Melompong

photo: sepele.click

Faris

Ah, kapan lagi bisa bicara sebebas ini di hadapan para petinggi?

Sementara aku terus bicara, manik mata mereka mulai menyipit

Tak perlulah meragukan tiap kata yang keluar, wahai orang-orang tua!

Anak muda yang satu ini sedang memaparkan visi untuk membuat kampung kita jadi lebih baik dari sebelumnya!

Dina

Apa yang bisa kudapat dari visi lelaki berkacamata ini?

Nol besar!

Kata-katanya hampa. Tujuannya melangit-langit, sampai lupa berpijak pada bumi

Napasnya bersemayam dalam rasa yang mati, dibalut asa penuh mimpi tapi minim realisasi

Cih, lupa dimana dia menapak. lupa darimana dia berasal!’

Faris

Aku bicara tentang keabsahan diriku sebagai pemimpin

Berusaha menyeimbangkan antara posisi pimpinan dan teman

Yang minim perintah juga sumpah serapah

Semoga saja mereka memahami diksiku yang tinggi

Dina

Kupikir para orang tua mulai terjerembab

Besar alasannya karat-karat yang mengakar dari orang-orang miskin visi. yang lucunya, malah unjuk gigi

Aih, makin rekah saja tulisan ini

Faris

Iya! terus saja mengajukan pertanyaan!

Barangkali sepulang dari pendopo ini mereka akan memberi selamat

Juga pujian

Tentu karena visiku yang amat berguna

Dina

Ya Allah! Apalagi yang akan Ia katakan?

Otaknya kosong! Isinya melompong!

Kurasa orang-orang di tempat ini akan keracunan omong kosong

Faris

Meski semua orang mengangguk dan menyetujui visi yang kuajukan, tetap saja ada yang menolak

Dina! Keluar dari kepalaku sekarang juga!

Tenang saja, mereka cukup terdidik untuk memahami kata demi kata yang kuajukan

Lagipula, ini bukan lagi di pendopo, Sayang!

Kita berdua sedang menghadapi para dosen untuk sidang

photo: pinterest.com