Hujan Ini

Rafael Yanuar
Sep 4, 2018 · 1 min read

Saat mendengar suara hujan di depan jendela, aku terkenang hari kita bertemu. Memang sudah lama berlalu, tapi rasanya baru kemarin aku menjumpaimu. Ketika itu, pada sebuah kafe, aku termangu memandang jendela. Di beranda, berjejer pot-pot besar yang ditumbuhi pohon palem. Di halaman hanya ada rerumputan yang sudah dipangkas. Hujan menyisakan embun di bulirnya. Aku lupa tengah melamunkan apa. Mungkin penyesalan yang sekarang sudah tak berarti.

Lalu perhatianku teralihkan padamu. Kau duduk membelakangiku, menopang dagu. Rambut panjangmu terurai hingga bahu. Di tanganmu ada sebuah buku yang hingga kini selalu membuatku penasaran, di sebelah kananmu secangkir lemon tea. Aku merasa seperti mata-mata, namun percayalah, aku hanya tak ada pekerjaan lain. Aku lupa membawa buku, juga peralatan gambar, dan memasuki kafe ini hanya karena ingin berteduh. Bukan dengan maksud lain. Dan sosokmu yang tenang menjadi pusat dunia di mataku.

Simfoni Clair de Lune dari Debussy melantun lembut saat aku memandangmu — menjadi sebuah lagu yang kelak mengunci kenangan ini di benak. Kini, saat mendengarnya, aku selalu teringat padamu.

Tentu saja, saat itu aku terlalu malu untuk mendekatimu. Tapi aku ingat, di bahumu terurai sehelai rambut yang terpisah dari yang lain. Aku tak tahu apakah jarak ini cukup dekat, tapi aku bisa mencium aroma parfum yang kaukenakan.

Pada akhirnya hujan berhenti, dan siang berlalu begitu saja. Kau pergi melewati pintu, begitu pun aku. Kita tak sempat berkenalan. Tapi pertemuan singkat itu sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk kembali ke kafe ini. Aku berharap ada kesempatan kedua.

Entah kapan.