#8 Sore — Bersemayam dalam Muram

Seorang kawan menelepon Mama sewaktu Sore menyuapi Merah untuk sarapan pagi ini. Seperti kebanyakan Ibu lainnya, Mama menghabiskan waktu pagi dengan berkutat di meja ruang makan. Entah untuk menyiapkan sarapan atau bekal bagi anak-anak dan juga suaminya. Tapi ini hari Minggu. Hari libur untuk Bintang, Papa, dan juga Bumi, kakak perempuan Bintang. Sementara Sore dan yang lain berkumpul di ruang tengah, Mama masih saja disibukkan dengan makanan, kudapan, dan bahkan minuman. Ada apa? Ia melihat sekeliling, mencari perayaan yang barangkali dilewatkannya. Wedding anniversary? Ulang tahun? Atau mungkin kehadiran Bumi dengan suami dan dua anaknya? Bukan. Bumi yang bekerja di Kota Malang selalu kembali tiap dua minggu sekali untuk menginap di rumah Mama dan Papa. Jadi apa? Sore menyerahkan mangkuk makanan pada Bintang yang sedang bermain catur bersama Papa untuk menyuapi Merah, lalu Ia menghampiri Mama.

“Lagi buat apa, Ma?”

Mama menengadah dan tersenyum, lalu mengangguk kearah deretan adonan kue kering yang dibuatnya. Ia baru saja akan memasukkan cokelat cair ke dalam plastik sebagai hiasan ketika teleponnya berbunyi.

“Lanjutin, ya?” tanyanya. “Ada teman SMA telpon. Suaminya baru meninggal beberapa hari yang lalu,”

Tanpa memberikan alasan pun Sore tetap akan melanjutkan pekerjaan Mama. Ketika hamil dan mengambil cuti, dapur adalah tempat favoritnya. Ia ingat betul Bintang mengambil jatah cutinya tiap weekend untuk menemani Sore memasak. Karena terlalu banyak kue kering yang dibuatnya, Sore pernah membuat usaha pastry dengan nama Siqvarulli yang berjalan selama 5 bulan. Ketika Ia mulai mendapat teror karena nama Siqvarulli mulai tersebar luas, Ia menghentikan usahanya. Tidak lama setelah itu, Ia keguguran. Dan ya, membuat kue kering adalah salah satu hal yang dibencinya. Sehingga Ia tidak merasa kaget ketika Bumi tiba-tiba hadir disampingnya sambil menepuk-nepuk bahunya.

“Kamu tahu kan suamimu itu benci banget sama kolam renang?”

Sore mengernyit. Kenapa tiba-tiba Kakak perempuan Bintang yang bekerja sebagai psikolog ini bicara mengenai fobia suaminya? So random, batinnya. Jadi Ia mengangguk sambil meletakkan sendok cokelat yang dipegangnya.

“Tapi dia berusaha mengalahkannya dengan menemani Merah tiap Minggu sore. Benar?”

Sore mengangguk lagi.

“Jadi, kamu kapan?”

“Kapan belajar renang gitu?”

Bumi tertawa sambil meletakkan sendok cokelat di tangan Sore, memintanya kembali melanjutkan aktivitasnya.

“Maksudku, belajar memahami hal yang kamu benci dan mulai mengalahkannya,” sahutnya. “Masing-masing dari kita punya sesuatu yang dibenci. Titik terlemah itu menghambat kita untuk mencapai sesuatu. Karena hidup Cuma sekali, pertanyaannya kapan kamu mau melihat dari sisi lain? Memahaminya, dan memaafkannya?”

Menjelma cenayang, Sore berusaha masuk ke dalam mata cokelat Bumi yang mirip dengan mata bulat Bintang yang sangat disukainya. Dalam kepalanya, Sore bisa memahami arah pembicaraan ini. Bumi tampaknya tahu apa yang terjadi diantara Bintang dengannya. Ia membenci Bintang dengan segala pendapat dan pemahamannya mengenai keluarga Siqvarulli serta aksi rekonsiliasi yang sudah mendarah daging dalam hidupnya. Terlepas dari status Bintang sebagai suaminya atau betapa Sore mencintai Bintang dan juga sebaliknya, jauh di hati Sore Ia masih belum bisa memaafkan ucapan dan anggapan Bintang bahwa semua aksi rekonsiliasi yang dilakukannya sia-sia belaka. Ia bukan siapa-siapa. Sejarah dibuat oleh para juara, yang menjadi pemenang di atas para pecundang. Ungkapan Bintang setahun silam seolah menegaskan posisi Sore yang dipecundangi kondisi politik dan kebengisan pemimpin tiran. Dan Sore benci direndahkan.

“Coba pandang suatu kondisi dari sisi Bintang,” Bumi menegaskan. “Bintang sama sekali nggak kepingin kamu menderita. Simple as that,”

“But we all suffering,” jawab Sore. “it’s human nature,”

“So lets find a way to release it,” sahut Bumi. “sharing, loving, breeding, it’s humanity,”

“Sudah selesai?”

Sore berjengit kaget ketika Mama kembali bergabung bersama mereka berdua. Air mata tampak masih basah di pipinya, sementara suara Mama terdengar menahan tangis.

“Ada apa, Ma?” tanya Bumi waspada.

“Juli, teman Mama waktu SMA, suaminya meninggal seminggu yang lalu. Dan dia hampir bunuh diri tadi malam,”

Sore dan Bumi menghela napas kaget.

“Juli benar-benar menyesal. Hampir sepuluh tahun dia nggak ngajak suaminya bicara karena sempat ketahuan selingkuh. Setelah suaminya meninggal, dia ketemu wanita yang dulu jadi selingkuhan suaminya. Diluar dugaan, ternyata mereka nggak selingkuh. Wanita itu dulunya adik angkat suaminya. Tiap kali suaminya mau menjelaskan, Juli nggak mau dengar. Padahal, suaminya benar-benar sayang sama Juli,”

“Kenapa Juli nggak jadi bunuh diri?” tanya Sore.

“Arwah suaminya datang. Katanya dia sudah memaafkan Juli dan akan selalu menemani Jul sampai kapanpun,”

“Astaga,” seru Bumi penuh penyesalan.

“Sekarang Mama jadi paham apa kata Mbahmu, Nduk,” sahutnya. “Dalam Bahasa Jawa, suami dan istri itu disebut dengan garwa. Sebutan itu ada dari singkatan sigaraning nyawa, artinya belahan jiwa. Tahu sendiri, dong maknanya. Kalau satu sakit hati, satunya lagi juga merasakan hal yang sama,” ujar Mama sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

“Jadi, kenapa hari ini Mama ribet banget bikin kue kering kaya gini?”

“Semalam, Papa ngelindur kepingin kue kering yang ada hiasan cokelat di atasnya. Ya udah, bikin deh,”

Sore tercengang dan membatin, berapa banyak permintaan Bintang yang ditolaknya? Oh, jutaan kali! Batinnya penuh sesal.

*

Tiap Minggu siang, keluarga Bintang punya kebiasaan menonton film di perpustakaan keluarga yang berada di lantai dua. Menggelar tikar dan menyediakan kudapan lengkap dengan gelas-gelas minuman manis, mereka menonton film yang diproyeksikan di hamparan seprai putih yang digantungkan di dinding ruangan.

Sebelum menikah denga Bintang, Papa langsung klik dengan Sore karena pernah bertemu dalam salah satu festival film. Papa sebagai kurator sementara Sore sedang bertugas meliput acara tersebut. Ketika mewawancarai Papa, keduanya sempat berdebat mengenai tone warna yang cocok untuk film bertema horror. Beberapa bulan setelah kejadian itu, Sore bertemu Bintang yang akhirnya mengenalkannya pada Papa. Bukannya menolak karena pernah terlibat dalam obrolan sengit, Papa justru menerima Sore karena merasa Sore punya kepribadian yang teguh.

Oh, barangkali karena terlalu teguh, sekarang anaknya jadi tersiksa gara-gara aku. Batinnya sambil melirik Bintang yang duduk disampingnya sambil memangku Merah. Sambil meminta maaf dalam hati, diam-diam Ia juga mengakui betapa Bintang adalah penyelamat bagi hidupnya dan Merah. Selain menjadi Ayah yang baik, Ia juga penyabar. Ugh! Kalau nggak sabar, barangkali dia sudah minta pisah karena sikapku yang buruk, ujarnya dalam hati sambil mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Bintang.

Diluar dugaan, Merah menarik tangan Sore dan berbalik menggenggam tangan Bintang dengan erat. Sore dan Bintang terbelalak kaget melihatnya. Apalagi ketika Merah menjulurkan lidah dan mengejek Sore.

“Astaga! Anak siapa ini?” tanya Sore sambil mengusap-usap kepala Merah.

Bintang tertawa lalu menggoda Merah dengan melepas genggaman tangannya lalu memeluk Sore. Wajah Merah langsung berubah sendu dan hendak menangis ketika Bintang memberikan tangan kirinya untuk digenggam. Belum puas, Merah menarik tangan Bintang yang melingkar di bahu Sore, lalu memeluk kedua tangan Bintang dengan erat seolah enggan melepasnya. Setelah itu, Merah kembali bersandar di dada bidang Ayahnya dan dengan tenang kembali menyaksikan film kartun yang diputar.

Kadang, Sore menyadari bahwa ada yang tidak beres dengannya. Seharusnya Ia bahagia dengan apa yang ada. Tapi justru ucapan Bintang yang muncul dalam kepalanya. Parahnya lagi, Ia tidak bisa mengontrol sampai kapan muram itu akan bersemayam dalam kepalanya. Sore menghela napas panjang, lalu merebahkan diri di bahu Bintang, dan lagi-lagi diusir oleh Merah. Mereka tertawa.