Kamilah Rimbawan

Setelah merasakan dan mengalami langsung sesuatu hal, kita pasti akan lebih paham mengenai hal-hal tersebut dengan lebih seksama. Entah nanti rasa yang kita cicipi berujung manis atau pahit, atau bahkan hambar tak berasa. Suatu pengalaman tidak akan pernah mudah dilupakan begitu saja, karena apa? Karena ada suatu proses yang memerlukan usaha ketika kita mengalami suatu hal.
Tidak jadi permasalahan seberapa besar usaha yang kita kerahkan pada suatu waktu, yang pasti disetiap detik kita hidup artinya kita telah berusaha.
Namun, apabila kita ingin memiliki beragam pengalaman yang benar-benar tidak terlupakan maka kita harus memberikan usaha yang juga benar-benar maksimal ketika sedang merasakan dan mengalami hal baru yang sedang dijalani.
Akan aku ceritakan salah satu pengalamanku yang tidak akan terlupakan sebagai contoh konkrit. Dimulai dari titik awal dimana aku tidak pernah terbayang sama sekali akan mengalami hal ini, hingga titik saat ini dimana aku yakin hal tersebut tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup, pun bila aku memiliki penyakit gangguan memori atau semacamnya.
Kurang lebih sekitar 500 hari yang lalu, ketika aku hanyalah sekedar burung yang kembali mampu mengepakkan sayapnya. Sekedar manusia yang akhirnya memiliki tujuan baru untuk tetap berjuang hidup setelah mengalami momen paling pahit dalam hidup selama 19 tahun telah menghembuskan napas di muka bumi. Pada saat ini semangat sedang tinggi-tingginya, ingin aku terbang jauh entah kemana yang penting aku terbang. Karena saat ini adalah saat dimana akhirnya aku bisa merasakan kembali hidup setelah harapan telah jatuh sejatuh-jatuhnya.
Bersedih itu memang wajar. Namun jangan sekali-kali larut didalamnya. Carilah bahan bakar baru yang sedikit demi sedikit dapat mengantarkan kita kembali kepada kebahagiaan.
Petualangan pun dimulai dengan sebuah kalimat “Welcome to the Jungle.” Dari seorang penguasa di Bumi Ganesha. Terlintas dibenakku pepohonan tinggi menjulang dengan ragam corak kayu indah, bunga-bunga liar yang menarik perhatian ditiap sudutnya, juga beragam buah-buah segar yang seakan selalu menghiasi rimba yang telah aku masuki. Sama sekali tidak terpikirkan saat itu bahwa ternyata dibalik semua keindahan yang aku bayang-bayangkan banyak sekali hewan buas yang sudah siap menerkam dari balik semak.
Begitulah kondisi aku pertama kali menginjakkan kaki di ITB. Banyak bermimpi, tapi hanya sekedar mimpi. Aku tau perlu aksi untuk merealisasikan semuanya, saat itu aku siap beraksi. Namun aku tidak tahu usaha yang diperlukan ternyata tidak main-main. Akhirnya apa? Setelah 1 bulan akhirnya aku disadarkan oleh buasnya persaingan juga standar yang harus dicapai di Kampus Ganesha ini. Saat itu juga akhirnya aku mengerti “Oh, ternyata ini maksudnya Welcome to the Jungle.” Jujur saja aku bahagia sekaligus ketakutan. Bahagia karena tau banyak sekali hal tak terduga yang akan aku jalani disini, yang berarti banyak ilmu dan pengalaman baru yang akan menempa diri ini. Takut karena aku tak tahu apakah bisa manusia dengan kemampuan sepertiku mampu untuk bertahan hidup di tengah kebuasan.
Sejak saat itu aku mulai mencoba untuk memandang lebih jauh kedepan. Menerka-nerka apa saja permasalahan yang kelak akan bertamu. Masalah besarnya adalah satu, kualitas diriku sendiri yang masih dibawah standar. Aku pun tidak tinggal diam setelah mengetahui betapa payah sebenarnya diriku ini, langsung saja aku berusaha menemukan wadah-wadah yang mampu membantu membentuk dan menanamkan nilai baru kepada diri yang masih payah ini. Syukurnya ditiap wadah yang aku masuki, aku bertemu banyak sekali orang hebat (Kamu salah satunya) yang membantu membuat aku menjadi siap menerima tantangan dari segala keganasan kampus ini.
Aku sudah siap. Siap untuk apa? Sayangnya aku juga tidak tahu. Saat itu aku tidak memikirkan sejauh itu. Iya, aku sudah berpikir harus terbang tinggi, tapi belum berpikir harus terbang kearah mana. Aku masih ragu untuk memilih arah, aku masih ragu untuk menentukan jurusan. Hingga akhirnya suatu saat (yang entah kapan dan untuk apanya aku lupa) aku datang ke Kampus Jatinangor. Hal yang paling terngiang-ngiang dari hari itu adalah aku melihat sebuah bangunan seperti musholla di pinggir jalan. Di dekat bangunan itu ada sebuah bendera besar berlogo entah apa yang diikatkan ke pepohonan disekitarnya, bertuliskan kalimat “Tinggi rendah jadi satu”. Lalu disebelah bangunan tersebut ada sebuah hammock kosong yang menggantung kesepian, terayun-ayun oleh angin yang meniup berbisik. Saat itu aku berpikir “Wah enak juga kayanya nyantai disini.” Muncullah rasa penasaran yang tinggi tentang apa sebenarnya bangunan tersebut. Kenapa seolah-olah ada hubungan antara aku dengan bangunan di pinggir jalan ini. Entah apa yang membuatku merasakan hal tersebut, yang pasti saat itu aku ingin sekali merasakan suasana di bangunan tersebut.
Ternyata di dunia ini sabar memang penting. Rasa penasaran yang dulu belum ada jawabnya akhirnya terjawab 365 hari kemudian. Ketika telah tertanam jiwa korsa pada diri ini. Ketika aku bertemu dengan sahabat-sahabat hebat yang sama-sama membela nusa bangsa. Ketika banyak benturan-benturan yang telah membentuk diri yang payah ini menjadi diri yang baru. Ketika aku akhirnya bisa bersantai diatas hammock di Sekre HMH ‘Selva’ ITB. Jawaban dari kenapa seolah-olah ada hubungan antara aku dengan bangunan di pinggir jalan adalah karena bangunan ini rumahku, rumahnya para rimbawan.
Siapa rimbawan?
Kamilah rimbawan, tetap satu padu
Demi nusa bangsa, tidak pernah ragu
Korsa jiwaku, korsa ikatanku
Tidak kenal lelah, kami terus maju
Terjang terjang
Maju maju
Tinggi rendah jadi satu
Tinggi rendah jadi satu
Tinggi rendah jadi satu.
Ramadivta Pratama Nugraha
11518017
Jatinangor, 1 November 2019