ambil gambarnya dari google

Punya Masalah? Ceritakanlah…

Sewaktu kecil, kita sesuka hati menceritakan tentang apapun kepada siapapun. Kenapa sekarang enggak?

Saya akan mengawali tulisan saya dengan sebuah ilustrasi cerita. Begini.. *dehem*

Dahulu kala, (Iya, jaman dahulu. Cerita ini saya ambil dari kisah sufi) hiduplah sepasang suami istri yang sangat miskin di perkampungan di Turki. Hidup mereka begitu miskin, hingga uang yang didapat oleh sang suami hasil dari bekerja tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga tersebut. Apalagi, seperti layaknya keluarga miskin, mereka dikaruniai oleh anak yang banyak. Terhitung kini ada 5 orang anak mereka yang hidup satu atap di rumah kontrakan yang tidak begitu besar dengan kamar tidur hanya satu. Pernah makan sarden? Bayangkan mereka tidur di satu kamar dengan posisi seperti sarden didalam kaleng. Begitu.

Karena miskin, tak ayal mereka pun berhutang kesana kemari hampir tiada berhenti. Mulai dari uang berjumlah remeh hingga jumlah yang besar. Bulan berganti tahun, tak terasa hutang mereka semakin menggendut, berbeda jauh dengan perut si suami yang semakin mengempis. Masalahnya adalah, besok waktunya si suami membayar hutang dengan jumlah cukup banyak kepada salah seorang Lintah Darah yang terkenal bawel, kejam, bengis, tak malu mempermalukan orang. Pokoknya, ini Lintah Darah yang tidak pernah anda bayangkan. Bukan, bukan yang pergi kesana kemari menggunakan jilbab sambil menenteng buku kecil berisi catatan hutang.

Malam itu, si suami tidak bisa tidur. Dari sebelum larut hingga tengah malam, yang dikerjakannya hanya membolak-balik badan diatas kasur yang dibagi 7. Gusar karena suaminya tak kunjung tidur, si istri bertanya:

“Suami, kenapa juga sudah selarut ini kau tak kunjung tidur?”

“Bagaimana bisa, duhai istri? Besok si Lintah Darat akan datang menagih utang, sementara yang tersisa di kantung hanyalah receh untuk anak-anak jajan.” keluh suami sembari menarik nafas panjang.

“Hmm.. Cobalah kau tidur. Siapa tau besok ada jalan keluarnya.”

“Kau ini aneh-aneh saja. Darimana datang jalan keluar jika uang pun kita tak punya? Aku mulai membayangkan si Lintah Darat akan teriak-teriak menagih hutang didepan pintu rumah kita. Tak cukup sampai disitu, lantas dia akan mempermalukan aku dan keluargaku ke tiap-tiap orang yang ia temukan. Cukuplah kita miskin, istriku. Aku tidak sampai hati jika kita dipermalukan orang satu kampung.” ratap suami.

“Kau tau darimana kalau si Lintah Darat akan seperti itu?”

“Memang kau tak ingat apa yang ia lakukan ketika tetangga depan jalan sana berhutang dan tidak bisa membayar? Si Lintah Darat berteriak lantang mempermalukan tetangga itu. Dia lalu pergi ke pasar dan bercerita seakan menjelekkan si tetangga. Berkisah bahwa tetangga tidak punya uang, tidak punya kemauan dan tidak punya niatan membayar hutang. Setiap orang yang ditemui si Lintah di pasar akan diberhentikan untuk diajak ngobrol tentang ini. Kejam, ya?! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa hati si tetangga itu. Juga anak-anaknya.”

Hmm.. Serem juga ya.” istri menerawang. Menatap nanar ke lampu templok yang semakin temaram. Kurang minyak, barangkali.

“Tapi sudahlah, kamu tidur saja, suamiku. Esok pasti akan ada jalan keluar.”

Aku takut malu, istri.”

Dan begitulah. Si istri berusaha untuk tidur kembali sementara suami masih berkutat dengan pikirannya, tentang apa yang akan terjadi esok hari. Masih membalik-balikkan badannya di dipan sempit yang dibagi tujuh. Masih tak kunjung terlelap apalagi mengantuk.

Tak lama kemudian, si istri tiba-tiba bangkit dari tidurnya, lalu keluar kamar dan keluar dari rumah. Terdengar ia menenteng tangga kayu di samping rumah. Sejurus kemudian si istri sudah berada di atas genteng rumah mereka, kemudian berteriak:

“HAI KALIAN SEMUAAAA! HAI KAMU, LINTAH DARAT! TAHUKAH KALIAN JIKA SUAMIKU BESOK AKAN DITAGIH OLEH LINTAH DARAT? DAN TAHUKAH KALIAN JIKA BESOK SUAMIKU TIDAK MEMILIKI UANG UNTUK MEMBAYAR HUTANG-HUTANGNYA? SUNGGUH PUN JIKA KALIAN INGIN TAHU, SUAMIKU BERUSAHA PAGI KE MALAM MENCARI UANG NAMUN TIDAK ADA YANG BISA DIDAPAT UNTUK MEMBAYAR HUTANG. HAI LINTAH DARAT, SUAMIKU TIDAK BISA MEMBAYAR HUTANGNYA BESOK. KAU HENDAK DATANG? DATANGLAH. HAI KALIAN SEMUAAAAAA.. SUAMIKU BESOK DITAGIH HUTANGNYA OLEH LINTAH DARAT, DAN DIA TIDAK PUNYA UANG. DAN IYA, KAMI KELUARGA MISKIN YANG TIDAK MEMILIKI APA-APA.”

Setelahnya sang istri turun, membereskan tangga ke tempatnya, menutup pintu rumah, memasukki kamar. Kali ini, si suami sudah tertidur, cukup lelap.

Balik lagi ke tujuan awal tulisan saya ini. Sewaktu kecil, kita selalu menceritakan apa yang kita rasa ke siapapun, bahkan orang asing. Cerita tentang jatuh di sekolah kepada tamunya bapak, cerita tentang uang jajan yang habis dipalak kepada kakaknya ibu, dan lainnya.

Namun, kenapa sekarang tidak? Iyak, kita malu. Apalagi jika cerita itu adalah tentang masalah kita. Malu; takut orang menganggap rendah, takut orang melihat kita sebagai orang yang tidak mampu, takut orang yang kita taksir melihat kita cemen dan sebagainya.

Padahal tahukah anda kalau terlalu banyak menyimpan masalah ditambah dengan ketakutan akan terlihat jelek bisa membuat stress dan sakit?

Nah..

Saya? Saya selalu bercerita ke orang mengenai pendidikan saya yang hanya selesai sampai SMP, karena saat SMA saya di DO, saya selalu bercerita ke orang bahwa saya memiliki hutang yang cukup banyak karena ada yang harus saya tanggung, saya selalu bercerita ke orang bahwa saya hidup tanpa sosok bapak sedari kecil (sehingga gampang ajeg dan deket dengan sosok lelaki yang lebih tua. Well, no homo of course.) Saya menceritakan masalah-masalah saya ke orang lain. Maksudnya apa? Bukan, bukan mengharap belas kasihan lalu ujug-ujug diberi uang, atau tau-tau disekolahkan atau dikuliahkan. Semata-mata hanya agar supaya orang-orang yang dekat dengan saya tidak kaget jika sewaktu-waktu mereka mendengar kabar, “Ray kan gak kuliah. SMA aja gak kelar.” atau, “Ray kan utangnya banyak. Parah.”. Dengan saya cerita, harapan saya adalah, mereka, orang yang saya ceritakan tau apa kisah sebenarnya tanpa perlu menduga dan asumsi. Dan efeknya ke saya? Saya jadi tidak malu jika sewaktu-waktu orang yang membully tentang pendidikan saya atau penagih hutang saya bercerita kemana-mana. Kenapa? Karena mereka tau saya kenapa dan bagaimana. Memang tidak menyelesaikan masalah, bukan itu maksudnya. Tujuannya semata-mata persis seperti ilustrasi cerita diatas.

Gosip, asumsi, dugaan, terjadi jika sedikit orang yang tau. Jika banyak orang tau? Itu hanyalah cerita.

Begitu, Ki Sanak.


Saya menulis tentang apa yang saya temui di kehidupan sehari-hari, update tiap Kamis, sementara tulisan mengenai digital marketing akan update tiap Senin. Jangan lupa untuk klik recommended kalo anda suka dengan tulisan saya. Dan oh, sharing is (still) caring!

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ray Rahendra’s story.