MENJADI BODOH DENGAN BUKU

Saya mengkategorikan manusia itu dalam dua golongan; Pintar dan Bodoh. Ini murni dari perspektif saya sendiri. Ini hasil rampungan pengamatan saya di berbagai artikel yang bersiliweran di dunia maya. Serta beragam quotes dari para pakar pemikir. Dan termutakhir dari Om Golden Ways, Mario Teguh. Blio mengatakan dengan khidmat; Bagaimana kamu bisa lulus, kalau kamu pegang HP lebih lama daripada pegang buku? Mungkin ini untuk menyindir mereka para pelajar. Tapi menurut saya itu mewakili semua pihak yang memang lebih fasih stalking akun mantan daripada membaca buku.
- Manusia Pintar
Inilah manusia yang menurut saya adalah tipe sombong paling akut di dunia. Pasalnya sudah merasa diri paling pintar sejagat. Jadi tak perlu lagi menjadikan buku sebagai partner hidup melebihi kekasih hati. Agunan bagi kaum pintar ini adalah semua hal sudah tersedia pada layanan tanya-jawab via google. Sehingga apapun yang mereka ingin tahu tinggal bertanya saja pada ensiklopedia modern ini. Nah, yang menjadi defleksi dari mesin pencari itu adalah tak semua hal yang disampaikan akurat dan tak semua ada di sana. Jadi tingkat kepercayaan manusia pintar ini pada Google melebihi ke-Tauhid-annya pada sang Pencipta.
Manusia jenis ini dapat kita temui di berbagai tempat. Misalnya pinggir jalan. Terkadang mereka berkumpul dengan teman sebaya sambil memainkan alat musik (biasanya gitar). Sesekali menggoda perempuan manis yang sedang melintas. Atau kaum yang hobi tawaf di tempat perbelanjaan. Menghidupi keinginan mereka dan melewati toko buku. Padahal, menurut saya, itu adalah tempat terbaik yang ada di pusat perbelanjaan kota-kota besar. Dan ditutup dengan nongkrong. Di sebuah akun media seseorang, saya pernah membaca definisi dari kata nongkrong; sitting, chatting, and doing nothing. Intinya buang-buang waktu.
2. Manusia Bodoh
Bagi saya manusia bodoh adalah makhluk paling beruntung di dunia ini. Pasalnya, semakin dia merasa bodoh semakin dia selalu mencari tahu apa yang tidak diketahuinya. Salah satunya dengan cara banyak membaca. Menjadikan membaca sebagai rutinitas harian (selain tidur, makan, dan buang air besar tentu saja). Di salah satu sudut perpustakaan KataKerja di kota Makassar terpampang quote seperti ini If you feel you’re stupid, read books. If you think you’re smart, read more books. Semakin banyak kita membaca semakin merasa bodohlah kita. Karena hanya orang bodohlah yang merasa harus banyak belajar. Sementara orang pintar melakukan sebaliknya.
Gus Dur, Bj. Habibie, SBY, Ahmad Fuadi, para Professor dan masih banyak lagi yang tak bisa saya mention satu-satu adalah sekumpulan orang bodoh. Kebiasaan buruk mereka sedari kecil adalah penasaran. Sehingga untuk mengatasi permasalahan itu mereka mencari tahu jawabannya dengan cara banyak membaca. Kebiasaan itu tak pernah berhenti hingga mereka dikenal dunia. Mereka terus membaca karena setiap buku yang selesai terbaca, mereka beranggapan masih terlalu bodoh. Karena ada hal baru yang telah dipelajarinya dari buku bacaan itu. Maka di kepala mereka tersimpulkan masih banyak hal lain yang belum diketahui. Dan salah satu cara untuk mengungkap misteri itu dengan terus membaca tanpa henti.
Di buku Satu Hati Untuk Gus Dur menceritakan perjalanan singkat seorang Gus Dur dari lahir hingga beliau wafat. Di buku itu pula memberitahukan bahwa Gus Dur sudah mengalami gangguan penglihatan sejak usia muda sehingga memerlukan kacamata sebagai alat bantu. Itu semua terjadi akibat “kebiasaan buruknya” yang membaca buku tak mengenal waktu. Sampai-sampai di beberapa kesempatan ibu Gus Dur melarang beliau untuk membaca.
Nah, sekarang adalah pilihan kita. Mau menjadi orang PINTAR atau BODOH.
Maros, 4 April 2016