PEREMPUAN DENGAN TINGKAH YANG GANJIL

via tumblr

Akan aku jelaskan titik masalah yang membuat kita sedikit berselisih paham. Aku menyimpulkan lain. Kau merangkumnya dengan cara berpikir yang berbeda. Aku ingin setiap kekeliruan yang tercipta menjadi jelas. Sehingga benci yang kau cipta bisa terhapus. Dan pada akhirnya kita bisa saling melupakan tanpa harus menaruh dendam.

Caramu menjalani hubungan yang telah kita sepakati membuatku sedikit merasa ganjil. Aku kekasih yang sudah kau iyakan ketika beberapa bulan lalu aku memintamu untuk menjadi bagian dari ceritaku sekarang ataupun nanti -meski akhirnya kita harus menyudahi semua yang sedikitpun tak aku pahami kenapa bisa seperti itu.

Ada yang terasa ganjil. Ketika aku sedang asyik dengan film 500 days of Summer, aku teringat sebuah janji pertemuan malam ini selepas pukul 8 dan tak bisa melebih 8.17. Bergegas aku menuju ke tempat pertemuan. Bertemu dengannya adalah sesuatu yang mahal bagiku. Karena aku butuh waktu satu minggu mengikat janji hanya demi satu pertemuan.

Entah dengan cara seperti apa aku benar-benar jatuh cinta. Mau aku akui atau tidak, dia benar-benar mampu menarikku ke dalam dunianya. Meski banyak yang rumit. Aku tetap saja menikmati kerumitan itu. Cinta selalu memberikan perihal ganjil bagi siapa saja yang senang berada di dalamnya.

“Pertemuan. Aku butuh pertemuan.” Katanya seraya menghindari kontak mata denganku. Wajahnya tetap teduh. Membikin aku hilang waras.

“Kita sudah berhadapan. Pertemuan seperti apa lagi yang kau harap.” Aku menanggapi.

“Bukan denganmu. Tapi orang lain yang ingin aku temui.”

“Perjelas. Jangan berputar-putar.”Pintaku.

“Besok seseorang akan datang menemuiku. Kawan baik Tira. Sekedar bertemu dan itikad baik ingin aku bangun dengannya. Menghargai maksudku.”

“Laki-laki atau perempuan?” Tanyaku.

“Laki-laki.” Jawabnya begitu polos.

“Tidak boleh!” Aku menegasinya.

“Kenapa? Kami kan hanya bertemu dan tak lebih.” Belanya.

“Tadi kau mengatakan tentang menghargai. Orang lain kau perlakukan seperti itu. Terus posisiku tidak. Menurutku kau keterlaluan.”

Dia diam. Menunduk. Entah berpikir apa.

“Tapi hanya sebentar saja. Kau boleh ikut.”

“Kau bertemu dengannya, kita selesai.” Aku mengunci pembicaraan ini.

Tak ada kata dan aksi yang bisa dia tunjukkan setelah pernyataan terakhirku itu.

###

Pembicaraan seperti itu terulang hingga dua kali. Aku sungguh bingung dibuatnya. Dia polos atau apa, entahlah. Sampai sekarang pun jawaban tak pernah aku temukan. Dan yang semakin aku sulit mengerti, aku selalu saja memberikan maaf dan kesempatan kepada dia untuk merubah yang ganjil menjadi normal di mataku.

Semakin ke sini semakin membuatku tak bisa melepas ikatan itu. Entah pengaruh apa aku bisa larut sedalam ini. Bermacam-macam tingkah yang dia lakukan membuatku selalu saja tolerir. Aku berpikir kewarasan apa yang aku punya. Atau memang sudah tak ada lagi.

Namun pada akhirnya. Ketidakpeduliannya pun yang membuat logikaku berbicara. Ada yang tak beres denganku. Aku harus keluar dari perangkap perasaan ini. Aku tak boleh terjebak lama. Karena dengannya aku baru menyadari tak semua mulut bisa aku percayai. Semua harus selesai. Terluka ataupun tidak, aku mesti berhenti mencintainya.

Terlepas darinya membuatku seperti Tom Hanses di film 500 days of Summer. Menjadi orang yang seperti kehilangan tujuan hidup. Hal-hal yang mesti menjadi tujuan hidupku terabaikan. Cita-cita yang begitu agung serasa runtuh seketika. Aku menjadi manusia yang pandai mencintai namun begitu bodoh melupakan.

Tapi tak usah kau khawatir. Pada masa-masa itu aku hanya banyak berpikir dan melawan apa yang menjadi saling tolak menolak antara perasaan dan logika. Ada hal yang mesti aku enyahkan. Aku mesti berdiri dan bangkit memburu apa-apa yang telah aku tuliskan di kolom mimpi. Aku anggap kau hanyalah batu kecil yang sempat membuat kaki tertusuk dan berdarah. Sehingga aku butuh waktu sejenak untuk merawat. Ketika semuanya menjadi normal. Aku akan berlari kencang dan mengenyahkan kau dari cerita.

Aku pergi bukan karena perasaan yang telah habis, tapi aku beranjak karena ada hal yang tak bisa kita satukan. Masa depan.

Makassar, 22 Februari 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rahmat Suardi’s story.