Api Rindu Seorang Kopites

Rahadian Arista
Sep 6, 2018 · 5 min read

Saya masih ingat betul rasanya makan sahur diiringi dengan kekalahan klub kesayangan di Final Liga Champions tanggal 27 Mei lalu. Menyaksikan Loris Karius, yang saya pun tak tega ketika ia dibully habis-habisan oleh netizen, melakukan dua blunder fatal yang berujung gol untuk klub dengan jersey putih dari ibukota Spanyol itu. Sebuah kekalahan yang, lagi-lagi, memaksa pendukung Liverpool di seluruh dunia untuk menyadari betapa dekat klub pujaannya dengan sebuah trofi juara, tetapi kembali pulang dengan tangan hampa. So close, yet so far.

Sumber: Indopos

Terhitung tiga final sudah dilalui sejak Juergen Klopp menangani klub dari kota pelabuhan di barat laut Inggris ini. Tiga kali itu pula kami, Kopites, harus menyaksikan kapten lawan mengangkat trofi juara di akhir laga. Diawali dengan partai final Piala Capital One melawan Manchester City, dimana kami bersorak gembira ketika Philippe Coutinho menyamakan kedudukan di menit ke-83, hanya untuk bersedih hati menyaksikan Willy Caballero menggagalkan tiga penalti pemain Liverpool di adu tendangan 12 pas. Tiga bulan berselang, gol indah Daniel Sturridge seperti memberikan harapan bahwa, di Stadion St. Jakob Park malam itu, dahaga akan gelar sepertinya akan segera dituntaskan. Apa daya, tiga gol balasan bersarang di gawang Simon Mignolet dan Sevilla kukuh menjadi juara Liga Europa untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Final Klopp yang ketiga, adalah turnamen paling prestisius di Benua Eropa, Liga Champions. Tak ada yang menyangka Liverpool-lah yang akan menantang sang juara bertahan Real Madrid di babak final. Menyingkiran Manchester City-nya Pep Guardiola di perempat final dengan meyakinkan (dua kemenangan di leg satu dan dua) dan menggelontorkan tujuh gol dalam dua pertandingan melawan AS Roma, membuat ekspektasi Kopites di seluruh dunia mencapai titik yang sangat tinggi. Titik dimana mereka berani bermimpi klub pujaannya mampu mempermalukan klub juara bertahan yang sudah dua kali berturut-turut menjuarai Liga Champions sebelumnya serta diperkuat pemain terhebat di dunia, Cristiano Ronaldo. Apalagi, kini Kopites punya idola baru yang tampil trengginas sepanjang musim hingga memecahkan rekor gol dalam semusim di Liga Primer Inggris, Mohamed Salah. Namun, seperti yang sudah dituliskan diatas, mimpi itu hanya kembali menjadi angan-angan setelah 90 menit pertandingan terlewati. Langit Kiev malam itu jadi saksi, bahwa seorang Juergen Klopp harus menerima kenyataan dirinya gagal untuk ketiga kalinya di partai final bersama Liverpool.

Menjadi fans Liverpool sepertinya memang harus mengakrabkan diri dengan masa lalu. Seolah-olah sudah ditakdirkan untuk terjebak di kejayaan semu. Tentu saja kejayaan paling dekat yang bisa dibanggakan adalah juara Liga Champions 2005. Ya, malam surealis di Istanbul yang terkenal itu. Setelahnya, praktis hanya trofi Piala FA tahun 2006 dan Piala Carling tahun 2012 yang masuk ke lemari trofi di Anfield.

Sumber: The Asian Kop

Dua trofi dalam kurun waktu 13 tahun jelas bukan catatan yang baik bagi sebuah klub yang suporternya selalu membanggakan diri sebagai klub tersukses di tanah Britania. Kopites di seluruh dunia sudah terlalu lama merindukan trofi, merindukan kapten mereka berjalan paling akhir di sesi pengalungan medali, untuk kemudian mengangkat trofi juara. Maka, sampai mimpi itu terwujud, hati seluruh Kopites akan selalu ada untuk merawat asa dengan baik. Bukankah Eka Kurniawan juga berujar: “seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas”, bukan?

Beberapa perombakan sudah dilakukan Klopp dan jajarannya menyambut musim baru ini. Pemain baru didatangkan, dan mereka bukanlah pemain sembarangan. Naby Keita bergabung setelah kesepakatan yang dibuat sejak satu tahun lalu. Fabinho direkrut dari AS Monaco. Xherdan Shaqiri bergabung dari Stoke City. Terakhir, setelah sebelumnya memecahkan rekor transfer seorang bek ketika merekrut Virgil van Dijk, Liverpool kembali memecahkan rekor transfer untuk posisi penjaga gawang dengan mendatangkan Alisson Becker dari AS Roma. Rekor yang hanya bertahan beberapa saat sampai Kepa Arrizabalaga bergabung dengan Chelsea.

Alhasil, dengan bergabungnya pemain baru tersebut, serta pemain-pemain lama yang memperpanjang kontraknya seperti Roberto Firmino dan Mohamed Salah, Liverpool punya amunisi yang cukup menjanjikan untuk mengarungi musim ini. Liverpool punya satu hal yang belum dimiliki di musim lalu, kedalaman skuat. Ekspektasi pun membumbung tinggi, dan Klopp menyadari hal tersebut. Seperti wawancaranya dengan The Guardian, Klopp mengatakan dirinya dan timnya berekspektasi lebih terhadap diri mereka sendiri. Klopp dan jajarannya harus menyadari bahwa musim ini Liverpool tidak bisa lagi mengakhiri musim hanya dengan berbicara tentang hal seperti kemajuan tim yang positif serta cara bermain yang indah dipandang mata. Liverpool harus berbicara dengan trofi. Setiap awal musim, ekspektasi untuk menjuarai Liga Inggris akan selalu ada. Namun, musim ini mereka memikul ekspektasi yang lebih berat.

Satu tahun adalah waktu yang dibutuhkan bagi kita untuk mengetahui apakah mereka dapat menjawab eskpektasi tersebut. Kita sama-sama tunggu apakah trofi Liga Inggris, atau mungkin trofi turnamen lain, akan masuk ke lemari di Anfield akhir musim nanti. Liga Inggris sendiri sudah berjalan empat pekan sampai saat ini. Dari empat pertandingan tersebut, Liverpool menyapu bersih semua laga dengan empat kemenangan dan hanya kebobolan satu gol akibat dari blunder yang dilakukan Alisson saat melawan Leicester. Catatan ini merupakan yang pertama kali di era Premier League setelah terakhir kali Liverpool menorehkan rekor demikian pada musim 1990/1991. Diatas itu semua, posisi puncak klasemen menjadi milik Liverpool, unggul selisih gol dari Chelsea dan Watford. Catatan yang bagus bukan? Melebihi catatan pada empat pertandingan awal musim 2013/2014, dimana pada musim yang, lagi-lagi, hampir dimenangkan oleh Liverpool tersebut, The Reds mengumpulkan sepuluh poin dari empat pertandingan awal.

Namun, saya dan Anda semua Kopites di seluruh dunia, perlu untuk bersabar diri. Catatan dari empat pertandingan awal ini memang bagus, tapi Liverpool belum memenangkan apa-apa. Masih terlalu dini untuk berbicara Liverpool menjadi juara Liga Inggris. Sebagai suporter, wajar jika kita memiliki ekspektasi tersebut. Namun, saya harap ekspektasi Kopites kepada Liverpool adalah ekspektasi yang tidak terlalu tinggi dan berapi-api. Bukan berarti harus dipadamkan, tetapi ingatlah bahwa kita menjadi seorang Kopites dengan tujuan mendukung Jordan Henderson dan kolega. Dukung penuh Liverpool di tiap pertandingan, satu demi satu. Nikmatilah tiap permainannya. Diatas itu semua, marilah kita berdoa, dan marilah kita menjaga asa tersebut tetap menyala di hati kita, tanpa kehilangan rasa bahagia untuk menikmati momen demi momen di setiap pertandingan yang dimainkan.

You’ll Never Walk Alone.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade