Perkenalkan, Rudi N.

Beceng dikokang, tinggal ditarik pelatuknya. Alhasil selesai kegelisahan tiga tahun Rudi N. Dia cukup bernyali meletakannya ke dalam rongga mulut. Namun seperti beberapa urusannya belakangan, lagi-lagi berakhir tak tuntas. Sekejap hinggap dalam pikiran Rudi N. kalimat distraksi sialan yang berulang, “Ah, enggak penting”.

Segera dia bercelana. Tangan kirinya sudah bersih tepat sebelum rencana brutal berakhir sia-sia. Beceng terkemas rapi, tersembunyi pada kardus sepatu diskon akhir tahun. Dia tidak peduli kalau pencuri yang menyamar tukang sol sepatu mampir ke indekosnya. Dia hanya berharap seandainya itu kejadian, tukang sol sepatu punya selera bagus memilih kepala siapa yang paling bisa bikin heboh satu kecamatan. Bupati korup, rektor payah, ormas tukang palak, atau pengendara melawan arus juga cukup. Rudi N. selalu senang melihat segalanya kacau, tanpa perlu bersusah-susah melibatkan dirinya.

Benda jahanam itu relatif gampang dia rakit. Berkat internet cepat, baik, dan sehat, Rudi N. yang pandai berkomunikasi lintas budaya tangkas membuatnya. Tinggal pergi ke Utara, Rudi N. bertemu perakit senapan angin yang rela membantu dan paham urusan bahan baku. Hanya empat kali melewatkan agenda mengatur formasi Fantasy Premier League, beceng idamannya telah digenggam. Jelas gagah, segera dia berfoto untuk diunggah ke forum pemandu.

Lucu kalau mengingat perut membal Laksmi, kucing kampung yang tanpa sengaja Rudi N. pelihara, saat tertembus peluru pertama muntahan beceng. Dia tertawa bermenit-menit karena wajah si kampungan tetap bodoh sekalipun sekarat. Tentu tidak kalah bodoh orang-orang yang percaya kucing bernyawa sembilan, pikirnya cergas setelah membuktikan. Nama Laksmi dia berikan berdasarkan tokoh rekaannya untuk cerpen ke-65 yang ditolak Kompas. Memaki menjadi lebih memuaskan memakai nama itu.

Tadi setelah menutup rapat pintu dan jendela kamar, Rudi N. diikuti anak-anak Laksmi. Mereka mungkin minta pertanggungjawaban, tapi seperti biasa kejaran itu selesai setelah Rudi N. menabur makanan. Mohon maaf, tidak ada yang mesti dibagi karena pekan ini tanda harga berwarna normal di minimarket manapun. Ketika Laksmi belum beranak, Rudi N. membelakan diri memotong uang jajannya untuk beli makan si kampungan. Sekarang tidak bisa begitu, anak-anaknya kelewat banyak dan terus merongrong-rongrong tanpa peduli tarif cukai makanan kucing terus mencekik kantong.

Setelah dihardik, kucing-kucing kecil yang sebetulnya punya potensi diliput The Dodo ini, malah pergi ke kamar sebelah. Jelas nihil mereka dapatkan summum bonum. Jangankan makanan, respon saja nol besar. Kamar itu berisi para mahasiswa kampus sebelah yang terkenal pandir minta ampun. Rudi N. pernah mendengar reputasi ketololan mereka, tapi ternyata lebih buruk dari perkiraannya.

Mereka main pabji (seperti cara mereka mengucapkannya) sepanjang waktu dengan saling mengepulkan asap pembakaran tembakau. Teriakan mereka nyaring, pokoknya berakhir dengan umpatan, “…anying!’. Mereka adalah alasan utama mengapa Rudi N. sibuk berinteraksi dengan kucing, menutup rapat pintu dan jendela, serta repot-repot merakit beceng. Kuadriliunan kali Rudi N. bernafsu meletupkan beceng ke congor mereka, tapi dia ogah pula bantu pemerintah menurunkan angka tingkat kebodohan.

Bokong semok Rudi N. tiba di permukaan ayunan taman kanak-kanak sebelah Institut Tidak Lagi Relevan. Tangan kirinya kini menggenggam es krim coklat vanila. Seperti pekan-pekan sebelumnya, dia biasa mengonsumsi rakus waktu di sana mengentaskan sesal. Dia selalu menyengaja membeli es krim dulu sembari curi pandang mbak kasir yang mirip gadis satu-satunya yang pernah mendengarnya ungkapkan cinta.

Gadis malang itu tidak menduga-duga Rudi N. melakukan kenekatan tepat pada peringatan ke-10 Tsunami Aceh & Nias. Toh, bodoh dan berani jaraknya tipis. Mereka tidak akrab dan si gadis menduga kuat Rudi N. jatuh hati karena hanya saling menggemari Philadelphia Eagles. Maka enteng penolakan keluar dari mulut si gadis mirip Jessica Barden.

Rudi N. tahu dia mesti bergerak maju, tapi jatuh cinta tidak semudah menopang dagu. Butuh kesadaran kokoh untuknya melakukan hal semacam itu. Sejak kegagalan total tersebut, Rudi N. pura-pura berselera menjalani hidup. Belakangan, dia mulai menyusun rancangan naskah buku “Panduan Bersologami” hasil penelusuran dari Psychology Today dan sedikit Tirto.id.

Sudah habis alokasi waktunya mengutuki diri dari tragedi. Dia pergi berayun untuk melamun hal lain. Dia menggumamkan tembang Veronica Falls — Everybody’s Changing merayakan betapa tidak relevan dirinya bagi peradaban.

Dua pekan lagi, derita tiga tahun belakangan ini pasti berhenti. Rudi N., sekalipun kalut, yakin tidak perlu becengnya mengambil alih nasib. Dia akan presentasi menjelaskan penelitian berisi tiga teori Marxis yang baru bisa selesai juga kalau menuruti perintah dosen. Tidak perlu tuntas, karena seperti senior-seniornya yang medioker, sidang di penghujung masa studi lebih tepat disebut sebagai bimbingan terakhir. Setelah dibumbui drama mirip ospek, pada burit hari Rudi N. pasti dapat gelar sarjana alazon.

Tiga tahun terakhir hanya diisi pembangkangan di kepalanya sendiri. Rudi N. nestapa sejak dari nama. Dia enigma. Selain bolos maksimal tiga kali dan cengengesan setelah terlambat, kuliahnya di kelas praktis aman. Seperti nilai mayoritas pada kartu studi, kualitasnya memang B saja. Sedikit terselamatkan karena Rudi N. beberapa kali berkarya membangun reputasinya.

Dia mulai banyak tingkah justru di penghujung periode. Baru terasa patah hati lah, ingin mencoba banyak hal baru sebelum bekerja lah, merasa buruk berkomunikasi interpersonal lah, menyalahkan dosen lah, kebanyakan mendengar lagu shoegaze lah, berlaga anak skena lah, membaca banyak buku lah, segala ingin merakit beceng lah, dll. Rudi N. sok menyengaja memasuki periode tanking, sampai akhirnya depresi sendiri.

Meh, ‘percaya proses’ ujarnya. Omong kosong. Tiada makna. Padahal dia hanya perlu berhenti lari dari kenyataan, menuruti dosen, lulus, dan dieksploitasi sistem kapital. Sebagai proletar tujuh turunan, Rudi N. tidak perlu banyak gaya memimpikan merebut alat produksi. Menjadi terampil untuk bisa mengisi kelas tengah jelas sukses paling mentok.

Sial, kelakuannya di ayunan ketahuan kumpulan adik kelas yang melintas. Tampaknya mereka punya agenda di SD di belakang Taman kanak-kanak, paling program bantu mengajar akibat kurang guru lagi.

“Kak Holden Caulfield, lagi apa?” tanya satu yang paling cantik.

Rudi N. lagi-lagi dinyinyiri begitu. Dia hanya tersenyum kecut lalu pergi berlalu menahan malu. Berkat akun meme, semua orang menyapanya dengan nama si bajingan.

Berhubung enggan berjumpa orang lain lagi, karena kemungkinan disapa seperti itu, Rudi N. tidak ada pilihan selain pulang ke kamar. Segera dia tatap langit-langit untuk menyesali masa lalu, sadar tidak fokus dengan masa kini, dan mengkhawatirkan masa depan. Tentu lebih dulu disambut keceriaan Momo Sakura dan model Popular.