Kembali ke Kota Hujan
Kamis malam tanggal 30 Agustus saya kembali ke kampung halaman yang bisa dibilang merupakan tetangga dari kotanya orang Bandung, Kota Bogor. Saya berangkat bersama teman saya yang juga satu SMA dan kini satu fakultas dengan saya. Kami berangkat sekitar pukul 19.44. Ini pengalaman pertama saya naik kereta dalam jarak yang cukup jauh. Di kereta sebetulnya kami duduk terpisah, tapi tempat duduk sebelah teman saya kosong dan saya pun pindah tempat duduk ke sana. Dalam perjalanan yang kurang lebih menghabiskan waktu 3 jam 34 menit kami mengisinya dengan dengan hal yang bermanfaat yakni mengerjakan tugas kimia dari dosen kami, Ibu Lubna. Sesampainya di Jatinegara, kami dijemput oleh Ibu saya. Raut sumringah dan bahagia sangat nampak di wajahnya ketika melihat anaknya pulang. Memang kasih sayang Ibu tiada duanya. Karena sudah malam kami segera pulang ke Bogor. Dalam perjalannya, saya dan teman saya terlelap sampai di rumah. Sesampainya di rumah saya bertemu Kakak saya yang juga bertingkah bahagia melihat adiknya pulang. Tapi ada yang kurang saat itu, ayah saya sedang kuliah di Malaysia, jadi saya tidak sempat bertemu dengannya. Esok harinya saya dan teman saya berangkat ke sekolah kami, SMAN 1 Bogor. Sekolah yang kami (siswanya) sebut sebagai sekolah kehidupan. Tidak banyak yang berubah saat kami melintasi jalan di Kota Hujan ini, penuh dengan angkot, jauh lebih hangat dibandingkan Bandung, dan suasananya yang tetap bersahabat. Sampai di sekolah kami bernostalgia, teringat kurang lebih 3 tahun yang lalu kami sangat bangga bisa masuk sekolah kebanggaan Kota Hujan, terpukau melihat kakak kelas memakai batik sekolah saat kami PPLS, merasakan guru-guru yang luar biasa, terlebih soal-soalnya, sampai kantin tempat dulu makan bareng teman kelas. Bersalaman dengan guru-guru, bercerita tentang perasaan awal di kampus dengan guru-guru dan adik kelas membuat saya merasa sekolah ini memang sekolah kehidupan. Kemudian saya segera melakukan tujuan utama, cap 3 jari dan mengambil ijazah serta SHUN. Setelah shalat jumat dan menyerahkan fotokopian ijazah dan SHUN ke sekolah saya segera pulang ke rumah. Sampai di rumah, saya dan Ibu saya berkunjung ke rumah Nenek dan Kakek saya yang tidak jauh dari rumah. Mereka terlihat sangat bahagia melihat cucunya berkunjung, terlebih Kakek yang sudah terkena stroke sebelumnya, Ia banyak tertawa ketika melihat cucunya datang. Selesai berkunjung, saya pulang ke rumah. Ngobrol sebentar dengan Ibu, lalu kemudian ambis kembali tugas kimia dari Bu Lubna. Tak terasa esoknya saya pulang. Waktu terasa sangat singkat. Pukul 14.30 saya berangkat dari rumah ke Stasiun. Saya menuju Stasiun Gambir, tetapi harus turun di Stasiun Juanda kemudian naik bajaj menuju Stasiun Gambir. Saat itulah saya pertama kali melihat Masjid Istiqlal secara langsung dari luar. Sesampainya di Stasiun Gambir saya pamit dengan Ibu saya dan naik kereta yang sudah datang. Selama di kereta saya mengisi waktu dengan menonton film 3 Idiots yang saya maksudkan untuk menyegarkan kembali otak dan memotivasi diri saya. Setelah 3 jam 34 menit sampai lah saya di Kota Bandung, perjuangan kembali dimulai. Tugas-tugas unit pun sudah menunggu. Sekian. Muhammad Raihan Aziz-16418105 #OsjurPersma2018
