revolusioner yang hidup di Abad Pertengahan, suatu negara atau peradaban akan berevolusi melewati berbagai tahap yang akan melahirkan berbagai tipe generasi. Generasi pertama adalah pelopor, orang-orang dengan semangat juang tinggi, pantang menyerah, cerdas , dan berkomitmen besar dalam membangun negaranya. Hatta dan generasinya termasuk pelopor. Generasi kedua adalah pembangun yang bekerja keras membangun bangsa hinga titik puncaknya. Generasi ketiga adalah penjaga tradisi, di mana perkembangan negara menjadi stagnan. Generasi keempat adalah generasi penikmat, mereka yang diuntungkan karena hasil kerja keras generasi-generasi sebelumnya tapi mereka sendiri hanya berfoya-foya dan tidak lagi peka terhadap kepentingan negara. Generasi terakhir adalah para penghancur. Mereka sama sekali tidak peduli terhadap nasib negara dan berbuat semaunya. Di tangan merekalah kejayaan negara diakhiri dan keruntuhan negara dimulai. Apakah kita termasuk generasi pembangun, penikmat, penjaga tradisi, penikmat, atau bahkan penghancur? Itu adalah sebuah keputusan yang harus diambil oleh generasi sekarang, oleh aku, kamu, dan kita semua. Akan termasuk generasi yang manakah kita?

Ditulis tanggal 10 Februari 2015 saat deadline pendaftaran Forum Indonesia Muda 17.