PATAH HATI YANG SEHARUSNYA TIDAK PERLU

Sebab patah hati adalah jatuh cinta yang berlebihan.
Sering kali masa lalu itu menyebalkan. Apa lagi jika berhubungan dengan masalah perasaan. Di sana akan berkecamuk amarah, kebencian, dan hal-hal yang tak bisa lagi dibungkam kata. Hanya ada dua cara untuk berdamai dengannya. Melupakan atau membiarkannya terapung di dalam pikiran hingga menjadikannya suatu kebiasaan.
Mungkin mantan atau odo’-odo’ ta’ yang membuat jam tidur terampas saban malam. Tak ada habisnya meneror hingga adzan subuh datang. Menjengkelkan sekali bukan. Saya paham. Saya pernah terjebak di situasi brengsek macam itu. Tapi akhirnya keterbiasaan membuat saya paham, manusia selalu berpasangan dengan masa lalu. Terlepas itu buruk dan baik.
Jika kau pernah merasakan bagaimana rasanya disayang setengah mati. Ditelpon setiap jam. Keinginan dipenuhi seberapa sulit pun. Dibelai dengan kata sayang uncountable setiap hari. Berarti kamu termasuk manusia kategori paling khusyuk ketika mengalami patah hati. Coba bayangkan, ketika lagi klimaks sayang-sayangnya. Dia pergi meninggalkan 1000 cerita yang sulit untuk tak dikenang. Karena cinta memang selalu begitu. Ada manis, ada pahit. Tak seperti kopi yang jujur kalau ia akan selalu pahit.
Patah hati sebenarnya adalah sebuah pelajaran yang tak dicantumkan di kurikulum mana pun. Ia sering kali bertransformasi di tubuh seseorang yang memiliki rasa fanatik berlebih pada lawan jenis. Sekali lagi tulisan ini dominan masalah perasaan antara laki-laki dan perempuan. Kesimpulan perihal di luar itu menjadi konsumsi pribadi. Tak perlu didebatkan. Patah hati tercipta karena tak adanya umpan balik. Anak muda mengatakannya cinta bertepuk sebelah tangan. Cinta tak berbalas. Cinta yang tak dianggap. Cinta karbitan. Apapun penamaannya. Ia hanyalah kata lain dari patah hati.
Patah hati seharusnya tak perlu kamu hindari. Karena ia selalu ada tatkala kamu memutuskan untuk jatuh cinta.