#6 Sore — Mengiringi Langkah

Dalam hidupnya, Sore selalu punya ruang hampa yang hanya bisa dimasukinya pada saat-saat tertentu. Ia tahu betul dalam kepalanya tercipta semesta baru, yang hanya miliknya dan hanya Ia yang bisa mengaturnya. Tapi, Ia tidak pernah bisa mengatur kapan ruang hampa itu muncul. Pada momen-momen tertentu, ruang hampa itu tiba-tiba muncul begitu saja.

Sore lupa kemuculan ruang hampa yang kali pertama dalam hidupnya. Tapi, Sore masi ingat ruang hampa yang muncul ketika Ia hadir dalam konser Efek Rumah Kaca di suatu waktu. Kala itu, Efek Rumah Kaca membawakan lagu Di Udara. Ruang hampa di kepalanya punya sistem unik yang bisa membawa amygdalanya bekerja sangat keras hingga mengalami disfungsi kerja. Amygdalanya tidak berfungsi dengan benar. Sore tidak bisa menjelaskan dengan rinci apa perasaannya kala itu. Antara senang, kagum, dan sedih yang meluap-luap. Ketiganya itu saling berkolaborasi, membuatnya tercengang dan tercekat dalam waktu yang bersamaan.

Ruang hampa di kepala Sore juga tiba-tiba muncul ketika Ia bertemu dengan Marhain, si pelukis gila yang mengambil ciuman pertamanya itu, diluar dugaan Sore ternyata juga seorang bassist Sinestesia, grup musik folk indie asal Jogjakarta. Dengan rambut gondrong dan senyum Marhain yang manis, jelas semua gadis tergila-gila dan meneriakkan nama Marhain dengan frustasi. Oh, Sore ingat betul ketika Ia terkagum-kagum dengan Marhain yang beraksi diatas panggung. Seolah-olah menjadi penguasa pertunjukan, Marhain menjadi otak dari semua kegilaan yang muncul.

Kadang, ruang hampa Sore bisa terasa dengan kuat, dan bisa juga muncul samar-samar. Sore tidak bisa menjelaskannya dengan tepat. Hanya saja, perasaannya mengatakan bahwa ruang hampa yang muncul itu selalu memberikan sensasi luar biasa. Yang dalam sekejap membawanya terbang ke langit-langit, lalu dalam waktu singkat pula Ia didaratkan dengan baik ke bumi. Ruang hampa membuatnya, hidup.

Dalam hidupnya, Marhain adalah satu-satunya orang yang paling sering membuculkan ruang hampa di kepalanya. Mulai dari yang samar hingga yang kuat. Marhain tidak perlu berusaha keras. Ia cukup hadir dalam hidup Sore, lalu voila! Ruang hampa akan muncul begitu saja. Marhain, yang diklaim Sore punyaisi kepala yang tidak jauh berbeda dengan Sore, membuatnya lebih hidup.

Tapi ruang hampa yang muncul kali ini membuat Sore kebingungan. Distorsi ruang terasa nyata di hadapannya. Kali ini ruang hampa yang dirasakannya bukan lagi ruang hampa seperti kemarin-kemarin, yang membawanya ke suatu tempat yang sangat disukainya dan sangat sulit bagi Sore untuk mendeskripsikannya. Ruang hampa kali ini, membawa Sore ke ruangan gelap yang mencekiknya.

Suara-suara dengan nada berantakan mengelilinginya, menahan napasnya untuk tetap berada di dalam tubuh, mencegah kebebasan hidupnya. Ia hanya berdiri terpaku, Sore berusaha membuka matanya, namun tidak ada perbedaan berarti antara menutup dan mebuka mata. Sore merasa hilang.

*

Konser musik selalu membuat Bintang megap-megap. Apalagi konser musik rock, genre kesukaan Sore. kadang Bintang nggak habis pikir kenapa Ia, lelaki yang super duper serius dan dingin, mau saja menghbaiskan sisa umurnya bersma Sore yang bebas, yang ceria, yang punya pikiran seluas semesta.

Oh, terbalik.

Kenapa Sore yang punya pikiran seluas alam semesta mau saja menghabiskan sisa umur, melahirkan anak dari lelaki serius dan dingin sepertinya? Yang selalu menyingkir ketika menonton konser, bukannya pergi ke tengah kerumunan dan ikut melompat-lompoat menikmati musik. Kenapa juga harus dengan Bitnang? Yang Cuma bisa diam tiap kali Sore bicara tentang grup musik indie yang baru saja merilis album atau EP (Ah, Bintang juga nggak tahu apa itu EP dan apa artinya EP). Yang Cuma tahu darah, tahu arteri dan vena, bukannya tahu genre-genre musik, mana pemain gitar yang punya skill mumpuni, dan mana musisi yang Cuma bisa memainkan alat musik. Bintang nggak tahu itu semua.

Tapi wanita yang tergolek lemas di hadapannya ini, menerima Bintang apa adanya. Dan Bintang menyia-nyiakannya begitu saja. Wajahnya yang pucat tersenyum pada Bintang, lalu tanganya terulur dan menggenggam jemari Bintang.

“Aku tidur berapa hari, sih?” tanyanya sambil menatap heran ke sekeliling kamar. “Kenapa waktu aku bangun banyak banget balon, bunga, dan cake!” ujarnya dengan kaget melihat cake cokelat di meja yang ada disampingnya.

“Tiga hari,”

“Wah,” ujarnya penuh penekanan. “Aku kelewatan sidangnya Sandy. Dia beneran jadi tersangka atau lolos?”

Bintang tersenyum kecil. “Lolos. Dia nggak jadi tersangka,”

Sore menghela napas panjang penuh penyesalan.

“Merah sehat, kan? Sama Didi atau sama Mama?” tanyanya menyebut nama Didi, pembantunya.

“Sama Didi, sama Mama, dan sama Bunda dan Ayah,”

“Mereka kemari? Bang Iga kemari juga?” tanyanya, menyebut nama Abangnya.

Bintang mengangguk sambil mengecup tangan Sore.

“Aku kenapa sih?”

“Kamu nggak pakai sabuk pengaman lagi, ya?”

Sebagai jawabannya, Sore meringis. Bintang tahu jawabannya.

“Gara-gara itu, ada sedikit masalah di kepalamu,”

“Bukannya dari dulu, ya?” canda Sore.

“Bukan, Sayang. Ini gagar otak,” jawab Bintang sambil mengusap dahi Sore yang masi dibalut perban. “dan tanganmu juga patah, untung kamu sampai disini tepat waktu, jadi kondisinya membaik,”

Sore mengangguk-angguk lalu memandang keluar jendela. Langit sore sedang merekah, sementara adzan maghrib mulai terdengar samar.

“Sakit, ya?”

Sore menggelengkan kepala.

“Lalu?”

“Kamu dapat identitas orang yang nabrak aku?”

“Supir truk,” Bintang menjawab sambil menghela napas panjang. “yang langsung bunuh diri waktu lihat kondisimu. Dia pikir kamu sudah mati,”

“I am,” Sore menjawab. “Inside,”

“Masih?” tanya Bintang kebingungan. Berusaha menyembunyikan helaan napas yang berat dan akan terdengar seperti sebuah keluhan, Bintang membuang pandangan keluar jendela yang menunjukkan langit sore.

“It’s gone when you here,” Sore tersenyum.

Mengenal Sore bertahun-tahun membuat Bintang mengenal mana senyuman yang benar-benar menunjukkan rasa bahagianya, atau senyuman yang dibuat hanya untuk membuat lawan bicaranya bahagia. Dan kali ini, Bintang tahu Sore tersenyum bukan karena bahagia.

*

Ia mendapatkan lagi ruang hampa yang lama sirna dalam binar mata Bintang.

“Aku nggak mau nanggung apapun kalau kamu sakit lagi,”

Sore mengangguk lalu berjinjit dan mengecup pipi Bintang. Membuat pipi Bintang memerah dan seisi ruangan yang dipenuhi oleh suster dan teman-teman Bintang tertawa kecil.

“Aku sudah sembuh,” sahut Sore. “Menurutmu enak nggak sih harus tidur seminggu di rumah sakit yang dokternya adalah suami sendiri, lalu suster dan dokternya teman suami sendiri, dan ketinggalan pameran buku?”

Bintang menggeleng sambil memberikan tas berisi pakaian Sore pada Didi.

“Nah, tahu jawabannya kan,” Sore tersenyum lalu memandang para suster dan dokter. “Mbak Mas Suster dan Dokter, terimakasih mau bersabar menghadapi pasien nakal seperti saya. Tolong jaga suami saya disini ya. Kalau nggak mau makan, jewer aja nggak apa-apa. Saya kasih ijin,”

Seisi ruangan tertawa. Lalu seorang suster bersuara,

“Kalau nakal sama cewek, gimana dong?”

“Biarin aja. Nanti juga tahu rasa,”

Bintang mengusap kepala Sore sambil tertawa dan berpamitan. Masih mengenakan snelli, Ia menggandeng Sore dan mendorong kereta Merah yang masih terlelap sambil memeluk boneka Twilight Sparkle. Pelataran parkir yang cukup ramai menahan langkah mereka ketika bertemu dengan beberapa pasien yagn meyapa Bintang yang masih dikenali sebagai dokter dengan snellinya. Bintang baru melepasnya setelah menyalakan mesin mobil dan memutar lagu milik Tigapagi.

“Jadi, ini beneran mau langsung ke pameran buku?”

Sore mengangguk tanpa menatap kearah Bintang. Pikirannya masih terbang melewati pohon-pohon di jalanan Surabaya yang merontokkan bunga berbagai warna. Oktober selalu jadi bulan yang paling disukainya. Selain karena musim hujan yang mulai datang, Oktober seolah jadi pembuktian bahwa Ia masih berada di tempat yang nyaman, yang puluhan tahun lalu tak runtuh akibat berbagai macam masalah kemanusiaan. Terlalu idealis, batinnya dalam hati. Tapi Oktober selalu layak mendapat apresiasi. Ia jadi bulan pembuktian kuatnya persatuan.

Karena Oktober juga, ada pilu yang masih menganga dalam rongga dada Sore. Yang digali dalam oleh Bintang, dan sampai sekarang belum berhasil tertutup. Binar di mata Bintang, kecupan-kecupannya, atau sikapnya yang manis toh tidak berhasil menutup rasa nyeri di dadanya.

“Re,”

Sore terkesiap lalu menoleh kearah Bintang. Ia mengangguk, menjawab pertanyaan Bintang, lalu kembali tenggelam dalam pikirannya, dipandu oleh Sigit dan petikan gitar yang mendayu-dayu.

*

Merah menangis keras. Didi buru-buru menyurukkan dot susu pada gadis yang gelisah di pangkuan Ibunya itu. Bintang berterimakasih, lalu memberikan buku menu pada Didi, menyilahkannya memilih makanan apapun yang diinginkannya, sementara Ia dan Sore keluar dari dalam restaurant untuk menenangkan Merah.

“Lapar kali, ya?” tanya Sore.

“Mungkin karena Ibunya sedih,” Bintang mengusap pipi Merah. “Gara-gara nggak tahu kalau pameran bukunya sudah selesai,”

Sore menghela napas panjang.

“Iya, nih. Kelamaan di rumah sakit kali, ya?”

“Kan siapa suruh nggak pakai sabuk pengaman, Sayang,”

Sore mengayunkan Merah perlahan, berusaha memberikan rasa nyaman pada gadis itu. Seolah memenuhi keinginan Ibunya, Merah berhenti menangis, namun tetap bergerak-gerak dengan gelisah. Bintang melingkarkan tangannya di pinggang Sore, menggiring Sore untuk berjalan.

“Itu Didi ditinggal?”

“Nanti balik, lagian tas kita juga disana,” sahut Bintang. “Coba kita ke toko boneka di seberang jalan,”

Sore tahu menyimpan rasa kesal dan mempertahankannya dalam waktu lama pada Bintang bukan hal yang baik untuk dilakukan. Tapi Sore tidak bisa menahan rasa jengah dan marah tiap kali mengingat ucapan Bintang. Untung saja sikap Bintang yang manis dan unexpected seringkali membuat Sore mampu melupakan perasaan itu meski barang sejenak. Seperti kali ini, ketika Bintang mengambil alih Merah. Menggendongnya di tangan kiri dan memeluk Sore dengan tangan kanan, mereka bertiga menjadi tim yang sangat kompak dalam memilih boneka.

Sementara Bintang menemani Merah, mata Sore menangkap seseorang yang sangat familiar diluar toko. Tubuhnya yang tinggi mengenakan celana jins berwarna hitam, lengkap dengan turtle neck berwarna merah marun. Rambut gondrongnya dibiarkan tergerai berantakan. Tangannya menggenggam gelas kopi, sementara tangan kirinya sibuk memainkan ponsel. Ia duduk di kursi kedai kopi, tepat dibawah payung berwarna pastel. Sebelum Sore sempat mengalihkan pandangan, Ia mendongak dari ponselnya dan tersenyum pada Sore.

Tanpa ragu Sore melangkahkan kakinya menghampiri Marhain.

*

Hai!
Beberapa hari yang lalu temanku sempat protes. Katanya, ini genrenya kenapa Sex & Relationship sih? Kenapa bukan History, atau Chicklit gitu?
Aku? Ngakak lah. I mean, kenapa cerita Sore sama Bintang yang kalo isinya nggak bertengkar, ciuman, pelukan, saling menciptakan spekulasi ini bisa masuk kategori History?
Nah, temanku yang kebetulan anak teknik dan cukup tahu sejarah ini, bilang kalau doi nemu beberapa 'glitch' di cerita Sore ini. Dan OMFG dia sampai bikin rincian. Hwahaha
1. Di deskripsi cerita, lagu Vertebrata Song jadi pengantar. Everyone knows that song made to record the memories of G30S/PKI yang sampai sekarang masih nggak jelas (well, maybe some of you think peristiwa itu murni kesalahan PKI yang membunuh para jenderal dan bikin kondisi Indonesia jadi timpang dan nggak jelas. Tapi pernah nggak menyadari kalau the victory create the history? Let's think again)
Laluuu, sampai bab ini pun dia nggak menemukan hubungan antara Vertebrata Song dengan cerita. Tapi, ada banyak 'clue' yang dilempar. Seperti poin2 dibawah ini
2. Let's take a look with the name. Ade Irma, Marhain, siapa lagi? Merah, Revolusi. "OMG are you trying to make a riddle by create the name?" dia nanya gitu
3. Aksi kamisan sempat disinggung. Kan nyambung tuh sama Peristiwa 65
Dan akhirnya, dia berspekulasi kalau sebenarnya, Sore the Series pengen cerita ulang tentang Peristiwa 65 dari sudut pandang seorang Revolusi Sore, dengan menghubungkan alasan dibalik renggangnya hubungan Sore dan Bintang.
Kalau menurutmu, gimana? Share di kolom komentar ya!