ceritanya biar hipster

3 Fase yang (harus) Ada Saat Membuat Digital Campaign

3 fase yang diketahui orang tapi, sayangnya, gak atau jarang dipake.

Sebenernya, tulisan ini saya buat karena beberapa hari yang lalu, dalam situasi yang serius gak serius, saya merasa agak, sedikit terganggu oleh komentar seseorang saat saya sedang present sebuah slide presentasi.

“Emang kalo bikin campaign atau activity harus pake 3 fase ini, ya?”

Harus? Ya gak selalu, tapi perlu. Itu jawabannya sih. Kenapa? Dengan 3 fase yang daritadi dibicarakan, campaign yang sedang dijalankan bisa dikontrol dengan baik dari segi timeline, budgeting dan efektivitas.

Jadi, apa sih ketiga fase itu? Ini diaaaa~

tiga fase utama dalam campaign. bisa dikembangkan lagi.

Fase pertama adalah Invitation. Apaan nih? Ya invitation. Undangan. Pemberitahuan. Woro-woro.

Kenapa harus ada fase ini? Pernah nonton film, gak? Pasti sebelum film itu rilis, bahkan sesudah rilis pun, ada yang namanya trailer, promo poster dan lainnya. Fungsinya yaa ngasih sedikit teaser mengenai film tersebut. Ujung-ujungnya ya bertujuan buat ngundang orang supaya mau nonton film itu. Nah, sama halnya dengan si trailer, promo poster dan lainnya dalam film, fase Invitation ini sifatnya lebih ke teaser. Teasing orang. Nyebar undangan. Apaan yang di teasing dan disebarin? Bisa macem-macem. Ya bisa hadiah utama dari campaign tersebut, keseruan dari campaign tersebut dan lainnya.

Nah, sama halnya dengan si trailer, promo poster dan lainnya dalam film, fase Invitation ini sifatnya lebih ke teaser. Teasing orang. Nyebar undangan.

Tujuannya adalah ngasih tau ke orang kalo, “Hey, kita (nama brand) mau ngadain aktivasi, lho! Hadiahnya ini nih. Kamu tungguin yaaa!” Kurang lebih begitu. Cuma gak selalu begitu. Well, meskipun intinya begitu tap.. Just use your own copy and CTA. Ok? Sip.

Lanjut ke fase kedua, yaitu fase Campaign.

Gampangnya gini, anda bikin quiz, yang ikutan ada sekitar 50 orang, padahal, potensi diluar sana ada lebih dari 200 orang. Kalo saya sih, pasti akan ngejar 200 orang tersebut untuk ikutan, atau paling enggak, tau akan quiz yang lagi saya jalankan.

Fase Campaign ini adalah saat dimana activity atau campaign berlangsung. Di satu sisi, brand atau pihak yang menjalankan quiz/activity ini nerima berbagai submission, di sisi lain, mereka (brand atau pihak yang menjalankan quiz/activity) juga tetep ngajak orang untuk ikutan activity ini.

Gampangnya gini, anda bikin quiz, yang ikutan ada sekitar 50 orang, padahal, potensi diluar sana ada lebih dari 200 orang. Kalo saya sih, pasti akan ngejar 200 orang tersebut untuk ikutan, atau paling enggak, tau akan quiz yang lagi saya jalankan. Bener, kan? Makanya, di fase campaign ini sebenernya gak disarakan untuk cuma nunggu partisipan aja, tapi juga nyari partisipan lainnya. Gampangnya, gaining submission and also expanding exposure and awareness. Gitu.

Yang terakhir adalah fase amplification atau pasca event. Mau ngapain? Nah, pertanyaan begini kadang ada nih. Abis quiz, ngumumin hadiah, terus mau apa? Kalo yang berbudget kecil, mungkin begitu aja udah kelar. Tapi kalo misal, ini misal banget, anda beruntung mendapatkan klien berbudget banyak, gunakan fase ini untuk ngasih tau ke netizen kalo brand/klien anda baru selesai mengadakan sebuah aktivasi.

Gambaran fase Amplification ini adalah sesimpel mempublikasikan berapa banyak submission, berapa reach, berapa impression, berapa partisipan dan lainnya

Gambaran fase amplification ini yang gimana? Misal nih, sesudah quiz selesai, pemenang udah diumumin, pengiriman hadiah udah selesai, tentu anda pengen dong sedikit “sombong” dengan hasil quiz, jika berhasil. Penyampaiannya? Bisa pake media video, yang isinya adalah proses dari awal campaign, submission yang masuk, kelucuan dan hal-hal menarik selama campaign dan foto para pemenang. Kalo lewat visual? Kurang lebih sama. Terus nyebarinnya gimana? Ya atuh pake buzzer, KOL juga blogger, portal dan forum online.

Jadi kalo fungsi ketiga fase ini dijelaskan secara singkat, jadinya begini:

  1. Fase Invitation; di mana brand mengumumkan akan ada aktivasi atau kuis sekaligus mengundang orang sebanyak-banyaknya untuk berpartisipasi menggunakan digital asset mereka dibantu oleh influencer dengan berbagai macam media dan content.
  2. Fase Campaign; di mana brand sudah menjalankan si aktivasi atau quiz, submission sudah masuk dan brand tetap woro-woro sana sini tentang aktivasi yang sedang dijalankan menggunakan gimmick influencer, digital asset mereka juga bantuan dari blogger, online portal dan forum.
  3. Fase Amplification; di mana aktivasi sudah memasukki akhir. Pemenang utama sudah diumumkan, hadiah sudah dikirimkan. Saatnya brand mengumumkan data dari aktivasi ini. Berapa banyak submission, berapa reach, berapa impression, berapa partisipan dan lainnya di digital asset mereka dibantu oleh buzzer, KOL, online portal dan forum.

Ketiga fase ini yang biasanya saya gunakan dalam membuat campaign dan selalu saya sarankan untuk digunakan. Bukan hanya sebagai “penjaga timeline” tapi juga menjadi guidance agar tidak kehilangan tempo atau mati gaya. Bahasa gampangnya, “abis ini ngapain, ya? Wah, bingung.” Nah, hal itu yang coba dihindari dengan penggunaan ketiga fase ini.

Eh, boleh lho kalo anda punya sanggahan, tambahan atau malah dukungan tentang artikel ini.

Like what you read? Give Ray a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.