LEBARAN DAN SILATURAHMI KEMATIAN

Lebaran bukan hanya tentang hari kemenangan setelah sebulan penuh belajar di bulan Pendidikan Akhlak. Bukan juga tentang memperdebatkan mana yang lebik maknyos antara Konro dan Coto. Atau tentang memaaf-maafkan antar tetangga, teman, dan keluarga. Tapi lebaran (juga) adalah momen mengingat dan silaturahmi pada kematian.
Saya lahir di sebuah desa kecil yang sederhana (tapi kini wajahnya telah molek karena perbuatan zaman yang terus berkembang) bernama Tanete, kabupaten Bulukumba. Meski pada akhirnya saya harus pindah dan bertumbuh dewasa di kabupaten tetangga, Bantaeng. Jadi bagi saya Bantaeng dan Bulukumba adalah bagian dari hidup yang tak pernah terpisahkan. Selain Makassar yang tentu saja memberi kesempatan saya jauh lebih mengenal bagaimana berengseknya hidup sebenarnya.
Bicara lebaran tak pernah lepas dari bulan ramadhan yang selalu menjadi pembukanya. Di kedua momen tersebut selalu terselip sebuah ritual yang saban tahun selalu menjadi agenda wajib. Ziarah kubur. Di Bantaeng ziarah kubur sering dilakukan sebelum memasuki bulan puasa. Bisa sehari atau dua hari sebelumnya. Sementara di Bulukumba, rutinitas ini dijalankan pasca salat Ied. Menjadi bagian dari kedua kabupaten tersebut membuat saya harus melakukan ritual ziarah kubur sebelum dan setelah ramadhan.
Nenek & Kakek dari Bapak saya dikebumikan di salah satu pemakaman yang ada di Bantaeng. Sehingga saya sekeluarga biasanya berkunjung ke makam mereka sehari sebelum memasuki ramadhan. Disusul oleh sepupu-sepupu lain yang juga menjalankan kebisaan ini.
Sebulan kemudian, giliran makam keluarga yang berada di Tanete yang saya dan keluarga dari Ibu kunjungi. Di pekuburan ini tersebar beberapa kuburan yang menjadi tempat tidur terakhir dari Kakek, Nenek, Oom, Sepupu, Kakak, dan Ibu.
Di pemakaman selalu saja memberikan pelajaran penting tentang kehidupan. Bahwa setiap individu di dunia akan menuju mati. Seberapa hebat, kaya, tampan/cantik, kuat pun ia. Sesuatu yang sudah menjadi hak milik kehidupan. Mati. Cepat atau lambat.

Ini makam dari nenek kami, Hj. Humrah Binti Abdullah. Beliau wafat pada 31 Agustus 1998. Banyak kenangan yang saya lewati bersamanya. Beliau yang mengajari saya bahwa makan pette’ itu sangat enak dan menyehatkan. Beliau juga yang sering melindungi saya, jika mendapat marah dari Ibu.

Berikutnya adalah makam dari paman saya. A. Muh. Asdar Bin Kr. Tebba, beliau wafat pada 4 Mei 2010. Kami, keponakannya, memanggil beliau dengan sebutan Ta’ Sedda dan beberapa cucunya memanggil beliau dengan Ta’ Poppo. Panggilan itu lahir karena kebiasaan beliau mengiming-imingi garoppo/ oppo/ kerupuk/ cemilin chiki-chiki pada cucunya agar mau digendong dan dicium dengan sapuan bulu kumis yang geli katanya.
“Oppo nak, Oppo.” Begitu caranya. Saya masih ingat jelas ketika semua cucu-cucunya berkumpul dan dipanggil dengan janji Oppo setelahnya.

A. Lydia Dahlina Binti Dahlan, wafat pada 21 April 2005. Kami sering memanggilnya Kk Kiki. Perempuan berkacamata ini, yang menurut persepektif saya, adalah sepupu tercantik diantara banyaknya sepupu perempuan yang ada. Putih, ramah, terkadang kocak, dan suka baca. Satu hal yang saya ingat darinya. Beberapa tahun sebelum meninggal (saya lupa waktu tepatnya), yang pada waktu itu lagi booming-boomingnya kaset pita dengan walkman sebagai alat pemutarnya. Saya yang pada waktu masih berstatus siswa SD dengan santainya meminjam walkman itu. Ia pun dengan senyum yang manis menyerahkan benda keren itu ke tangan saya. Karena jiwa saya yang masih penasaran dengan hal-hal yang baru. Entah dengan cara apa saya merusaknya. Tapi Kk Kiki tidak murka. Karena berhasil ia perbaiki kembali. Maaf ya.

Ini adalah makam dari kakek kami, Kr. Tebba. Karena nisannya yang sudah tidak terbaca lagi. Sehingga saya tak tahu kapan beliau wafat. Yang pastinya, ia meninggal jauh sebelum saya lahir.

Sukmawati, nama jenazah yang terbaring di dalam kuburan ini. Ia adalah Kakak saya. Saya tak pernah melihatnya secara langsung. Saya mengenal wajahnya lewat satu-satunya foto kenangan yang terpajang di salah satu sudut rumah kami di Bantaeng. Saya lahir 7 tahun setelah ia meninggal. Mungkin saja jika ia tak wafat, saya tak pernah lahir. Kata Ibu, saya adalah anak yang diminta-minta. Karena butuh waktu 7 tahun barulah saya lahir.

Ini adalah makam terbaru di antara kuburan di atas. Ini makam Ibu saya, Hj. A. Mudayati Binti Kr. Tebba. Beliau wafat pada 15 Desember 2014 di usia 53 tahun. Penyakit kanker payudara yang pada akhirnya menjadi penyebab kematiannya. Tentu saja jika urusan takdir dari yang Maha Kuasa dikesampingkan. Perempuan yang tangguh. Mengajarkan saya banyak hal. Tentang kehidupan, agama, dan bagiamana menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Perempuan yang pergi sebelum saya bisa membuat menangis bangga. Terima kasih untuk 25 tahun yang hebat bersamamu.
Kuburan selalu mengingatkan kita pada satu yang pasti, Kematian. Di sana kita akan kembali. Menghadap Tuhan dan mempertanggung jawabkan apa yang telah kita perbuat selama masa hidup.
Tanete, 9 Juli 2016