Rafi Aulia Ilmi
Sep 5, 2018 · 3 min read

Perilaku “hate speech” di Media Sosial

Baru-baru ini telah terjadi sebuah ketegangan geopolitik di bumi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dipicu oleh serangkaian kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Mulai dari konflik internal antar kepanitiaan, gesekan panas antar fakultas, dan terakhir yang merupakan dalang dari itu semua yang tidak lain adalah perseteruan antar organisasi ekstra yang telah menjadi rahasia umum di tanah ciputat ini. Tidak hanya sampai di situ, perang dingin kembali terjadi di media sosial yang menjadi lambang kebebasan pers dalam konotasi yang negatif.


Beranjak dari fenomena perang dingin di media sosial tersebut, penulis mencoba menganalisa tentang perilaku manusia di zaman millennial ini. Dengan bermodalkan smartphone dan kuota, setiap orang kini bisa dengan bebas menyampaikan berbagai macam pendapatnya. Bahkan mirisnya, media sosial kini lebih sering dimanfaatkan untuk menyebarkan ujaran kebencian daripada mengisi dengan hal-hal yang lebih bermanfaat.

Tentu itu semua terjadi bukan tanpa sebab dan alasan. Nah, sampai disini kita menemukan suatu rumusan masalah, yaitu:

Apa yang menyebabkan manusia di zaman millennial ini gemar sekali menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial? Dan bagaimana cara menanggulangi perilaku ujaran kebencian dari dalam diri?

Secara garis besar, penulis akan memaparkan jawaban atas rumusan masalah tersebut dan coba menariknya ke dalam 2 perspektif.

Yang pertama, penulis akan memberikan pandangannya melalui perspektif psikologi.

Ujaran kebencian atau hate speech sejak tahun 2000-an semakin meningkat retensinya pasca dikenalkannya social media seperti facebook, twitter, youtube, instagram dan lain-lain.

Anne Weber (2009) menyatakan bahwa ujaran kebencian atau hate speech adalah mencakup semua bentuk ekspresi yang menyebarkan, menghasut, mempromosikan atau membenarkan kebencian rasial, xenofobia, anti-semtisme atau kebencian lainnya berdasarkan intoleransi. Atau dengan kata lain, ujaran kebencian atau hate speech adalah berbagai bentuk komunikasi yang bersifat menjelekkan, melecehkan, mengintimidasi, atau menghasut kebencian (provokasi) dan biasanya ditujukan pada upaya menyerang nama baik seseorang/individu dan grup/kelompok berdasarkan ras, etnik, agama, ataupun orientasi sosial lainnya yang dalam fenomena yang sedang kita analisa ini berupa organisasi ekstra kampus.

Mereka yang sibuk menyebarkan ujaran kebencian, entah tanpa disadari atau secara tidak langsung, mereka sama saja seperti mengklaim dirinya sebagai social justice warrior, yang seolah menyiratkan bahwa mereka mencari pembenaran diri, bukan karena benar-benar yakin dengan pandangan mereka. Itu sebabnya, para pengujar kebencian tidak pernah sadar akan tabiatnya sebagai manusia yang notabenenya adalah gudang kesalahan, mereka seolah tidak melihat ke dalam dirinya sendiri. Manusia dalam bersosial dan sebagai makhluk sosial, tentu semakin banyak melangkah akan semakin banyak salahnya, semakin banyak bicara maka akan semakin banyak kelirunya, karena memang itu adalah sebuah hal yang puguh.

Dan dari perspektif agama, sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Apabila dia (segumpal daging itu) baik, maka jasad (manusia) tersebut akan menjadi baik seluruhnya. Dan apabila dia buruk, maka jasad tersebut akan menjadi buruk seluruhnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim, muttafaqun ‘alaih)

Jika kita pahami secara mendalam hadits tersebut, ternyata hati sangat berperan dalam kehidupan manusia. Ada keterkaitan yang sangat erat antara hati dengan perilaku dan ucapan manusia.

Guruku pernah mengatakan, bahwa kebencian merupakan penyakit hati. Dan ketika hati sedang berpenyakit, maka akal pun sedang tak sehat, sehingga apa yang ada di dalam pikiran ataupun apa yang keluar dari mulut kita adalah hal-hal yang kotor, tidak jernih, itu semua terjadi karena hati kita sedang berpenyakit.

Begitupun sebaliknya, hati yang baik akan melahirkan perilaku dan ucapan yang baik pula. Karena perilaku dan ucapan seseorang merupakan cerminan hatinya. Orang yang mempunyai hati yang baik tidak akan menghabiskan banyak waktunya hanya untuk sekadar mengeksplorasi kesalahan orang lain.

Orang baik itu bukan orang yang hidup tanpa kesalahan, tetapi orang yang selalu menyadari kesalahan dan berusaha memperbaikinya, sehingga dengan kesalahannya dia justru akan bertambah menjadi lebih baik.

Sementara orang buruk dan pengujar kebencian adalah orang yang selalu mencari kesalahan orang lain dan tidak pernah menyadari kesalahan diri sendiri, sehingga dia akan merasa menjadi orang paling baik. Lalu, siapa yang akan memperbaikinya kalau dia senantiasa merasa baik?

Ciputat, 5 September 2018

Rafi Aulia Ilmi

Written by

Ku mencoba tersenyum dalam tidurku.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade