JIKA KAMI BERSAMA NYALAKAN TANDA BAHAYA

picture by OPPO

Ajang berkumpul adalah sesuatu yang langka bagi kami para Alumnus SM3T Jilid 3 penempatan kabupaten Raja Ampat. Bagaimana tidak, pasca PPG kami semua menyebar dengan kesibukan masing-masing. Apa lagi di antara kami sudah ada yang berstatus sebagai penerima gaji tetap bulanan dari Pemerintah dan mereka berdomisili di luar jangkauan untuk bisa berkumpul minimal sekali sebulan. Sehingga tak ada waktu yang pakem untuk bisa kami beri tanda sebagai moment yang tepat untuk berkumpul.

Tapi hari ini semuanya terasa beda. Setelah komunikasi yang alot dan melibatkan bujuk rayu yang apik. Akhirnya beberapa di antara kami bisa meet up dan terus menumbuhkan kebiasaan yang ada setiap ajang berkumpul, bakucalla.

Salah satu Ayahanda dari personil Raja Ampat tengah berada dikondisi yang kurang baik sehingga mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Nah, karena ikatan persaudaraan yang sudah begitu kental, maka kepekaan terhadap kesusahan terhadap salah satu teman membuat kami urunan untuk menjenguk beliau. Dipatoklah hari minggu kemarin sebagai waktu yang pas untuk ke rumah sakit Wahidin yang masih berada satu lokasi dengan kampus UNHAS.

Rumah Uni yang terletak di daerah Antang menjadi titik berkumpul. Fika, Megah, Ceceng, dan Arman sudah siap sejak sejam yang lalu. Sementara saya agak telat karena ada sedikit urusan yang mesti diselesaikan. Setelah ashar saya baru bisa bergabung. Pukul 4 lebih motor dipacu membelah jalanan Antang-Tallo-Urip-Perintis Kemerdekaan.

Pada hari minggu seperti ini kota Makassar agak sedikit bersahabat. Jalanan yang biasanya begitu padat, kali ini agak sedikit lengang. Sehingga tak terlalu memakan waktu yang banyak untuk mencapai parkiran rumah sakit Wahidin.

Karena masih harus menunggu kepala suku dan wakilnya (Akmal dan Maskur), kami menjadikan area parkiran sebagai arena selfie yang menurut saya sebenarnya tidaklah terlalu penting tapi kami butuh. Ini sebagai bukti autentik dan pemantik keirian teman-teman lain yang tak sempat bergabung. 
20 menit berselang Maskur, Akmal dan Upi datang. Kami seperti gerombolan pemburu cakar pasar cidu’ yang grasak-grusuk. Mulut seperti tak ada rem untuk berhenti bicara.

Suara sudah sedikit meredah ketika memasuki kamar 12 di lontara 2. 4 Pasien tengah terbaring lemah. Salah satunya pasien yang kami kunjungi. Ciwank sedikit menjelaskan kronologis penyakit bapaknya. 
Selepas magrib tempat mengobrol bergeser ke depan pintu masuk. Di sana jauh lebih nyaman dan tidak mengganggu para pasien yang sudah memasuki fase untuk makan malam.

Berpindah tempat berarti volume suara ikut bergeser. Semakin keras dan obrolan semakin mengarah kekirian. Puncaknya kami ditegur oleh salah satu penjaga pasien yang merasa terganggu oleh suara kami.

Hujan sudah mengguyur rumah sakit dengan intensitas yang begitu deras. Dingin-dingin seperti ini cocoknya makan makanan yang berat.

Nah, di moment seperti ini selalu saja ada penyelamat. Narti “Oppo”’ yang secara kebetulan tengah menjalani masa prajabatan di kota Makassar ingin mendermakan sedikit rejekinya kepada kami. Titik temu sudah ditentukan di warung makan di depan Mtos. Rasa lapar akan selalu membuat manusia sedikit memberontak. Tapi untungnya kali ini kami hanya memberontak pada hujan yang tak kunjung redah dengan menerobosnya.

Terobos saja hujannya
Biar basah sekalian
Basah mami’

Di warung, Oppo sudah menyelesaikan makannya. Dia ditemani oleh dua teman perempuannya yang juga sedang mengikuti prajabatan. Tanpa Maskur yang mengomandoi mungkin acara makan-makan akan sedikit terlambat karena kami terlalu sibuk bakucalla.

Teman-teman Raja Ampat seperti rumah kedua bagiku. Selalu tak ada batasan untuk bercerita di dalamnya. Karena kami tahu hanya dengan begitu cara kami untuk melepaskan sekat kecanggungan.

Makassar 11 April 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rahmat Suardi’s story.