Memahami Klasifikasi Buta Warna Parsial

Beberapa besar penderita buta warna mengalami buta warna parsial. Sedikit sekali yang benar-benar mengalami buta warna total. Ciri-ciri penderita buta warna merupakan mempunyai persepsi yang berbeda tentang warna, dan tidak bisa membedakan warna tertentu.

Buta warna umumnya ditandai dengan kesulitan menyebut nama warna sejak kecil, berbeda dengan sahabat-sahabat seusianya yang bisa mengidentifikasi warna dengan mudah.

Secara garis besar, ada dua tipe buta warna, merupakan buta warna parsial dan buta warna total atau sebagian. Penderita buta warna parsial mungkin mempunyai kesulitan membedakan sebagian warna. Lalu ada pula buta warna total, tak jarang diketahui sebagai penglihatan monokromatik, ditandai dengan tidak bisa melihat warna sama sekali.

Buta warna parsial umumnya terjadi sebab unsur keturunan yang diwariskan dari keluarga yang mempunyai kelainan pada fotopigmen, merupakan molekul yang mendeteksi warna dalam sel-sel berbentuk kerucut pada retina.

Dalam klasifikasinya, buta warna parsial mempunyai dua kelompok, yang pertama merupakan buta warna atau kesulitan membedakan warna pada gradasi merah-hijau, dan kelompok kedua merupakan buta warna biru-kuning.

Buta warna merah-hijau disebabkan oleh ketiadaan atau berkurangnya fungsi sel kerucut merah atau kerucut hijau. Buta warna tipe ini terbagi menjadi empat tipe, merupakan:

Deuteranopi

Tak terdapat sel kerucut hijau membikin pengidap keadaan ini cenderung melihat warna merah menjadi kuning kecokelatan dan warna hijau menjadi krem.

Protanopia

Tak terdapat sel kerucut merah membikin warna merah kelihatan hitam. Sementara warna jingga dan hijau akan kelihatan kuning. Mereka juga sulit membedakan warna ungu dan biru.

Protanomali

Terdapat gangguan fungsi fotopigmen merah sehingga warna jingga, merah, dan kuning kelihatan lebih gelap menyerupai warna hijau. Situasi yang bersifat ringan ini diperkirakan dialami sekitar satu persen pria dan tidak semacam itu berpengaruh kepada kesibukan sehari-hari.

Deuteranomali

Pengidap deuteranomali melihat warna hijau dan kuning menjadi kemerahan dan sulit membedakan ungu dan biru. Situasi yang tidak berbahaya ini disebabkan oleh fotopigmen biru yang tidak normal. Sekitar lima persen pria dengan buta warna menderita keadaan ini.Sedangkan, buta warna biru-kuning disebabkan oleh hilangnya atau tidak berfungsinya pigmen foto kerucut biru (tritan). Buta warna tipe ini terbagi dalam dua tipe, merupakan:

Tritanomali

Terdapat gangguan fungsi fotopigmen biru membikin pengidap keadaan ini melihat warna biru kelihatan lebih hijau, serta sulit membedakan kuning dan merah. Situasi ini sungguh-sungguh jarang dialami, bagus oleh pria ataupun wanita.

Tritanopia

Tak terdapat sel kerucut biru yang cukup menyebabkan warna biru lebih kelihatan hijau dan warna kuning kelihatan menjadi ungu atau abu-abu muda. Situasi seperti ini juga sungguh-sungguh jarang dialami, bagus oleh pria ataupun wanita.

Buta warna parsial yang bersifat keturunan tidak bisa disembuhkan, sebab tidak mungkin menggantikan sel kerucut pada retina. Selama tidak mengganggu sebagian besar kesibukan sehari-hari, keadaan ini tidak memerlukan penanganan khusus sebab memang tidak memunculkan gangguan kesehatan kronis.

Akan tetapi jikalau buta warna parsial ataupun total disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu atau keadaan kesehatan yang sudah ada sebelumnya, maka keadaan seperti ini perlu penanganan khusus oleh dokter. Konsultasikan situasi sulit penglihatan buta warna parsial pada dokter mata, untuk menerima saran ideal, guna membantu penyesuaian diri kesibukan sehari-hari.