Busuk

Didalam kendaraan umum yang sesak ini, kucium bau busuk yang menyengat. Kupandang kanan dan kiri, para penumpang tampak tak menyadarinya.
Apa penciumanku terganggu? 
Kutoleh ke segala penjuru, tak kutemukan mobil truck sampah, galian got maupun sumber bau busuk lainnya.
Ditengah kemacetan lalu lintas, mobil ini berjalan merambat.
Semakin maju, semakin kencang pula aroma ini menyengat hidungku.

Aku ingin muntah, aku ingin mengeluarkan semua isi perutku tanpa kuketahui asal muasal mualku.
Perlahan, aku menatap ke depan, sebuah bangunan megah nampak didepan mataku.
Tinggi menjulang, semakin mendekati ke arah bangunan itu, semakin pula bau busuk itu menguat.
Sungguh, kutahan mualku demi kenyamanan didalam mikrolet tua ini.

Tak enak bukan jika tiba-tiba kumuntahkan makan siangku, nasi, tempe dan sambal.
Tak elit sungguh.
Penumpang lain pasti akan jijik melihatnya, lihatlah tempe busuk yang digoreng minyak jelantah, nasi dari beras jatah raskin dan sambal dari cabai busuk disertai micin sebagai penguat rasa.

Semakin merambat meninggalkan gedung itu, kusempatkan membaca nama bangunannya.
Pastilah rumah jenazah atau tempat penjagalan hewan.
Tapi kenapa begitu megah? Namun baunya sangat busuk.
Dewan Perwakian Rakyat, kubaca ulang dalam hati.
Bukankah itu tempat dimana para wakil kami para rakyat berada?
Ada apa gerangan disana? Apa yang menyebabkan bau menyengat itu muncul disana?
Apakah terjadi sesuatu? 
Perlahan kutatap papan nama itu menghilang seiring berjalannya mikrolet tua ini.

Kenapa semua penumpang tampak biasa saja? Seolah bau menyengat ini tak mengganggu mereka.
Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang gadis kecil, 6 tahun nampaknya.
Dia sepertinya mencium bau yang sama denganku, kudengar ia bertanya pada ibunya, "Mama bau busuk apa ini? Darimana asalnya?" Dia bertanya sembari menutup hidungnya.
"Ssshh diamlah, tidak ada bau apapun nak. Semua orang tidak ada yang mencium bau busuk. Hanya perasaanmu saja." Bujuk ibunya.
Nampak tak ada yang protes dengan pernyataan si ibu, tidak penumpang sebelahnya, tidak gadis SMA yang duduk dekat pintu.

Aneh... 
Kebusukan ini, tak seorangpun mencium maupu merasakannya. Tidak si ibu, tidak seorang bapak tua dengan jaket lusuh, tidak seorang mahasiswa yang nampaknya memeluk buku referensi kuliahnya, tidak si gadis SMA.

Aku merasa bau ini sudah wajar bagi mereka, tak akan menimbulkan masalah kecuali kau mulai membahasnya. Mereka nampaknya telah terbiasa, aku terheran. Berapa lama mereka sudah terbiasa dengan ini semua?

Apakah setiap hari mereka melewati gedung megah yang sama? Bagaimana mungkin gedung yang tertambat amanah atas nama Perwakilan Rakyat bisa mengeluarkan aroma begitu busuk? Apakah itu merepretasikan aroma keringat rakyat yang mereka wakilkan?

Tapi aku disini dalam mikrolet tua yang sesak, tak mencium bau busuk apapun. Walau kuyakin beberapa diantara kami sudah basah peluh, terbakar matahari dan diselimuti debu.

Kuhirup nafas dalam-dalam, untuk memastikan aku tidak sedang sinus. Terkejut diriku, tak kutemukan aroma busuk apapun dalam kesesakan ini.

Kucium aroma bekal gadis 6 tahun itu, cologne dua puluh ribuan gadis SMA, aroma kudapan dari ibu penjaja kue yang duduk paling ujung, parfum Issey Miyake milik mahasiswa didepanku bahkan balsem kakek berjaket lusuh.

Bau ini lebih menyenangkan, aku lebih terbiasa dengan ini. Lalu, kenapa wahai tuan dan nyonya Dewan Perwakilan Rakyat, gedung megah kalian berbau busuk?

Surabaya, 16 Oktober 2017.

[Terinspirasi dari sebuah perjalanan dalam kendaraan umum.]

Like what you read? Give thepatheticdreamer a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.