TUTUP MATAMU, AKU MAU LEWAT

Parade kesedihan adalah panggung sandiwara yang dimainkan penuh kemeriahan
Bahkan langit tak bisa menduga peran-peran apa yang akan dihidangkan
Aku tahu kau sedang berpura-pura tak melihatku
Seakan-akan aku adalah polisi yang hendak menilap uang di saku bajumu
Tenang saja,
Kau hanya perlu menutup mata dan bermain peranmu sendiri
Tak perlu kau berlari dan mencari tembok untuk menyembunyikan tubuhmu
Hanya sebentar saja
Setelah itu kau boleh terbahak-bahak lagi bersama laki yang kau usap punggung tangannya itu

Kursi-kursi –beberapa telah kosong- sedang menunggu untuk ditinggalkan
Terlalu lama mereka mendengar percakapan aneh dari mulut-mulut palsu
Gelas-gelas hanya tersisa ampas-ampas kopi yang mulai bosan
Dentang jam menunjuk di tengah malam
Rasa kantuk pelayan di ujung sana tak bisa disembunyikan lagi
Tempat ini akan segera dipaksakan untuk ditutup

Biarkan aku lewat
Aku tak akan mencatatnya di buku kenangan
Kerjaanku sudah cukup banyak pada pagi hingga petang
Tak sempat aku untuk bertutur lagi lewat apa yang kau sebut ruang ilusi
Biarkan aku lewat 
Itu saja

Aku sudah cukup berdamai pada apa-apa yang aku sebut masa lalu
Ibu cukup lihai mengajariku untuk tidak hidup di dunia yang telah lewat
Meski bahagia ada di sana
Selesai, semuanya benar-benar khatam jika memang itu adalah waktu yang tak mungkin bisa kita ulang lagi

Biarkan aku lewat, tutup matamu saja
Dengan begitu kau tak perlu mengingat-ingat lagi
Entah kenangan atau apapun itu

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.