Kotak Susu Tanpa Tanggal Kadaluwarsa

Kover album Milkbox. Sumber: twitter.com/barefood_

Butuh waktu hampir empat tahun bagi Barefood menindaklanjuti kesuksesan Sullen EP (2013) dengan rilisan anyar. Bahkan kalau ingin ditarik lebih jauh lagi, duo yang diisi Rachmad Triyadi (Mamet) dan Ilham Pradwito (Ditto) perlu satu windu sampai akhirnya mereka merilis album penuh perdana. Dengan tajuk Milkbox, Barefood mempresentasikan musik mereka di awal tahun 2017 dengan cara yang paling layak.

Barefood bermula dari kisah sederhana. Mamet dan Ditto berkawan sejak bersekolah di SMA 91 Jakarta, juga berkuliah di kampus yang sama meskipun jurusannya berbeda. Mereka tumbuh besar di panasnya Jakarta Timur dan Bekasi, di tengah padatnya ruko-ruko tua Galaxy, dan rusaknya aspal Kalimalang. Keduanya sempat tergabung di band metalcore bernama Fire Arena yang sempat menelurkan The Joker EP. Namun ternyata mereka tidak sepenuhnya klop dengan musik yang mereka mainkan kala itu.

Fire Arena pada hari jayanya. Foto: https:/myspace.com/firearena/
Mamet saat masih di Fire Arena, sebelum menjadi pop kid. Sumber: https:/myspace.com/firearena/
Ditto saat manggung dengan Fire Arena, sebelum lagu Sullen ditemukan. Sumber: https:/myspace.com/firearena/

“Kami ingin memainkan sesuatu yang sedikit nge-pop, tapi tetap mempertahankan sifat agresi,” ujar Mamet dalam sebuah wawancara dengan Jakarta Globe.

Akhir Agustus 2009 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan 1430 Hijriyah, Ditto, Mamet, dan seorang teman bernama Ocke sedang menuju Mangga Dua untuk membeli peralatan komputer. Lagu “Crumble” dari album Beyond (2007) milik Dinosaur Jr. diputar di tengah perjalanan. Seketika Ditto membesarkan volume dan menanyakan lagu siapakah gerangan kepada Mamet.

Sebab merasa lagu tersebut keren, Ditto ingin betul memainkan musik semacam itu dan Mamet setuju. Ditto menjadi gitaris, Mamet sebagai bassis, keduanya bergantian mengisi vokal, sementara posisi drummer yang tidak pernah tetap. Dari momen itu, Barefood bermula.

Di laman Myspace mereka, panggung pertama yang Barefood jajal adalah gelaran Purple Nite garapan Unit Musik Universitas Sahid (UMUS) pada 1 November 2009, acara yang juga turut menghadirkan Sajama Cut. Pada periode awal ini mereka turut berpartisipasi dalam gigs ‘Tribute to Netral’, ‘Tuesday Madness’ di MUFC Cafe, ‘Gimmie-gimmie Indie-Rock’ oleh Wasted Rockers, dll. Rubrik Hai Demos majalah Hai sempat mengulas mereka dengan deskripsi, “Tiga anak muda, dengan keyakinan dan kemauan besar, mengusung rock alternatif a la ‘90-an”. Sebuah deskripsi simpel yang menggambarkan Barefood yang berusia seumur jagung.

Barefood di awal perjalanannya. Sumber: https://myspace.com/barefoodmusic/

Sebuah demo dirilis gratis setahun berselang dengan empat lagu di dalamnya, ‘Deep and Crush’, ‘Hard’, ‘Breathe’, dan ‘Truth’. Demo itu lahir dari tujuan Barefood bermusik: hanya untuk bersenang-senang dan tidak ada sesuatu yang muluk untuk diraih. Sesuatu yang coba dijaga sampai sekarang. Mamet menyebut saat diwawancarai Rururadio baru-baru ini bahwa Barefood dibentuk karena ingin berkarya seperti rekan-rekan mereka yang lebih dulu punya band. Misalnya Bintang yang membentuk band shoegaze, Mellon Yellow.

“Daripada cuma ikut nongkrong-nongkrong kan, mending bikin karya juga,” katanya.

Tahun 2013, Sullen EP lahir. Sebuah entitas pendek dengan lima lagu yang kemudian membawa Barefood ke tahap berikutnya dalam perjalanan bermusik mereka. Dirilis sebagai rilisan perdana label baru Anoa Records, EP ini direspon dengan masif di skena lokal. Sullen EP tidak dicetak ulang saat persediaannya ludes, sehingga menjadi komoditas dengan harga berkali lipat saat ditemukan.

Lima trek Sullen EP memang punya daya pikat yang membuat Barefood layak mendapat atensi besar. Lagu ‘Perfect Colour’ yang simpel dan repetitif menjadi single album untuk kemudian langsung mencuri perhatian. ‘Grey Skies’ dengan bisanya menjadi soundtrack kisah asmara seseorang yang baru pertama berpacaran, karena melodi lagu yang enerjik tapi mellow di waktu bersamaan. ‘Teenage Daydream’ mampu mengisi lamunan seseorang akan hubungan asmara yang menantikan kejutan. ‘Sullen’ yang berisi kombinasi vokal ‘bad boy’ dan ‘nice girl’ yang saling berpadu memberi romantisisme tersendiri. Serta amarah masa muda dalam lagu berdurasi tujuh menit yang menutup album dengan penasaran, ‘Droning’. Sebuah EP yang membuat banyak orang merasa terkait, karena berbahan baku lirik bersifat curhat.

Musik rock alternatif 90-an dalam Sullen EP memang bisa melambungkan memori bagi siapa saja yang sempat menikmati masa kejayaan MTV lewat program ‘MTV Alternative Nation’ atau ‘MTV 120 Minutes’. Belum lagi kejelian memasukkan suara ‘white noise’ sebagai efek mastering dari pita yang mempertebal cita rasa ’90-an. Faktor yang bagi banyak orang amat menentukan kualitas akhir EP tersebut. Lewat Sullen EP, Barefood menghadirkan nostalgia tanpa melepaskan kekhasan personalitas mereka. Lewat Sullen EP juga, Barefood sukses menarik pendengar dan fans lebih luas dari sebelumnya.

Sullen ini emang semacam tempat curhat. Karena Sullen ini di-mastering lagi dengan sistem pita, jadi kalo kalian denger di setiap track ada suara ‘white noise’, itu bukan karena perangkat audio kalian yang jelek tapi karena efek mastering dari pitanya,” tutur Ditto, seperti dipacak dari Provoke-Online.

Setelah kesuksesan Sullen EP, lalu apa lagi dari Barefood? Mengingat mereka bermusik tanpa ada pretensi selain untuk kesenangan, mungkinkah Barefood membuat rilisan berikutnya? Atau Sullen EP cukup membuai sehingga tidak perlu ditindaklanjuti dengan rilisan gres? Apakah mereka malah memilih bubar tanpa pemberitahuan untuk mengincar status cult? Sekalipun nantinya merilis sesuatu, apakah mereka bisa mengulang kesuksesan terdahulu? Apakah nantinya mereka bakal menggunakan formula yang sama untuk mencapainya?

Setidaknya itu pertanyaan-pertanyaan yang mengisi kepala saya yang baru mendengarkan musik mereka pada Mei 2015 lewat file yang diberikan teman setelah mengunduh dari Kaskus. Sangat telat dan lewat bajakan.

Album Milkbox

Sejak Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2015 mengabarkan Barefood akan rilis album perdana dalam berita berjudul “18 Album dalam Penggarapan”, ada rasa penasaran yang langsung tersimpan. Tertulis di sana, album yang rencananya rilis Maret 2016 ini siap memberi kejutan berkat eksplorasi musik Barefood dan keengganan mengulang rumusan sama yang sudah mereka lakukan sebelumnya.

“Lagu-lagu dalam Sullen bisa memiliki aura yang mirip satu sama lain karena penulisannya yang berdekatan. Sementara itu, album penuh perdana ini kami kerjakan dari awal 2014 sampai sekarang, seiring bertambahnya referensi musik yang kami dapat. Lagipula gue enggak mau kalau nantinya ada yang komentar terhadap album Barefood: ‘Ah, sama saja nih seperti album sebelumnya.’ Setidaknya kami bisa menawarkan persepsi baru,” ungkap Ditto di majalah tersebut.

Betul! Album Barefood sukses mengecoh! Setidaknya mengecoh jurnalis yang menulis dan pembaca majalah, karena baru selang setahun kemudian album bisa dirilis. Terlebih untuk orang-orang yang sempat menyaksikan mereka memainkan lagu-lagu baru tersebut di banyak panggung dan bocoran-bocoran di akun Instagram. Keterlambatan yang menyebabkan rasa penasaran.

Hard disk penyimpan materi rekaman mereka ternyata sempat alami crash. Sehingga banyak bagian yang perlu take ulang. Pegawai Starlight Studio tempat Barefood rekaman bahkan sampai perlu merayu dengan teh manis hangat kepada Ditto saat mengabarkan banyak rekaman yang tidak terselamatkan. Kecerobohan yang menyebabkan rasa menyebalkan.

Bocoran lagu di album Milkbox. Sumber: https://www.instagram.com/basookie.milk/

“Doain album baru kita rencanya bulan depan rilis…” ucap Ditto saat Barefood membuka konser band Philadelphia, Nothing di Rossi Fatmawati, Jakarta (21/1/2017).

“AKHIRNYAAAAAA!” teriak seseorang entah siapa memotong ucapan Ditto yang seketika kikuk.

“He he… iya, akhinya ya. Udah lama enggak jadi melulu,” lanjut Ditto mengatasi suasana supaya tidak juga ikut kikuk.

Album akhirnya betul-betul rilis di hari terakhir Februari 2017 lewat layanan streaming Spotify dan iTunes. Sebelumnya, tembang ‘Milkbox’ dirilis sebagai single album beberapa hari setelah mereka tampil membuka Nothing. Ternyata nama album sama dengan judul lagu yang menjadi single, meski saat tampil membuka Nothing mereka masih merahasiakannya.

Saat mengulas Sullen EP, blog Wasted Rockers menantang Barefood menulis lagu berlirik bahasa Indonesia dan mengemas citra band agar tidak terkesan sebagai grup musik ‘retro 90-an’ yang hanya menjual nostalgia kepada Generasi X. Entah mereka memperhatikan betul tantangan tersebut atau tidak, tapi sekalipun memang betul, rasanya Barefood menyelesaikan tantangan dengan sukses.

Strategi melepas album lewat layanan musik digital lebih dahulu ketimbang misalnya merilis lewat kaset, bisa dilihat sebagai strategi mengemas citra kekinian Barefood. Meskipun di sisi lain bisa mengecewakan pemesan rilisan fisik mereka, tapi toh bisa diwajarkan mengingat sekarang memang tahun 2017.

Okelah, perilisan lewat layanan digital tidak serta merta membuat Barefood menjadi kekinian, karena konteksnya tetap pada materi musik mereka sendiri. Namun kalau berbicara sound rekaman, harus diakui mereka tidak mengulang apa yang dilakukan di Sullen EP, sekalipun EP itu yang membawa mereka masuk dalam pandangan banyak orang.

Saat lagu ‘Milkbox’ dilepas sebagai teaser, sound terdengar secara bersih sehingga saya tahu alat pemutar musik saya tidak rusak. Meskipun itu tidak lepas dari bentuk risiko lainnya. Vokal Mamet yang terdengar merengek jadi kelewat emosional sehingga mengurangi kadar kesyahduan lagu. Distorsi musik mereka tidak lagi teredam, sehingga kurang nyaman di kuping saat mendengarnya pertama kali.

Tapi toh memang tidak bisa lagi perspektif saat mendengar Sullen EP dipakai saat mendengar Milkbox. Sebab Barefood sendiri juga sudah mewanti-wanti elemen kebaruan yang bakal mereka terapkan. Mengulang formulasi yang sepenuhnya sama hanya menjebak mereka dalam stagnasi nihil perkembangan. Sebuah bentuk bunuh diri.

Sebetulnya Barefood pun tidak 100% memberikan gocekan maut yang mengecoh ekspektasi pendengar lama. Lirik ‘Milkbox’ masih ketahuan betul sebuah curhat asmara, bukan tiba-tiba mereka mendadak membahas politik atau rasisme, misalnya. Kumpulan chord ceria dibalut distorsi rock yang mudah diakses, tidak tiba-tiba mendayu-dayu. Masih juga main dalam perumpamaan yang orang mudah tebak, karena Milkbox berfilosofi, ‘Tidak bisa dilihat susunya, cuma bisa liat boksnya’ bisa disangkut-pautkan dengan lika-liku percintaan.

Sejujurnya saya sedikit terkejut karena ‘Milkbox’ dipilih sebagai single album, ketimbang lagu ‘Grown Up’ yang hampir di berbagai kesempatan sebelum album rilis sering dimainkan, termasuk sebagai pembuka penampilan mereka saat main di Taman Buaya Beat Club TVRI. Memang sih, ‘Milkbox’ pun turut beberapa kali dimainkan sebelumnya, seperti saat terakhir kali Barefood bertandang ke Bandung di acara ‘An Intimacy #11’ bulan Oktober 2015. Barang kali karena ‘Grown Up’ bertema persahabatan, jadi terlalu berisiko sebagai lagu perkenalan album baru yang dibayang-bayangi kesuksesan Sullen EP.

Penampilan Barefood di An Intimacy #11. Sumber: penulis.

Lagu ‘Milkbox’ yang ditempatkan di urutan pertama mengulang formulasi dalam EP terdahulu yang turut dibuka tanpa basa-basi. Bahkan lagu ‘Perfect Colour’ punya sedikit perasaan baik, karena didahului bunyi gaung gitar beberapa detik. Sedangkan ‘Milkbox’ tidak sama sekali, karena keluhan berupa “I feel like there’s something wrong about me, cause i can’t feel anything from your love” langsung menyergap. Chorus repetitif di penghujung lagu kemungkinan besar mampu menyebabkan earworm.

Trek kedua berjudul ‘Candy’ paling favorit. Lagu ini tidak pernah sekalipun dimainkan Barefood sebelumnya (setidaknya dalam penampilan mereka yang direkam akun Youtube PFVideoWorks). Vokal diisi Ditto yang terakhir kali bernanyi pada trek penghujung Demo EP, ‘Truth’. Lagu ini yang paling ceria, sekalipun isi liriknya sama sekali tidak demikian.

Merespon dengan teriakan super emosional, meloncat-loncat, dan menggerakkan tangan sedemikian rupa adalah timbal balik paling logis saat menonton mereka memainkan lagu ini. Betapa mudahnya lagu ini meresap ke banyak orang. Terbukti dengan kicauan Kyla JKT48 yang menyebut seseorang bernama Duchu suka dengan ‘Candy’. Entah siapa Duchu, entah siapa juga sebenarnya Kyla.

‘Grown Up’ selamanya monumental bagi Barefood, karena saat wajah mereka tampil di televisi, lagu ini yang pertama kali dibawakan. Perpaduan ketukan drum dan dentuman bass di awal lagu sangat asyik. Tema persahabatan pada lagu ini bisa menemani ‘Perfect Colour’ yang juga memungkinkan diinterpretasi bertema demikian.

Sayang, lirik ‘If choose to take those drugs and i will think that i must choose the same way’ tidak sejalan dengan keinginan Mamet saat diwawancara FreeMagz! kalau Barefood mau dikenal sebagai anak soleh.

Pada trek keempat, ‘Amelie’ syahdu dinyanyikan. Lagu balada yang sebelas-dua belas dengan ‘Sullen’, tapi tanpa vokal perempuan. Rayuan gombal berupa, “Our love is fun. I hope it will long last like tatoo in your arm,” bisa dipakai siapa saja saat bergitar bersama gebetan yang perasaannya segera meleleh. Kalau tidak salah, lagu ini dimainkan pertama kali di Santa Sale Out! 2015.

Lagu instrumental berjudul ‘Soda’ menjadi median dalam album. Penengah di antara pesan-pesan gamblang yang dituturkan lewat vokal. Saat soda digabungkan dengan susu hasilnya menjadi soda gembira. Begitupun juga lagu ini, gembira.

Mungkin peletakan lagu tanpa vokal bukan sebagai pembuka album menjadi hal yang mengganggu bagi beberapa orang. Apalagi Barefood memulai tanpa basa-basi di ‘Milkbox’, sehingga ada elemen pembuat kaget. Meski begitu, ‘Soda’ berada di pertengahan justru memberi rehat setelah digempur lewat tempo cepat, distorsi tanpa henti, dan vokal yang pada beberapa kata dilafalkan dengan artikulasi rendah. ‘Soda’ menetralisir itu semua, sebelum kemudian dilanjut dengan lagu di trek berikutnya yang mengebut.

Lagu ‘Hitam’ menjadi lagu berbahasa Indonesia pertama Barefood. Lagu yang sebelumnya berjudul ‘Drop’ ini menjadi kejutan tambahan saat mereka memainkannya di Taman Buaya Beat Club TVRI. Biasanya, sebelum memainkan lagu ini Ditto berucap prolog template semacam, ‘Lagu baru ini menceritakan tentang bagaimana kalian menyikapi komentar-komentar negatif di social media. Lebih baik diemin aje, enggak penting juga sebenernya!”.

Selepas ‘Hitam’, lagu bernuansa shoegaze ‘Sugar’ hadir menyapa pendengar. Saat bermain di An Intimacy #11, sebetulnya ‘Sugar’ berbahasa Indonesia dan Ditto yang bernyanyi. Entah sebab apa, lagu ini malah jadi memakai bahasa Inggris. Mungkin juga sebetulnya, ‘Sugar’ yang dimainkan di An Intimacy #11 adalah lagu ‘Biru’ yang berada di urutan terakhir album. Ingatan saya tentang ini tidak terlalu jelas, tapi saya ingat Ditto sempat bilang, “Kita bikin dua lagu bahasa Indonesia tapi judulnya bahasa Inggris” selepas memainkan ‘Sugar’ versi An Intimacy #11.

Barang kali ada rasa kangen Mamet bermain dengan Strawberry Wine dan Ditto yang sempat berkontribusi mengisi line gitar Mellon Yellow dan Sharesprings, sehingga lagu shoegazy ini dibuat. Eksperimen yang sukses dicoba untuk menghindari kesan monoton. Hanya, seandainya saja mereka melibatkan rekan-rekan mereka yang bermain di genre ini untuk mengisi bagian vokal rasanya bisa lebih mengejutkan.

Ada ‘Scars’ di trek ke delapan. Lagu yang sebetulnya stok lama, karena dimainkan di Thursday Noise #2 saat mereka promosi Sullen EP. ‘Scars’ relatif berbenang merah sama dengan lagu-lagu Barefood terdahulu. Saya sempat membayangkan ‘Scars’ bersama ‘Milkbox’, ‘Candy’, dan ‘Grown Up’ bisa tergabung dalam satu EP kalau Sullen EP perlu tindak lanjut sesegera mungkin. Jelas itu tidak kejadian.

Bagaimana Barefood menutup album juga masih sama dengan EP terdahulu. Lagu berdurasi lebih dari tujuh menit berjudul ‘Biru’ menapak tilas langkah ‘Droning’ yang menutup Sullen EP. Kalau ‘Droning’ suara vokalnya tuntas di menit ke-5, lagu ‘Biru’ justru lebih sore selesai karena suara vokal tuntas di menit ke-3 untuk kemudian diisi instrumen sedemikian rupa.

Sama seperti ‘Hitam’, lagu ‘Biru’ juga sempat alami perubahan judul. Dalam bocorannya, lagu ini sempat berjudul ‘Putih’. Ya pastinya wajar-wajar saja judul lagu berubah, sekalipun sudah ditampilkan secara langsung dengan nama yang lain. Ini lagu berbahasa Indonesia terekam pertama yang dinyanyikan Mamet, karena baik di band-band terdahulu yang menempatkannya sebagai vokalis AGGI & Fire Arena, ataupun Barefood, semua lagu yang dia nyanyikan berlirik bahasa Inggris.

Sekilas, lagu semacam ini mengingatkan dengan materi Netral pada tiga album pertama, khususnya lagu ‘Bobo’. Namun terlibatnya suara instrumen piano dan saxophone memberi kesan pembeda. Sekaligus juga memberi cita rasa mewah nan anggun saat lagu memasuki fase terakhir yang berarti juga segera tuntasnya album. Hal buruknya, kemungkinan lagu ini nantinya terkategori jarang dimainkan seperti Sullen, karena melibatkan orang lain di luar personel tetap mereka.

Sebenarnya ada satu lagi lagu yang sempat beberapa kali dimainkan dan sempat tercantum dalam setlist yang dibocorkan, judulnya ‘Dumb Sucker’. Sayangnya, lagu tersebut tidak masuk setelah dikurasi Anoa Records yang merasa lagu itu punya nuansa sama dengan ‘Scars’.

Dengan tertahannya satu lagu, setidaknya Barefood berpeluang merilis sesuatu lagi di masa mendatang. Setidaknya nanti ada yang bisa ditagih. Dengan kata lain, Barefood tidak perlu buru-buru bernasib serupa dengan Seaside. Sebab mengasyikkan membayangkan mereka terus berkarya sampai rambut memutih seperti J Mascis dan kulit mengeriput seperti Norman Blake.

Oh iya, bagian paling menyebalkan tentu saja tidak ada lembar lirik di album. Alasannya seremeh ini: Lay-out album Milkbox meniru lay-out album Undone milik Seaside yang juga tidak ada lembar lirik. Ya memang sih, lirik sudah ada di zine Sobat Indie yang diunggah ke internet, tapi momen berbaring sembari membaca lirik dan mendengarkan CD yang baru dibeli terasa kelewat ganjil untuk tidak dilakukan. Hal ini juga terjadi di Sullen EP.

Kover album berupa foto model dengan ras Kaukasia yang meminum susu sampai tumpah cukup memprovokasi orang untuk mengambilnya dari rak CD. Belum diketahui siapa model tersebut, tapi yang jelas model itu secara selebor ganti baju di depan Ditto dan Mamet saat pemotretan, juga malah menghabiskan seloyang pizza sendirian yang seharusnya dimakan bareng-bareng.

Kecuali Demo EP, rilisan Barefood lainnya selalu berkover gambar perempuan. Bahkan CD diskografi yang dirilis di Jepang juga kovernya perempuan, meskipun anak kecil. Kover Milkbox sendiri memberi alternatif topik skripsi bagi mahasiswa ilmu komunikasi atau ilmu lain yang terkait untuk mengulasnya dengan metode semiotika Roland Barthes. Barthes membagi relasi tanda dengan beragam tingkatan, denotatif, konotatif, dan mitos. Lewat pembedahan itu, ideologi Barefood sebagai sebuah band juga dapat diketahui.

Hipotesis bisa dibangun dengan pertanyaan-pertanyaan semacam, “Mengapa kovernya mesti wanita ras Kaukasia?”, “Mengapa dia meminum susu sampai tumpah-tumpah membasahi dada?”, “Mengapa kukunya berwarna merah muda yang mecolok?”, “Mengapa rambut pirangnya terlihat tidak natural?”, “Apa maksudnya pemakaian kaus oblong putih dan jaket denim dengan lengan tergulung?”, “Bagaimana dengan posenya? Gerak tangan, mata yang terpejam, raut muka kenikmatan, dll.?”, ”“Apakah yang dia minum itu benar susu? Tapi mengapa begitu kental seperti cat tembok?”.

Ah, hentikan. Saya mulai meracau.

Epilog

Selepas rilis Milkbox, segalanya tampak berjalan baik bagi Barefood. Di pekan pertama perilisan, 700 keping cakram padat alami wholesale. Sebulan setelah dipasang di Spotify, lagu-lagu dalam album sudah diputar rata-rata sekitar 5.000 kali tanpa pernah masuk playlist ‘Indienesia’. Milkbox Showcase yang berkonsep semi-rahasia karena baru diumumkan H-1 acara, tetap padat dengan kehadiran teman-teman dekat.

Konon kabarnya, mereka merencanakan tur album yang dimulai April ini. Menurut Gogon (gosip underground), Spasial Bandung termasuk tempat yang bakal mereka sambangi. Alfi Iftikhar (Gascoigne & eks Mutombo) turut membantu mereka di posisi gitar saat tampil langsung, karena katanya layer sound gitar lagu-lagu Milbox berlapis-lapis. Semoga juga Kaneko Pardede (The Cottons, The Whistling Possum, & eks Jude) yang bermain keyboard dan Ditto Priyawardhana yang mengisi suara terompet juga ikut tur. Ya kalaupun enggak, pakai additional player lain lah. Soalnya menyaksikan penampilan langsung lagu ‘Biru’ bisa menjadi pengalaman tiada terpermanai.

Album ini menyediakan beragam ruang kemungkinan untuk Barefood. Apalagi dengan adanya lagu berbahasa Indonesia, pendengar baru yang mengeksplorasi musik mereka bisa terjaring. Mungkin pula membawa mereka ke panggung-panggung yang tidak terduga. Promosi di televisi, bermain di festival musik besar, berhubungan dengan orang-orang baru, dan segala kemungkinan lain yang tidak pernah terbayangkan.

Barang kali tepat menyebut Milbox sebagai penanda persahabatan dua kolega sejak SMA yang masih terjaga. Menjadi simbol pelampiasan kesenangan mereka seiring bertambahnya usia. Di album ini mereka bukan lagi laki-laki berusia awal 20-an yang punya ketakutan tentang ketidakpastian masa depan. Melainkan laki-laki yang siap menyambut usia kepala tiga dengan tuntutan sikap semakin bertanggung jawab.

Milkbox juga menjadi artefak kalau Barefood tidak pernah gagal menjadi tempat mereka melepas penat atas rutinitas kerja kantoran, menahan kantuk hampir sepanjang pekan, menertawai lelucon absurd orang-orang, menyikapi kedegilan media sosial, dan hal-hal lain yang perlu diredakan.

Semoga kotak susu tanpa kadaluwarsa ini memberi semangat bagi Barefood untuk terus bersenang-senang, tanpa perlu memasang target penuh beban. Seperti yang mereka niatkan sedari awal di bulan Ramadhan 2009.

Ayo minum susu! Sumber: twitter @anoarecords
Bonus! Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1235412967766&set=t.778947969&type=3&theater

***