PUISI YANG ADA NAMAMU

Cara mencintai yang aman adalah dengan diam-diam

Tak perlu banyak bicara

Cukup memberi pandang dari sudut yang tak mudah terbaca

Jatuh cinta serupa membeli kue berlapis gula halus

Manis

Pagi tampak senang untuk bergerak

Mengkuti jalanmu yang penuh perhitungan

Aku terasa janggal

Apa kau tahu aku sedang mengamatimu?

Senja selalu paham apa yang dibutuhkan oleh seorang pekerja keras

Tidur yang nyaman dan subuh yang tak begitu dingin

Aku ingin menjadi tangkai dari bunga yang kau genggam

Merasa terlindungi dan begitu utuh di dekatmu

Aku tak pandai berbicara dengan bahasa indah

Sehingga pertanyaan-pertanyaan hanya bisa kusiratkan pada sebatang puisi yang aku kirim setiap menjelang sore

Aku berharap kau membacanya ketika rambutmu basah

Kau begitu manis setelah mandi

Pada masa yang entah di waktu mana

Kau akan menemukanku sedang duduk di suatu kedai kopi

Menuliskan puisi yang judulnya adalah namamu

Aku tertunduk malu

Terima kasih untuk senyum yang kau berikan tanpa sengaja

Sering aku menangkapnya

Dan menyimpannya di dalam toples

Agar setiap kali rindu

Aku hanya cukup memandangnya saja

Makassar, 22 Februari 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rahmat Suardi’s story.