Biji Qurma di Istiqlal

Ada yang menarik ketika saya dan teman membersihkan area sekitaran Istiqlal 4 November kemarin. Takdirnya, saya dan rekan-rekan dari Daarut Tauhiid memang diamanahkan untuk membersihkan sekitaran area Aksi Damai #BelaQuran.

Karena yang membersihkannya banyak, sekitar 1000 orang, lokasi sekitar Istiqlal ini memang jadi cepat bersih. Saya juga yakin ngga akan banyak sampah karena sudah dibersihkan tim yang lain. Hingga saat temen saya menemukan beberapa biji kurma yang berserakan.

Sambil menyapukan biji kurma, teman saya berceloteh, “Eh, siapa yang mau nanem kurma disini nih.. :D”. Sambil tertawa ringan.

“Haha..”, timpal saya.

“Eh,itu masih ada kang”, sambil saya menunjuk ke sampah biji kurma yang lain.

Makin ditelusuri, ternyata memang cukup banyak biji kurma yang berserakan. Mungkin karena bentuknya tidak seperti botol minuman, kotak nasi, atau sampah yang besar lainnya, biji kurma ini jadi tidak terlihat oleh rekan yang lain.

“Wah.. ternyata kalau kita sudah fokus nyari biji kurma, jadi banyak juga ya kang..”, celetuk saya.


Ada hikmah yang saya dapatkan dari kejadian ini. Ternyata apa yang kita lihat, tergantung apa fokus kita.

Ya, begitupun dengan sikap kita kepada saudara kita yang aksi kemarin. Kita yang menentukan apa yang ingin kita lihat dari saudara-saudara kita yang telah berjuang kemarin.

Jika kita ingin melihat kebaikan saudara kita, pasti ada. Pun kalau kita mencari “biji” kesalahan saudara kita, pasti ketemu juga. Ya wong mereka bukan malaikat koq. Silahkan.

Kalau saya sih, ikut ke nasehat guru saya,

“Carilah 1001 alasan untuk berprasangka baik kepada saudaramu.” — Aa Gym.

Semoga setiap prasangka baik saya kepada saudara-saudara saya dicatat sebagai kebaikan. Amin..