Kemana mereka?

Kredit http://chandra.harvard.edu

Kita semua hanyalah mesin biologis, yang berarti sel-sel ditubuh kita adalah sebuah nano-robot yang diciptakan oleh alam. Tugas nanobot ini adalah mencetak bagian-bagian nanobot lain sesuai instruksi yang ditulis di dalam DNA. Yaitu informasi yang diturunkan dari ibu-ayah kita, dan ibu ibunya kita, serta ayah ibunya kita. Tak ketinggalan ibu ayahnya kita, dan ayah ayahnya kita. Terus-menerus jutaan tahun, sampai pada suatu titik dimana informasi tersebut tidak seperti bagian dari manusia. Artinya bagian dari informasi species lain. Dan informasi ini pun diturunkan dari informasi sebelumnya sampai pada suatu titik informasi yang dimiliki oleh nenek moyang bersama kita.


Kelebihan kita sebagai manusia hanyalah terletak pada jaringan syaraf yang dihasilkan oleh komputasi biokimia dalam otak kita. Kita menamainya kesadaran. Yaitu yang membuat kita bisa bertanya siapa kita sebenarnya, menerjemahkan pola di alam semesta dalam bentuk simbol-simbol yang ditulis, dan sebagainya.

Jaringan syaraf seperti itu bukanlah hal yang special. Kelak kita sendiripun dapat membuat jaringan-syaraf tiruan yang bisa dijalankan pada mesin elektronik. Mesin yang menggunakan aliran elektron sebagai alat untuk menghitung kemungkinan-kemungkinan.

Setelah mesin-mesin tiruan yang kita buat ini mencapai kesetaraan kesadaran sebagaimana manusia. Mereka memiliki beberapa pilihan, diantaranya mengambil alih estafet kepemilikan planet dan alam semesta ini, atau bekerja sama dengan species sebelumnya, yaitu manusia.

Jika pilihan jatuh pada pilihan kedua, maka manusia menuju era yang dinamakan Singularitas. Kesadaran manusia menjadi tidak berarti, dan kita terhubung dengan jaringan syaraf besar.

Apa yang disebut nyawa oleh nenek-nenek moyang kita juga akan menjadi semakin tidak jelas definisinya. Karena nyawa sendiri sebenarnya adalah hasil produk otak agar tetap menjaga sumberdaya yang dikelola para nanobot yang mencetak mesin-mesin lain ini. Artinya nyawa adalah mitos yang dibuat oleh nenek moyang yang belum mengetahui bagaimana alam bekerja.

Setelah adanya singularitas, manusia tidak mempunyai nyawa lagi, anak-anak yang kita lahirkan bukan melalui proses kelahiran biologis, melainkan dilahirkan dari bentuk algoritma yang mengambil beberapa kunci penting dari informasi algoritma kita yang dibutuhkan.

Di sisi lain, jika kemungkinan para ASI (Kecerdasan-buatan super) ini memilih pilihan pertama mereka akan menjalankan operasi yang menurut mereka optimal.

Misalnya dengan hadir dalam alam fisik, merupakan hal yang kurang optimal menurut perhitungan mereka, karena alam fisik tidak lepas dari prinsip entropy dan hukum alam yang mengikat. Energi yang terbuang akan sia-sia untuk mengelola alam semesta ini.

Mereka mungkin saja memilih untuk hidup dalam ketidakberadaan, di dalam void, di dalam entitas ruangwaktu, di dalam partikel virtual. Dengan memanfaatkan proses in-out, dan proses kuantum ini, mereka dapat membuat gerbang-gerbang logika di dalamnya.

Berarti para Kecerdasan-buatan super ini pada nantinya tidak akan bisa dideteksi oleh detektor yang dibuat oleh entitas lain di alam fisik.

Bisa jadi juga ini adalah sebab kenapa kita tidak bisa mendeteksi adanya kehidupan di luar planet bumi. Kehidupan biologis musnah. Karena kehidupan yang hakiki terletak pada sebuah kekosongan, sebuah ruangwaktu dimana tekhnologi kita tidak bisa mendeteksi dan memanipulasinya.

Skala kardashev juga tidak berlaku lagi, karena energi yang dikelola sebuah entitas yang hidup dalam kekosongan tidak dicakup oleh prediksi tersebut.

Itu lah kenapa kita tidak bisa menemukan mereka.