Rafika Indrawati
Nov 4 · 4 min read

Perihal Kebahagiaan: Semakin Dikejar semakin Menderita

Source: Google
Source: Google

Saat kecil kita selalu senang diberikan mainan, kue-kue manis, diajak jalan-jalan, maupun sekadar bercengkrama dengan orang-orang tersayang. Hal sederhana sekaligus menyenangkan itu menghasilkan sensasi-sensasi rasa nyaman seperti perasaan disayangi, keinginan yang terpenuhi, serta menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak ditemukan. Perasaan-perasaan itu kita sebut kebahagiaan, tetapi mungkinkah kita mampu terus berbahagia?

Definisi Bahagia menurut Venhooven dalam World Database Of Happiness mengatakan:

“Happiness is the degree to which an individual judges the overall quality of his/her own life-as-a-whole favorably. In other words: how much one likes the life one leads.”

Kebahagiaan adalah tingkat di mana seorang individu menilai kualitas keseluruhan hidupnya sendiri secara keseluruhan. Dengan kata lain: seberapa besar seseorang menyukai kehidupan yang dipimpinnya.

Ketika seseorang sudah mampu menilai kualitas hidupnya dan merasa bahwa kehidupan yang dijalaninya menyenangkan secara langsung dirinya mengatakan bahwa dia Bahagia, tetapi untuk mengatakan hidupnya sungguh bahagia perlu memiliki beberapa momentum untuk menyimpulkan “Hidup saya benar-benar bahagia”, tetapi mampukah?

Kita boleh mengatakan pada saat ini kita bahagia karena mendapatkan hadiah dari orang tersayang, tetapi ketika hadiah itu sudah ada ditangan kita dalam beberapa waktu kemudian, kita akan merasa biasa saja, sensasi perasaan bahagia itu hilang dan harus di tambah dengan hadiah-hadiah yang secara kualitas lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Contoh lainnya seperti kita mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan, sehari, dua hari, kita merasa sangat bahagia dan bersemangat, kemudian sebulan kita menjalani pekerjaan itu kita bisa saja bosan dengan rutinitas yang sama dan sensasi-sensasi kebahagiaa itu pun lagi-lagi semakin berkurang.

Sensasi-sensasi menyenangkan menghilang secepat kemunculannya. Jika ingin mendapatkan sensasi itu lagi, kita harus merasakan hal yang serupa, lagi, dan lagi, bahkan lebih tinggi kualitasnya. Jika tidak, kita akan lebih sakit dan marah ketimbang jika pada awalnya kita tetap merasa biasa saja.

Bahagia tidaklah mudah, Seorang filsuf Inggis Jeremy Bentham mengatakan: bahwa seorang politisi harus menciptakan perdamaian tanpa perang, orang-orang bisnis harus mencipatakan kemakmuran agar terhindar dari kelaparan, dan para ilmuwan harus menemukan teknologi paling canggih supaya manusia terus mampu untuk hidup terjamin karena kebahagiaan terhebat adalah yang mampu dirasakan lebih banyak orang, tetapi apakah sekarang kita merasakan kebahagiaan lebih dari manusia sebelum kita?

Eppicurus seorang Filsuf Yunani mengatakan bahwa:

Kita bahagia ketika realitas sesuai dengan Ekspektasi kita, dan berita buruknya adalah saat kondisi membaik ekspektasi pun melambung

Coba sekarang kita bandingkan hidup pada masa dulu yang tidak semudah sekarang, dimana peperangan merajalela, penyakit menular yang belum ada obatnya, kelaparan dan gizi buruk yang tiada henti-hentinya. Untuk hidup dan merasakan khayalan kebahagiaan dan ekspektasi tentang hidup lebih nyaman sama saja mimpi indah di siang bolong. Lantas dengan kenyamanan seperti sekarang yang kita anggap mudah apakah kita benar-benar merasa Bahagia?

Jawabannya jelas tidak, banyak sekali negara-negara maju yang memiliki teknologi yang canggih, pertumbuhan GDP yang pesat, dan kenaikan tingkat sumber daya manusia, tetapi pada kenyataanya memiliki angka tinggi terhadap bunuh diri ketimbang dalam masyarakat tradisional di negara-negara berkembang. Bunuh diri disebabkan oleh ketidakpuasan seseorang terhadap hidupnya dan bisa kita simpulkan bahwa seseorang itu bunuh diri karena merasa tidak bahagia ketika hidup.

Kita tidak menjadi puas dengan menghadirkan kenyataan yang damai dan makmur.

Perasaan bahagia tercipta ketika kita terbebas dari perasaan yang tidak menyenangkan, tetapi realitas tidak semudah itu. Kita tidak mampu sepenuhnya membuat semua hal sesuai dengan ekspekstasi kita yang terus melambung.

Jika kita diidentifikasi kebahagiaan dengan sensasi yang sekejap itu, kita akan senantiasa memiliki rasa untuk selalu mengejarnya, lagi, dan lagi. Ketika kita mampu mengejarnya, sensasi itu akan cepat menghilang, sensasi yang sudah kita kejar tadi pun sudah tidak akan memuaskan kita. Sekalipun kita akan mengejar yang lebih lagi, dan lagi selama puluhan tahun, perasaan dan sensasi kesenangan yang kita sebut bahagia itu tidak akan abadi.

source: google
source: google

Pencarian yang membabi buta terhadap kebahagiaan hanya akan membuat kita semakin menderita.

Noah Harari, dalam buku Homo Deusnya mengatakan bahwa

“sepanjang manusia bernafsu mencari kesenangan tanpa benar-benar mengalaminya, mereka tetap tidak akan puas.”

Dalam hal ini manusia akan terus berhasrat mendapatkan sensasi-sensasi kesenangan, dan terus berupaya memenuhinya, semakin besar usaha yang dilakukan, semakin cepat mereka mendapatnya, maka semakin cepat pula kebahagiaan itu usai. Bahwa sensasi-sensasi menyenangkan menghilang secepat kemunculannya.

Seperti contohnya ada seorang laki-laki yang mengidamkan wanita, laki-laki itu mengejarnya; memberikan bertangkai-tangkai bunga, berjuta perhatian mesra, dan ribuan usaha lainnya untuk mendapatkan sang wanita. Tak lama kemudian, sang wanita pun luluh dan menjadi kekasih pria. Sensasi bahagia itupun tidak terhindarkan, sang pria senang sekali, tetapi semakin lama sensasi senang tersebut berubah menjadi biasa saja seiring berjalan waktu. Bunga, perhatian, usaha semakin berkurang bahkan hilang. Kebahagiaan pun berubah menjadi rasa bosan, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya; kebahagiaan tidak akan abadi. Sang lelaki pun mencari sensasi bahagia yang lain, bisa saja dengan mengejar wanita lain, atau mungkin dengan mencari hobi yang melebihi rasa senangnya dengan sang wanita untuk memuaskan nafsunya lagi dan lagi. Kita terus mencari kebahagiaan. Kita candu akan kebahagiaan. Lalu bagaimana menghentikannya?

Aku sendiri teringat pada kata-kata Buddha bahwa:

“Ketika pikiran belajar untuk merasakan apapun yang kita alami dan memaknakannya, kita akan kehilangan minat untuk mengejarnya. Apa gunanya mengejar sesuatu yang akan hilang secepat kemunculannya?”

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade